Assalamualaikum sobat JKPers!
Jurnalkitaplus - Perihal topik yang berseliweran ini sangatlah penting karena menyasar isu kesehatan mental, dengan fokus pada mengurangi stigma yang sering mengelilingi generasi kita, yup! Gen Z! di era digital ini, banyak dari kita menghadapi tantangan besar terkait kesehatan mental, hanya saja masih sering merasa terisolasi atau malu untuk berbicara tentang masalah yang kita hadapi karena…
Ya! stigma yang berkembang dalam masyarakat.
lalu apa sih stigma kesehatan mental yang dimaksud?
ialah pandangan negatif atau prasangka buruk yang menganggap dari kita yang mengalami masalah kesehatan mental sebagai lemah, gila, atau tidak mampu menjalani kehidupan normal. di kalangan kita, hal ini bisa lebih intens karena adanya tekanan sosial untuk terlihat sempurna, terutama di media sosial yang dapat memperburuk perasaan cemas.
sedangkan untuk penyebab stigma hal tersebut:
perihal persepsi media sosial yang menciptakan standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis, memicu perasaan tidak cukup baik bagi banyak dari kita.
nah, walaupun kesehatan mental mulai dibicarakan lebih terbuka, tapi masih banyak ketidaktahuan tentang bagaimana cara mengenali, memahami, dan menangani masalah kesehatan mental.
gen z justru sering merasa bahwa kita tuh harus memamerkan kehidupan yang sempurna dan bahagia di dunia maya, yang bertentangan dengan kenyataan banyak orang yang berjuang dengan masalah seperti kecemasan, depresi atau burnout.
dan ada dampak stigma kesehatan mental, dari segi banyak remaja dan orang dewasa muda yang tidak merasa nyaman atau tidak tahu harus kemana mencari bantuan yang sering memperburuk kondisi mereka. karena tanpa dukungan yang tepat, masalah kesehatan mental bisa berdampak pada prestasi akademik, hubungan sosial dan kesehatan fisik. kita lebih merasa distigma mungkin enggan untuk mencari terapi atau konseling walaupun kita sangat membutuhkan.
tapi tenang saja! ada langkah untuk bisa menghapus stigma, dari segi edukasi tentang kesehatan mental, menggunakan influencer untuk menyebarkan pesan positif, membuka ruang untuk percakapan terbuka dan menggalakkan akses terhadap bantuan profesional. tidak lupa juga kita bisa membuat ruang aman baik di dunia nyata ataupun online di mana seseorang bisa berbicara tentang perjuangan mereka tanpa takut dihakimi.
dari hal seperti inilah kita bisa memberikan informasi tentang bagaimana cara mengakses konseling dan dukungan psikologis yang terjangkau, termasuk menggunakan aplikasi kesehatan mental yang mulai populer di kalangan gen Z.
Tapi sudah ada yang melakukan secara inisiatif seperti :
banyak kampanye di media sosial yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung mereka yang berjuang dengan kesehatan mental contohnya hashtag #LetsTalkMentalHealth atau #BreakTheStigma
acara yang diadakan seperti seminar, workshop atau talk show ini bsia mengundang pakar kesehatan mental, influencer atau bahkan orang yang telah mengalami kesehatan mental untuk berbagi pengalaman dan solusi.
adanya institusi pendidikan dapat bekerja sama dengan psikolog dan profesional kesehatan mental untuk menyediakan dukungan bagi siswa yang membutuhkan.
lalu inilah hal yang bisa dilakukan gen Z untuk bisa mengatasi stigma :
dari segi bertanggung jawab secara pribadi, contohnya dengan mengakui pentingnya menjaga kesehatan mental dan member diri sendiri izin untuk mencari bantuan bila diperlukan.
jika memang ada teman atau seseorang di sekitar merasa kesulitan, dukungan moral lah sangat penting untuk mendorong mereka berbicara atau mencari pertolongan.
bisa menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan pesan positif tentang pentingnya kesehatan mental, serta berbagi pengalaman pribadi yang mungkin dapat membantu orang lain merasa lebih dimengerti dan tidak lagi merasa sendirian.
nah dengan menghapus stigma tentang kesehatan mental di kalangan gen Z adalah langkah yang penting supaya bisa menciptakan masyarakat yang lebih bisa menghargai orang lain terhadap kesejahteraan emosional dan psikologis setiap anggotanya. hal ini bisa meningkatkan edukasi, memperkuat dukungan sosial dan memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan mental, jadi stigma bisa diatasi dan lebih banyak orang akan merasa diberdayakan untuk berbicara dan mendapatkan bantuan lebih cepat.
FAI-32
sumber referensi :
