Menyambut Vulnerability: Ketika Generasi Z Berani Bicara Tentang Kesehatan Mental -->

Header Menu

Menyambut Vulnerability: Ketika Generasi Z Berani Bicara Tentang Kesehatan Mental

Jurnalkitaplus
27/12/25

Masih ingat dengan generasi Z itu yang lahir pada tahun berapa saja, kan? generasi kita juga telah membaca banyak perubahan dalam cara kita melihat kesehatan mental, dengan cara terbuka tentang tantangan yang mereka hadapi. salah satu cirinya adalah keberanian untuk menunjukkan kerentanannya mau saat berbicara di mana tercermin dalam penggunaan platform digital sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain. 

  1. Generasi Z dan kesehatan mental : generasi kita sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media sosial. kita tumbuh dengan akses yang lebih mudah ke informasi mengenai kesehatan mental, dimana mengurangi stigma seputar pembicaraan tentang isu ini. kita juga bahkan tidak ragu untuk membuka diri mengenai pengalaman pribadi dalam mengelola tekanan sosial, akademik, dan emosional. banyak dari kita merasa lebih nyaman mencari dukungan melalui komunitas online maupun offline yang bisa menyediakan ruang untuk berbagi tanpa rasa takut dihakimi. 

  2. Pengaruhi media sosial : karena memainkan peran yang sangat besar dalam pergerakan ini. Platform seperti instagram, X, facebook sampai youtube tidak hanya memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, tetapi juga memungkinkan orang untuk bisa berbagi pengalaman dan saling mendukung. banyak influencer, dan orang lain yang secara terbuka berbicara tentang perjuangannya dengan kesehatan mental bahkan memberikan contoh dan dorongan bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. 

  1. Generasi kita sering kali menemukan konten edukatif tentang kesehatan mental di media sosial seperti contohnya cara mengelola stres, teknik relaksasi dan cara-cara untuk menjaga kesejahteraan mental. penggunaan aplikasi meditasi dan kesehatan mental juga semakin populer di kalangan kita contohnya headspace, calm dan lain sebagainya. 

  2. Kita juga berperan dalam menormalisasikan pembicaraan mengenai kesehatan mental. kita bahkan menentang pandangan lama yang menganggap kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu atau memalukan. kita juga mendorong agar kesehatan mental diperlakukan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. kini dianggap lebih umum dan dapat diterima jika menyebutkan masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan. 

  1. Keterbukaan untuk menerima kerentanan: kerentanan atau vulnerability adalah kunci penting dalam upaya generasi kita untuk menghadapi tantangan mental. kita memahami bahwa menunjukkan perasaan dan ketakutan bukanlah hal yang lemah, tetapi bentuk kekuatan. ini juga mengubah pandangan umum tentang kerentanan yang sebelumnya seringkali dianggap negatif. sebaliknya kita justru memandang ini sebuah kesempatan untuk belajar, berkembang, dan membangun hubungan yang lebih mendalam dengan orang lain. 

  2. Dampak pandemi covid-19: dampaknya signifikan terhadap kesehatan mental banyak orang, terutama generasi kita yang sedang berada dalam fase transisi penting dalam kehidupan mereka. pembelajaran jarak jauh, isolasi sosial dan ketidakpastian masa depan meningkatkan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan kita. namun, pandemi juga mempercepat perubahan dalam cara mereka melihat kesehatan mental. banyak yang mulai lebih terbuka dalam berbicara tentang perasaan kesepian, cemas, atau tidak aman, serta mencari bantuan dari berbagai sumber yang lebih mudah diakses. 

  3. peran profesional kesehatan mental: jadi generasi kita sangat terbuka dalam berbicara tentang kesehatan mental, bahkan kita juga semakin menyadari pentingnya profesional dalam membantu supaya bisa mengatasi masalah yang lebih serius. terapi dan konseling telah menjadi pilihan yang lebih diterima, dan semakin banyak dari kita yang mencari dukungan profesional. platform yang melayani dukungan secara online menjadi sangat populer di mana bisa memberikan akses lebih mudah bagi kita yang membutuhkan bantuan. 

  4. Adanya komunitas dan dukungan : dari komunitas online yang diadakan oleh teman sebaya atau didukung oleh organisasi kesehatan mental, di sinilah sangat penting dalam memerankan generasi kita. kita bisa jauh lebih aman berbicara tentang perasaan dalam ruang yang tidak menghakimi. 

  5. Tantangan dan rintangan : banyaknya perkembangan positif masih ada aja tantangan. stigma terhadap masalah mental di beberapa kalangan bahkan di negara yang memiliki budaya cenderung konservatif ya, masih ada. hal ini menjadi persepsi bahwa orang yang berbicara tentang kesehatan mental dianggap lemah atau tidak mampu mengatasi masalah hidup. bahkan media sosial yang notabene nya memberikan dukungan bisa jadi alih fungsi sebagai pemicu stres atau kecemasan dengan adanya tekanan untuk selalu tampil sempurna. 

  6. harapan dan masa depan : semakin banyak generasi muda yang berani mengungkapkan perasaan mereka, justru ini ada harapan besar untuk masa depan yang lebih terbuka dan bisa mendukung semua orang berbagai generasi. ke depannya justru generasi ini akan terus berperan dalam menghilangkan stigma dan menciptakan ruang lebih aman dan inklusif bagi orang-orang yang menghadapi tantang kesehatan mental. 


Generasi Z telah menunjukkan bahwa vulnerability atau kerentanan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Mereka membuka jalan bagi diskusi yang lebih terbuka tentang kesehatan mental, serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan peka terhadap isu ini. Dengan terus memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai sarana untuk berbagi dan mendukung satu sama lain, Generasi Z berusaha menciptakan dunia yang lebih inklusif dan memahami pentingnya menjaga kesejahteraan mental.


FAI-32

American Psychological Association. (2018). Stress in America: Generation Z. Stress in America Survey.

Pew Research Center. (2019). Generation Z Looks a Lot Like Millennials on Key Social and Political Issues.

Twenge, J. M. (2017). iGen. Atria Books.

UNICEF. (2021). The State of the World's Children 2021: On My Mind. New York: UNICEF.