Meta di Pusaran Skandal Iklan Penipuan: “Mesin Uang Gelap” yang Dibiarkan Mengalir? -->

Header Menu

Meta di Pusaran Skandal Iklan Penipuan: “Mesin Uang Gelap” yang Dibiarkan Mengalir?

Jurnalkitaplus
28/11/25

 


Jurnalkitaplus - Jagat media sosial global kembali bergejolak. Meta, raksasa teknologi pemilik Facebook dan Instagram, terseret dalam tuduhan serius: mengantongi miliaran dolar dari iklan penipuan. Laporan investigasi Reuters yang dikutip CNN Indonesia mengungkap potret kelam industri periklanan digital yang selama ini dibalut slogan keamanan dan kenyamanan pengguna.


Iklan Penipuan: Tambang Uang Raksasa Meta

Temuan Reuters membuka borok yang selama ini luput dari perhatian publik: 


  • 10% pendapatan Meta ternyata datang dari iklan yang mempromosikan penipuan dan barang terlarang. Nilainya bukan main: US$16 miliar (setara Rp266 triliun).
  • Dokumen internal Meta (Desember 2024) menunjukkan bahwa setiap hari, platform ini menayangkan 15 miliar iklan penipuan kepada jutaan penggunanya.
  • Secara tahunan, pendapatan dari iklan semacam ini diperkirakan mencapai US$7 miliar.


Angka-angka itu menyiratkan satu fakta pahit: iklan penipu bukan hanya lolos—tapi berkontribusi signifikan pada pundi-pundi Meta.


Sistem Keamanan Meta Jebol: “Tahu, Tapi Dibiarkan?”

Di tengah tingginya volume iklan ilegal yang beredar, kinerja sistem keamanan Meta justru dipertanyakan.


  • Mayoritas penipuan datang dari pengiklan yang sebenarnya sudah ditandai mencurigakan oleh sistem internal.
  • Tetapi Meta hanya mengambil tindakan jika sistemnya yakin 95% bahwa sebuah akun pasti melakukan penipuan — ambang batas yang dinilai tak realistis bagi keamanan platform.
  • Dua senator AS, Josh Hawley dan Richard Blumenthal, menyebut Meta secara sadar membiarkan iklan-iklan itu tayang, terutama setelah perusahaan memangkas besar-besaran staf keamanannya, termasuk tim peninjau yang diwajibkan FTC.
  • Ironisnya, pemangkasan itu terjadi ketika Meta justru menggelontorkan dana raksasa ke proyek AI generatifnya.


Hasilnya: lubang keamanan menganga, para penipu pesta pora, pengguna menjadi korban.


Desakan Investigasi Menguat

Skandal ini berbuntut panjang. Dua senator AS itu telah meminta:


  • FTC dan SEC segera mengusut Meta,
  • Meta wajib mengembalikan keuntungan,
  • membayar denda, dan 
  • menghentikan praktik penayangan iklan penipuan, bila laporan Reuters terbukti benar.


Para senator mengutip data menohok: platform Meta diperkirakan terlibat dalam sepertiga total penipuan di AS, menciptakan kerugian hingga US$158,3 miliar bagi warga pada tahun lalu.

Angka yang menegaskan bahwa ini bukan sekadar kelemahan sistem, tetapi krisis yang menyentuh kepentingan publik.


Ragam Penipuan: Dari Kripto Bodong Hingga Deepfake Seksual

Skala dan variasi penipuan yang ditemukan semakin mempertegas bahaya yang mengintai.


Laporan menyebut iklan-iklan penipuan mencakup:


  • skema e-commerce palsu
  • investasi bodong
  • judi online ilegal
  • produk medis terlarang
  • penipuan kripto
  • layanan seks deepfake berbasis AI
  • iklan palsu berkedok pemerintah AS atau tokoh publik (termasuk Presiden Donald Trump)


Tinjauan di Ad Library Meta bahkan menunjukkan iklan yang secara terang-terangan menawarkan judi ilegal dan penipuan pembayaran.


Jejak Sindikat Internasional

Para pelaku penipuan yang mengeksploitasi platform Meta bukan pemain kecil.


Mereka kerap berasal dari:


  • China
  • Sri Lanka
  • Vietnam
  • Filipina

Dengan jaringan kejahatan siber lintas negara yang canggih dan agresif.


Catatan Kritis

Kasus ini menyingkap kontradiksi besar: Meta menjanjikan kenyamanan dan keamanan, tetapi justru diduga memanen keuntungan raksasa dari jebakan digital yang merugikan masyarakat.


Jika tuduhan ini terbukti, maka pertanyaan besarnya bukan lagi “mengapa penipuan sulit diberantas”, melainkan:


Apakah platform raksasa itu justru diuntungkan ketika kejahatan digital terus tumbuh? (FG12)


Sumber : CNN Indonesia