Diskon Akhir Tahun: Stimulus Semu di Tengah Daya Beli yang Rapuh -->

Header Menu

Diskon Akhir Tahun: Stimulus Semu di Tengah Daya Beli yang Rapuh

Jurnalkitaplus
28/12/25



Jurnalkitaplus - Diskon akhir tahun kembali dijadikan andalan untuk mengerek konsumsi masyarakat. Dari pusat perbelanjaan hingga platform niaga-el, potongan harga dipromosikan seolah menjadi solusi mujarab bagi perlambatan ekonomi. Namun, pertanyaannya sederhana: benarkah diskon masih mampu menggerakkan konsumsi, atau sekadar menutupi masalah daya beli yang kian rapuh?


Pemerintah dan pelaku usaha kerap menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi. Tak keliru, sebab lebih dari separuh PDB Indonesia bertumpu pada belanja masyarakat. Masalahnya, strategi yang dipakai nyaris selalu sama: diskon, promo, dan banting harga. Pola berulang ini menunjukkan minimnya terobosan kebijakan yang benar-benar menyentuh akar persoalan ekonomi rumah tangga.


Di lapangan, diskon tidak otomatis membuat orang belanja lebih banyak. Masyarakat kini semakin rasional. Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, kesehatan, serta cicilan utang membuat konsumen jauh lebih selektif. Diskon hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan yang memang harus dibeli, bukan untuk mendorong konsumsi baru. Alih-alih ekspansif, belanja justru bersifat defensif.


Lebih jauh, euforia diskon juga menyimpan risiko bagi pelaku usaha. Perang harga yang terus-menerus menggerus margin, terutama bagi ritel menengah dan kecil. Yang bertahan biasanya hanya pemain besar dengan modal kuat. Jika kondisi ini dibiarkan, diskon bukan lagi alat pemulihan ekonomi, melainkan mekanisme seleksi alam yang memperlebar ketimpangan usaha.


Ketergantungan pada diskon sebagai “stimulus” mencerminkan pendekatan jangka pendek yang miskin visi. Konsumsi yang sehat tidak dibangun dari harga murah semata, melainkan dari pendapatan yang stabil, lapangan kerja berkualitas, dan rasa aman ekonomi. Tanpa itu, diskon hanyalah kosmetik ekonomi—menarik di etalase, rapuh di fondasi.


Baca : Diskon Akhir Tahun Jadi Tumpuan Dongkrak Konsumsi


Akhir tahun seharusnya menjadi momentum refleksi kebijakan, bukan sekadar pesta potongan harga. Jika diskon terus dijadikan tumpuan utama, pemerintah berisiko salah membaca realitas. Konsumsi bukan soal mau atau tidak mau belanja, tetapi soal mampu atau tidak mampu bertahan. Dan di titik itulah, diskon tak lagi cukup. (FG12)