Assalamu'alaikum Sobat Jkpers!
Kembali lagi di bedah film, dari film yang belum atau sudah kamu tonton, namun, belum menemukan apa yang bisa dipelajari dan bekal untuk kita menghadapi kehidupan ini. Ya! Perihal materi kehidupan belum tentu kamu temukan di pelajaran sekolah bahkan kuliah. Tapi, tenang saja! Kini kami hadir untuk meringkas sebuah drama 'Good to be a Dog'
Uniknya dari drama ini adalah karakter utama tidak dibolehkan melakukan hal yang mungkin umum untuk seusianya, dikarenakan nanti karakter tersebut akan berubah menjadi seekor "anjing" lucu kan, tapi tidak hanya comedy atau genre yang diambil dari drama ini, banyak pelajaran yang perlu kamu tahu :
1. Tidak Semua Orang Berani Mengungkap Luka Masa Lalu — Tapi Itu Penting untuk Penyembuhan
Karakter utama, Seo-won, menyimpan trauma masa kecil karena hubungan buruk dengan ayahnya. Ia tampak kuat, tenang, tapi sebenarnya memendam luka yang dalam. Hal ini mempengaruhi keputusannya dalam hidup dan interaksinya dengan orang lain.
Pelajaran untuk kita: Banyak orang hari ini, mungkin termasuk kita sendiri, terlihat baik-baik saja padahal hatinya remuk. Drama ini mengajarkan bahwa mengenali dan berdamai dengan masa lalu adalah proses penting untuk menyembuhkan diri. Tahun ini adalah era yang menormalisasi terapi dan self-healing — dan drama ini seolah mendorong kita untuk ikut berani menghadapinya. "Kamu nggak harus cerita ke semua orang. Tapi kamu harus jujur pada dirimu sendiri."
2. Orang yang Punya "Keanehan" Sering Kali Hanya Butuh Dimengerti
Karakter utama perempuan, Han Hae-na, memiliki kutukan aneh: setiap kali dia mencium seseorang, dia akan berubah jadi anjing. Alih-alih didengar, banyak orang hanya fokus pada "keanehannya."
Pelajaran untuk kita: Banyak orang yang tampak "berbeda" — entah karena gaya hidup, penampilan, pilihan hidup — sering kali dijauhi, dikucilkan, atau dijadikan bahan gosip. Padahal mereka hanya butuh dipahami, bukan dihakimi. Drama ini mengajarkan bahwa memahami orang lain itu jauh lebih bijak daripada menghakimi. "Kadang, orang yang kamu anggap aneh cuma orang yang nggak kamu pahami."
3. Hubungan yang Sehat Dimulai dari Kepercayaan, Bukan Kepemilikan
Hubungan antara Hae-na dan Seo-won perlahan terbangun dari kepercayaan, bukan keterpaksaan. Mereka belajar mengenal satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing, dan memilih tetap tinggal meskipun punya alasan untuk pergi.
Pelajaran untuk kita: Di era sekarang, hubungan sering dinilai dari seberapa sering chat, seberapa peka, atau seberapa cepat jadian. Drama ini justru mengajarkan bahwa relasi yang sehat tumbuh dari ruang untuk memahami, bukan dari kontrol berlebihan. "Kalau kamu percaya, kamu nggak perlu mengunci. Kamu cukup ada."
4. Memaafkan Diri Sendiri Itu Penting, Bahkan Lebih Sulit daripada Memaafkan Orang Lain
Hae-na merasa bersalah karena kutukannya mempengaruhi orang lain. Dia mencoba menanggung semuanya sendiri, bahkan menolak cinta demi menghindari masalah.
Pelajaran untuk kita: Berapa banyak dari kita yang masih menyalahkan diri sendiri karena masa lalu? Drama ini memberi pelajaran bahwa kita bisa berhenti menyalahkan diri dan mulai belajar menerima bahwa kita manusia. Kita bisa gagal, salah, dan berubah. "Kamu bukan kutukan. Kamu cuma belum memaafkan dirimu sendiri."
5. Guru Bukan Hanya Mengajar, Tapi Menyembuhkan — Termasuk Diri Sendiri
Kedua karakter utama adalah guru di sekolah. Lewat peran mereka, kita lihat bahwa guru juga punya masalah pribadi, trauma, dan kehidupan yang rumit.
Pelajaran untuk kita: Drama ini membongkar stigma bahwa guru harus selalu sempurna. Setiap orang — apapun profesinya — punya ruang untuk belajar, tumbuh, dan sembuh. Di era sekarang, semua orang bisa jadi "guru" lewat media sosial, tapi tidak semua orang berani jujur dan vulnerable. Drama ini mengajak kita untuk jujur pada diri, bahkan ketika kita di posisi membimbing orang lain. "Kadang, yang kamu ajarkan ke murid mu adalah hal yang sebenarnya kamu sendiri sedang butuh dengar."
Walaupun drama ini dibalut dunia fantasi, tapi cerita ini mendorong dan menyadarkan kita untuk bisa menerima diri sendiri, membuka hati bahkan mampu menyembuhkan luka. Drama ini juga menunjukkan bahwa setiap orang punya bagian yang ingin disembunyikan, tapi itu bukan alasan untuk tidak dicintai atau mencintai orang lain. "Manusia bukan makhluk yang sempurna, tapi mereka bisa belajar mencintai yang tidak sempurna."
FAI (32)
