JURNALKITAPLUS - Di tengah maraknya ancaman siber seperti malware, ransomware, dan serangan phishing, pendekatan pertahanan siber berlapis kini menjadi kebutuhan mendesak.
Pertahanan siber berlapis, atau layered cybersecurity, adalah strategi yang menggabungkan berbagai alat dan prosedur keamanan untuk menciptakan sistem perlindungan yang kokoh. Pendekatan ini mencakup firewall untuk memblokir akses tidak sah, perangkat lunak antivirus untuk mendeteksi malware, sistem deteksi intrusi untuk memantau aktivitas mencurigakan, hingga autentikasi dua faktor (2FA) untuk mencegah penyalahgunaan akun. Jika satu lapisan keamanan gagal, lapisan lain akan mengambil alih untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Menurut laporan, ancaman siber kini semakin canggih dan sering menggunakan pendekatan multi-vektor. Misalnya, penyerang dapat memulai dengan email phishing untuk mencuri kredensial, lalu memanfaatkan kerentanan perangkat lunak untuk menyusup ke sistem. Tanpa pertahanan berlapis, satu celah kecil bisa berakibat fatal, seperti kebocoran data pelanggan atau kerugian finansial yang signifikan.
Selain teknologi, faktor manusia juga menjadi elemen kunci. Pelatihan rutin bagi karyawan untuk mengenali upaya phishing atau tautan mencurigakan dapat mencegah serangan sebelum mencapai lapisan teknis. Artikel ini juga menyoroti pentingnya pembaruan perangkat lunak secara berkala untuk menutup celah keamanan serta pemantauan ancaman secara real-time untuk respons cepat.
Regulasi global seperti General Data Protection Regulation (GDPR) dan standar keamanan industri juga mendorong perusahaan untuk mengadopsi pendekatan ini. Organisasi yang hanya mengandalkan satu lapisan keamanan, seperti antivirus saja, bagaikan rumah tanpa pagar atau kunci pintu.
Dengan ancaman siber yang terus berevolusi, pertahanan berlapis bukan sekadar opsi, melainkan keharusan. Strategi ini memungkinkan organisasi untuk tetap selangkah di depan penyerang, melindungi data sensitif, dan menjaga kepercayaan pelanggan di era digital yang penuh tantangan. (FG12)