Ketika Tangga Lagu Menjadi Ruang Doa Sunyi -->

Header Menu

Ketika Tangga Lagu Menjadi Ruang Doa Sunyi

Jurnalkitaplus
27/12/25



Jurnalkitaplus - Di tengah hiruk-pikuk industri musik digital yang serba cepat dan algoritmik, ada satu ironi yang menarik: lagu-lagu bernuansa spiritual justru menemukan momentumnya. Bukan lagu rohani dalam pengertian klasik, bukan pula gospel atau nyanyian liturgis. Musik ini hadir di wilayah abu-abu—antara iman, harapan, dan kegelisahan eksistensial manusia modern.


Laporan Luminate 2025 yang dikutip Associated Press menunjukkan bahwa tangga lagu Top Forty kini dipenuhi karya lintas genre yang “menyerempet rohani”. Pop, rock, hiphop, country—semuanya bercampur. Satu benang merahnya: lirik yang mengajak pendengar merenung tentang hidup yang rapuh dan kekuatan tak kasatmata yang menggerakkan nasib manusia.


Industri musik kelimpungan memberi nama. Billboard, Semafor, Yahoo Music, hingga NPR mencoba merumuskannya—tradpop, secular praise music, dan sebutan lain—namun selalu terasa kurang pas. Sebab, musik ini memang menolak dikotakkan. Ia bukan soal agama tertentu, melainkan pengalaman batin yang sangat personal, namun sekaligus universal.


Lagu “Ordinary” dari Alex Warren menjadi contoh paling gamblang. Ditulis sebagai kisah pernikahan yang duniawi, ia justru dibaca sebagian pendengar sebagai refleksi hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Inilah kekuatan musik semacam ini: satu lirik, seribu tafsir.


Fenomena ini sejatinya bukan barang baru. U2, Leonard Cohen, Madonna, hingga Kanye West pernah menyelami wilayah yang sama. Bedanya, pada era streaming, musik bernuansa spiritual bukan lagi selingan dalam katalog besar seorang bintang, melainkan identitas utama para musisi lintas genre yang lahir dan besar di ekosistem digital.


Popularitas musik ini juga tak bisa dilepaskan dari konteks sosial-politik. Ketidakpastian ekonomi, kegaduhan politik, hingga rasa tidak aman di ruang publik—terutama di Amerika Serikat—mendorong publik mencari pegangan emosional. Ketika negara terasa rapuh dan solidaritas sosial melemah, musik menjadi ruang aman untuk menggantungkan harapan, entah kepada Tuhan, semesta, atau sekadar makna hidup itu sendiri.


Ironisnya, di tengah menurunnya kepatuhan ritual keagamaan formal, lagu-lagu bernuansa spiritual justru melampaui sekat iman dan denominasi. Ia menjadi bahasa bersama kegelisahan manusia modern—sunyi, personal, dan tanpa klaim kebenaran tunggal.


Mungkin inilah paradoks zaman kita: ketika institusi-institusi besar kehilangan wibawa, tangga lagu justru berubah menjadi ruang doa sunyi. Tanpa mimbar, tanpa ayat, tanpa dogma—hanya lirik, melodi, dan manusia yang sedang mencari pegangan di dunia yang terasa makin tak pasti. (FG12)