Cancel Culture: Dampak pada Psikologi Generasi Z -->

Header Menu

Cancel Culture: Dampak pada Psikologi Generasi Z

Jurnalkitaplus
26/12/25

Assalamu'alaikum sobat JKPers! 

Mungkin buat yang belum tau, cancel culture seperti hal yang terjadi secara sosial di mana seseorang atau kelompok bahkan entitas dicerca sampai diboikot oleh masyarakat karena tindakan, perkataan, atau perilaku yang dianggap tidak pantas atau tidak bisa sesuai dengan nilai-nilai sosial. konteks ini mengacu pada upaya untuk bisa menghentikan dukungan atau popularitas seseorang yang biasanya lewat media sosial. hal ini sering kali muncul di platform X, Instagram dan tiktok yang memiliki dampak bisa sangat cepat dan luas. 

Adapun dampaknya terhadap psikologi generasi Z : 

  1. generasi kita tumbuh dalam dunia yang sangat terhubung melalui media sosial, kita bisa sangat tergantung pada kehadiran digital dan perhatian orang lain untuk membentuk identitas mereka. hal ini cancel culture dapat mempengaruhi perasaan seseorang di antara kita. jadi, seseorang atau kelompok bisa dibatalkan yang bisa menyebabkan krisis identitas dan ketidakpastian, terutama bagi remaja atau bahkan orang muda yang belum sepenuhnya mengembangkan pemahaman diri yang stabil. Misalnya : seorang influencer dihujat habis-habisan bisa kehilangan pendukung dan penggemar setia yang pada gilirannya bisa memengaruhi perasaan diri mereka. 

  2. seseorang dari kita sudah akrab dengan tekanan media sosial yang cenderung merasa cemas jika pendapat atau tindakan mereka diidentifikasi sebagai salah atau tidak sesuai. cancel culture sering kali disertasi dengan pelecehan online, seperti hujatan, komentar kebencian atau bahkan ancaman fisik. hal ini bisa memicu perasaan tidak aman dan meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Misalnya : remaja yang terkena cancel culture mungkin merasa cemas berlebihan tentang apa yang mereka posting atau ungkapkan di platform sosial karena takut mereka akan dibatalkan atau dihukum sosial. 

  3. hal ini bisa memperburuk polarisasi sosial, di mana seseorang atau kelompok merasa terpaksa memilih 'sisi' tertentu dan menghakimi orang yang memiliki pandangan atau pendapat berbeda. bagi generasi kita, ini bisa menciptakan rasa 'kami vs mereka' yang dapat menyebabkan ketegangan sosial dan kesulitan dalam membangun empati. Misalnya : Seseorang yang mungkin memiliki pandangan berbeda dalam masalah politik atau sosial, namun dibatalkan oleh teman-temannya yang lebih kiri atau kanan, hal ini merasa terisolasi dan terpecah dari komunitas sosial mereka. 

  4. Ketakutan dari segi berbicara dan mengungkapkan diri ini sering dibatalkan, hal itu membuat generasi kita lebih berhati-hati dalam mengungkapkan pendapat atau berbicara secara terbuka. kita cenderung menghindari kontroversi atau bahkan mererdukasi ekspresi diri untuk bisa mencegah reaksi negatif. hal ini bisa menghambat kreativitas dan kebebasan berbicara. Misalnya : seseorang mungkin bisa memilih untuk tidak berbicara tentang isu sosial atau politik yang penting bagi mereka karena takut dianggap kontroversial atau dibatalkan. 

  5. Salah satu dampak jangka panjang cancel culture adalah situasi yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan. setelah sering melihat pembatalan atau pembicaraan negatif terhadap seseorang, generasi kita mungkin menjadi lebih toleran terhadap kritik yang tidak konstruktif atau pelecehan online. ini bisa membuat mereka lebih mudah menerima dampak negatif dari perilaku daring yang lebih keras dan kasar. Misalnya: pengguna media sosial mungkin sudah terbiasa dengan kritik keras terhadap orang lain dan mulai menganggapnya sebagai bagian dari dinamika digital, meskipun itu bisa merusak kesejahteraan emosional. 

  6. Cancel culture sering kali mengabaikan ruang untuk pertumbuhan atau perubahan. seseorang yang dibatalkan tidak selalu diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka atau memperbaiki tindakan mereka. hal ini bisa membuat apa yang diciptakan dari perasaan putus asa dan kehilangan yang berpotensi memperburuk masalah kesehatan mental. bagi generasi kita yang banyak berurusan dengan masalah mental seperti stres akademis atau tekanan sosial, dampak tambahan dari cancel culture bisa sangat merugikan. Misalnya : seorang dari kita terlibat dalam kontroversi online mungkin merasa dihukum sepanjang hidup mereka karena sebuah kesalaham, tanpa ada ruang untuk rehabilitasi atau perubahan. 

  7. generasi kita yang tumbuh dalam dunia media sosial seringkali merasa tekanan untuk mengikuti tren dan norma yang berkembang. cancel culture, yang sering didorong oleh tren sosial atau opini mayoritas, dapat menyebabkan ketakutan akan kehilangan koneksi sosial atau pengakuan jika mereka tidak setuju atau tidak mengikuti norma yang ditetapkan. Misalnya : seorang remaja mungkin memilih untuk mendukung suatu gerakan sosial atau selebriti hanya untuk menghindari dicap sebagai 'outsider' atau bahkan dibatalkan. 

  8. sebagian besar generasi kita sangat bergantung pada media sosial sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan sumber informasi. namun, ketika media sosial menjadi tempat di mana seseorang saling menyerang atau membatalkan satu sama lain, ini dapat mengurangi rasa percaya pada platform tersebut sebagai tempat yang aman untuk berinteraksi atau berbagai pendapat. Misalnya : seseorang yang terkena dampak cancel culture mungkin mulai menghindari media sosial atau mengurangi waktu yang mereka habiskan di platform seperti X atau instagram karena trauma emosional yang ditimbulkan. 

Jadi, cancel culture memiliki dampak yang kompleks terhadap psikologi generasi Z. meskipun bisa ditawarkan semacam mekanisme sosial untuk menegakkan akuntabilitas, dampaknya terhadap kesejahteraan mental dan emosional bisa sangat merusak. oleh karena itu, penting untuk menciptakan ruang bagi diskusi yang lebih inklusif dan berempati, serta bisa memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar dari kesalahan mereka tanpa takut dihukum secara sosial secara berlebihan. 

FAI-32 

Pew Research Center (2021): "The Meaning of Cancel Culture". Laporan ini menjelaskan bagaimana masyarakat memandang akuntabilitas vs. hukuman di media sosial.

Velasco, J. C. (2020): "You are Cancelled: Virtual Vigilantism as a Networked Public Platform-Public Performance". Jurnal ini membahas bagaimana cancel culture menjadi bentuk "main hakim sendiri" secara digital.

Twenge, J. M. (2017): Dalam bukunya "iGen", Jean Twenge menjelaskan bagaimana generasi yang tumbuh dengan ponsel pintar memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap depresi dan kecemasan karena validasi digital.

Noelle-Neumann, E.: Teori "Spiral of Silence" (Spiral Keheningan), di mana individu cenderung diam jika mereka merasa opini mereka berbeda dari mayoritas karena takut dikucilkan.