Apakah Era Post-Truth Membuat Gen Z Lebih Rentan Secara Mental? -->

Header Menu

Apakah Era Post-Truth Membuat Gen Z Lebih Rentan Secara Mental?

Jurnalkitaplus
09/02/26

Kita hidup di zaman di mana "perasaan lebih penting daripada fakta." Selamat datang di era post-truth(pasca-kebenaran). Istilah ini bukan sekadar tren politik, melainkan lingkungan oksigen yang dihirup oleh Generasi Z setiap harinya.

Bagi Gen Z, informasi tidak datang dalam bentuk koran pagi yang terverifikasi, melainkan algoritma media sosial yang berisik dan sering kali manipulatif. Pertanyaannya: Apakah banjir disinformasi ini benar-benar merusak kesehatan mental mereka?

Secara sederhana, post-truth adalah kondisi di mana opini publik lebih dibentuk oleh emosi dan keyakinan pribadi dibandingkan fakta objektif. Bagi Gen Z, ini menciptakan "Kelelahan Kognitif".

Bayangkan harus membedakan antara berita asli, deepfake bertenaga AI, iklan terselubung, dan opini influencer setiap 15 detik. Otak manusia tidak dirancang untuk memproses tingkat ketidakpastian seintens ini tanpa konsekuensi.

mengapa generasi z paling rentan?

  1. Krisis identitas di tengah filter bubble : Gen Z adalah generasi pertama yang membangun identitas diri secara paralel di dunia nyata dan digital. Algoritma menciptakan filter bubble (gelembung informasi) yang hanya menampilkan apa yang ingin mereka lihat. Ketika fakta yang berbeda muncul, hal ini memicu hal yang membuatnya tidak merasa nyaman bahkan rasa stres mental karena memegang dua kepercayaan yang bertentangan.

  2. fomo dan tekanan standar hidup baru : Dalam dunia post-truth, kebenaran visual sering kali dimanipulasi (filter wajah, gaya hidup mewah hasil sewaan). Gen Z secara bawah sadar membandingkan "kebenaran" hidup mereka yang berantakan dengan "kebohongan" estetis orang lain. Dampaknya? Lonjakan rasa cemas (anxiety) dan rasa tidak berdaya.

  3. kehilangan kompas kepercayaan : Menurut laporan Edelman Trust Barometer, tingkat kepercayaan terhadap institusi tradisional menurun drastis. Ketika Gen Z merasa tidak ada lagi sumber informasi yang bisa dipercaya (termasuk berita dan pemerintah), mereka mengalami nihilisme eksistensial perasaan bahwa "tidak ada yang nyata," yang merupakan akar dari depresi ringan hingga berat.

dampak mental era post-truth 

  1. kelelahan informasi : sulit fokus dan mudah merasa kewalahan atau yang sering disebut overwhelmed 

  2. erosi empati : terjebak dalam polarisasi antara kita dan mereka yang justru memicu kemarahan kronis 

  3. paronoia digital:  ketakutan akan dipantau atau ditipu oleh konten buatan Ai 

  4. Desicion paralysis: kesulitan mengambil keputusan karena terlalu banyak informasi palsu. 

menghadapi badai seperti resiliensi di dunia yang tidak pasti 

Meskipun terdengar suram, Gen Z sebenarnya memiliki alat untuk melawan. Kuncinya bukan lagi sekadar "literasi digital", melainkan "Literasi Emosional".

  1. Skeptisisme Sehat: Mempertanyakan motif di balik sebuah konten, bukan hanya isinya.

  2. Diet Digital: Mengurangi asupan informasi yang memicu kemarahan (doomscrolling).

  3. Ruang Nyata: Memperbanyak interaksi fisik di mana fakta tidak bisa dimanipulasi oleh filter.

Catatan Penting: Era post-truth tidak membuat Gen Z "lemah". Justru, mereka sedang belajar menavigasi medan perang informasi yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Kerentanan mental ini adalah respons alami terhadap dunia yang sedang tidak sinkron dengan kenyataan.

FAI-32 

sumber referensi : 

Oxford Languages

APA (American Psychological Associatio)

McKinsey & Company

Edelman Trust Barometer (2024/2025)

Journal of Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking