Pemprov Jabar Gratiskan Hiburan Hajatan: Hadiah untuk Warga, Nafas Baru bagi Seniman Lokal -->

Header Menu

Pemprov Jabar Gratiskan Hiburan Hajatan: Hadiah untuk Warga, Nafas Baru bagi Seniman Lokal

Jurnalkitaplus
28/11/25


Jurnalkitaplus - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan gebrakan baru yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat bawah biaya hiburan kesenian rakyat untuk acara hajatan, baik pernikahan maupun khitanan akan digratiskan.


Program ini dirancang khusus untuk warga yang masuk kategori ekonomi lemah. Bukan sekadar wacana, Pemprov Jabar telah menyiapkan anggaran awal Rp10–15 miliar untuk menggerakkan program tersebut. Dedi menyebut, biaya pertunjukan seni tradisional biasanya berada pada kisaran Rp3–15 juta, sehingga hanya dengan Rp1,5 miliar, pemerintah bisa menggratiskan hiburan untuk sekitar 100 hajatan warga.


Agar bantuan tepat sasaran, sedang disiapkan aplikasi digital pendaftaran. Warga yang terverifikasi kurang mampu dapat mendaftar, dan pemerintah akan langsung menunjuk kelompok seni lokal dari daerah setempat untuk tampil.


“Contohnya di Kabupaten Garut, kalau ada warga hajatan, kami akan mengirim grup Calung Garut. Warga terbantu, seniman lokal hidup,” jelas Dedi Mulyadi di Gedung Sate, Rabu (19/11/2025).


Program ini lahir dari keprihatinan pemerintah terhadap fenomena masyarakat yang berutang ke bank keliling atau ‘bank emok’ demi memenuhi biaya hiburan dalam hajatan. Menurut Dedi, tekanan sosial soal “gengsi” sering membuat warga nekat meminjam uang berbunga tinggi, sehingga melahirkan masalah kemiskinan baru.


“Kalau ada warga tidak mampu yang sedang hajatan, jangan sampai mereka pinjam ke bank emok hanya untuk bayar hiburan seni. Biar negara yang ambil alih,” tegasnya.


Selain membantu rakyat kecil, kebijakan ini juga sekaligus mengubah pola belanja kebudayaan. Dedi menilai bahwa anggaran seni budaya selama ini sering habis untuk acara seremonial yang penontonnya cuma pejabat.


Dengan skema baru, dana langsung diputar di tengah masyarakat, seniman lokal tampil di rumah warga, dibayar pemerintah, dan pertunjukan seni dapat dinikmati langsung oleh rakyat.


“Ini jauh lebih hidup daripada acara di alun-alun yang penontonnya pejabat. Seni disubsidi negara, ditonton warga, murah, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan,” pungkas Dedi. (AR11)