Jejak Wewangian yang Terlupakan -->

Header Menu

Jejak Wewangian yang Terlupakan

Jurnalkitaplus
29/11/25



JKP - Di balik kepulan asapnya yang perlahan mengambang, kemenyan menyimpan warisan spiritual yang dalam. Aromanya bukan sekadar harum yang mengisi ruang, tapi getar halus yang menyentuh ketenangan batin. Dalam ajaran-ajaran spiritual, terutama dalam konteks Cakra Mahkota yaitu pusat kesadaran tertinggi dalam tubuh manusia, kemenyan diyakini mampu membuka jalan menuju kedamaian dan keseimbangan jiwa.

 

Sejak zaman lampau, jauh sebelum parfum botolan merajai dunia, kemenyan telah dikenal sebagai persembahan wewangian paling luhur. Ia dibakar bukan hanya untuk menciptakan wangi, tetapi untuk menghubungkan dimensi dunia dan langit. Sifatnya yang mudah menyebar menjadikan kemenyan sebagai pilihan utama dalam berbagai upacara suci, karena wanginya bisa menjangkau lebih luas dan lebih dalam ke ruang-ruang batin manusia.


Dalam tradisi Hindu, Buddha, dan kearifan lokal Nusantara yaitu dari Bali hingga Jawa dan Sunda, membakar wewangian adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Yang Maha Agung. Ia adalah simbol kesucian, niat baik, dan keterhubungan spiritual. Bahkan dalam Islam pun, menggunakan wewangian dan pakaian terbaik saat sholat adalah sunnah yang menjunjung keindahan dan kehormatan di hadapan Tuhan.


Namun, di masa kini, makna kemenyan seolah terdistorsi. Warisan luhur ini sering dipandang miring, dikaitkan dengan hal-hal mistik, klenik, dan dunia perdukunan. Pengetahuan yang dangkal dan narasi keliru yang terus diwariskan menjauhkan kita dari pemahaman yang lebih bijaksana. Padahal, kemenyan bukan untuk memanggil makhluk halus, ia adalah bahasa hening untuk menyapa yang Ilahi.


Ini bukan semata tentang aroma, tapi tentang kesadaran budaya. Tentang bagaimana bangsa ini pernah memiliki kearifan spiritual yang mendalam, yang kini terpinggirkan akibat penjajahan narasi dan pemikiran. Sejarah Nusantara bukanlah sejarah mistik semata, melainkan sejarah peradaban yang memadukan ketuhanan, etika, dan estetika secara agung.


Kini, saatnya kita kembali membaca warisan ini dengan mata hati yang terbuka. Merenungi kembali makna yang pernah dipegang teguh oleh leluhur, bahwa membakar kemenyan bukanlah ritual gelap, melainkan tindakan terang untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Cahaya. (JKP, AR-011) 


Ref. Kemenyan adalah getah atau resin aromatik yang dihasilkan dari pohon tertentu, khususnya genus Styrax dan Boswellia, yang sering digunakan sebagai dupa, campuran rokok, dan dalam industri parfum, obat-obatan, dan kosmetik. Kemenyan juga dikenal dengan nama lain benzoin