Pernah nggak, di tengah hari yang rasanya berat—kepala penuh, dada sesak, pikiran ke mana-mana—lalu satu hal kecil bikin kita tertawa? Bisa video receh, obrolan teman, atau ingatan lucu yang tiba-tiba muncul. Aneh rasanya, karena sebentar saja tertawa, beban itu seperti sedikit berkurang.
Pertanyaannya: apakah tertawa benar-benar bisa menyembuhkan? Atau cuma ilusi sesaat supaya kita nggak makin tenggelam?
Apa yang Terjadi di Otak Saat Kita Tertawa?
Dalam psikologi, humor bukan sekadar hiburan. Saat seseorang tertawa, otak melepaskan endorfin, zat kimia alami yang berperan sebagai pereda nyeri dan pemicu rasa nyaman. Pada saat yang sama, kadar kortisol—hormon stres—cenderung menurun.
Artinya, tertawa bukan cuma reaksi emosional, tapi juga proses biologis. Tubuh kita memang "dirancang" untuk merasa lebih ringan setelah tertawa, walau masalahnya belum tentu selesai.
Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa humor dapat membantu individu menghadapi stres dengan cara yang lebih adaptif, terutama ketika humor digunakan untuk memahami situasi sulit, bukan untuk menghindarinya.
Humor sebagai Mekanisme Bertahan Hidup
Dalam psikologi, humor dikenal sebagai salah satu coping mechanism—cara manusia bertahan menghadapi tekanan hidup.
Bukan kebetulan jika banyak orang yang justru makin lucu ketika hidupnya berat.
Humor memberi jarak antara diri kita dan masalah. Dengan tertawa, kita seolah berkata: "Masalah ini menyakitkan, tapi aku masih punya kendali atas caraku merespons."
Menurut Martin (2007) dalam The Psychology of Humor, humor yang sehat membantu seseorang:
Melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas
Mengurangi kecemasan
Memperkuat hubungan sosial
Namun, tidak semua humor bersifat menyembuhkan.
Tertawa yang Menyembuhkan vs Tertawa yang Menutupi
Ada perbedaan besar antara:
Humor adaptif ini membantu memahami dan menerima kenyataan, jadinya seseorang bisa lebih kuat.
Humor defensif ini di mana menertawakan luka agar tidak perlu menghadapinya, hal itu bisa menjadi topeng.
Psikolog menemukan bahwa orang yang terus bercanda untuk menutupi kesedihan sering kali tidak benar-benar memproses emosinya. Mereka terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya menumpuk kelelahan emosional.
Di titik ini, tertawa bukan obat, tapi penunda rasa sakit.
Apakah Tertawa Bisa Menyembuhkan Segalanya?
Jawabannya jujur saja: tidak.
Tertawa tidak menggantikan terapi, tidak menyembuhkan trauma berat, dan tidak otomatis menghilangkan depresi klinis.
Namun, tertawa bisa:
Membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan
Membantu seseorang bertahan satu hari lagi
Menjadi pintu masuk untuk koneksi sosial dan empati
Dalam banyak kasus, itu sudah sangat berarti. Seperti kata peneliti kesehatan Norman Cousins, yang menulis tentang pengalamannya menggunakan humor sebagai pendamping pemulihan:
"Humor bukan pengganti pengobatan, tapi ia memberi tubuh alasan untuk bertahan."
Tertawa bukan solusi ajaib tapi ia juga bukan hal sepele. Dalam psikologi, humor lebih tepat disebut teman perjalanan, bukan obat tunggal. Ia menemani proses penyembuhan, bukan menggantikannya dan mungkin, di dunia yang sering terasa terlalu serius dan melelahkan, kemampuan untuk tertawa—meski sebentar—adalah bentuk keberanian paling manusiawi.
FAI-32
sumber referensi :
Martin, R. A. (2007). The Psychology of Humor: An Integrative Approach. Elsevier Academic Press.
American Psychological Association (APA). Stress Relief Through Laughter.
Cousins, N. (1979). Anatomy of an Illness as Perceived by the Patient.
Kuiper, N. A., & Martin, R. A. (1998). Is Sense of Humor a Positive Personality Characteristic?
Vaillant, G. E. (2000). Adaptive Mental Mechanisms: Their Role in a Positive Psychology.
