Jurnalkitaplus - Bintang Betlehem telah lama menjadi ikon perayaan Natal. Ia hadir di puncak pohon Natal, ornamen, hingga lampu hias, sekaligus dimaknai sebagai lambang harapan, sukacita, dan bimbingan ilahiah. Namun, di balik simbolisme religius tersebut, keberadaan Bintang Betlehem terus memantik perdebatan panjang di kalangan sejarawan, teolog, dan astronom.
Dalam Injil Matius, Bintang Betlehem diceritakan sebagai penanda kelahiran Yesus yang menuntun tiga orang Majus dari Timur menuju Bethlehem. Bintang itu digambarkan muncul di timur, mendahului perjalanan mereka, bahkan “berhenti” tepat di atas tempat kelahiran Yesus. Kisah inilah yang kemudian mendorong pencarian jejak astronomi dari peristiwa tersebut.
Pada masa kuno, batas antara astronomi dan astrologi belum tegas. Segala benda langit yang bersinar—selain Bulan—kerap disebut sebagai bintang. Karena itu, para ahli modern menilai Bintang Betlehem belum tentu merupakan bintang dalam pengertian astronomi saat ini. Beragam hipotesis pun bermunculan, mulai dari konjungsi planet hingga ledakan bintang.
Salah satu teori populer menyebut konjungsi Venus dan Jupiter pada 17 Juni 2 Sebelum Masehi (SM) sebagai kandidat kuat. Kedua planet paling terang di langit malam itu tampak sangat berdekatan sehingga menyerupai satu objek superterang. Teori lain mengarah pada konjungsi Jupiter dan Saturnus pada 7 SM, meski cahayanya dinilai tidak seterang konjungsi Venus–Jupiter.
Hipotesis komet Halley yang muncul pada 11 SM sempat diajukan, tetapi banyak ditolak karena komet bergerak relatif cepat dan dalam budaya kuno sering dianggap sebagai pertanda buruk. Ada pula dugaan bahwa Bintang Betlehem adalah nova—ledakan bintang berskala kecil—yang terjadi sekitar 5 SM. Namun, hingga kini belum ditemukan sisa-sisa astronomi yang menguatkan teori tersebut.
Sejumlah astronom menilai semua fenomena itu sulit menjelaskan perilaku “aneh” Bintang Betlehem yang digambarkan seolah menuntun perjalanan dan berhenti di satu lokasi. Profesor David Weintraub dari Universitas Vanderbilt bahkan menyebut, jika benar hanya sebuah bintang biasa, orang Majus justru akan berputar-putar karena bintang terbit di timur dan terbenam di barat setiap hari.
Perdebatan ini mendorong kajian baru. Peneliti keplanetan NASA, Mark Matney, bersama rekan-rekannya mengajukan hipotesis terbaru: Bintang Betlehem kemungkinan adalah komet yang muncul pada 5 SM. Berbeda dengan dugaan sebelumnya, komet ini dianalisis melalui pemodelan orbit, catatan astronomi Tiongkok kuno, serta kajian bahasa Yunani Koine dalam Injil Matius.
Hasil analisis menunjukkan bahwa teks asli Injil tidak secara eksplisit menyebut bintang tersebut “menuntun” perjalanan panjang para Majus, melainkan muncul secara konsisten di langit malam, sebagaimana fenomena benda langit lainnya. Dalam konteks astrologi kuno, kemunculan komet tertentu bisa dimaknai sebagai pertanda kelahiran tokoh penting, bukan sekadar fenomena fisik.
Meski demikian, hingga kini tidak ada kesepakatan tunggal mengenai apa sebenarnya Bintang Betlehem. Perdebatan itu kerap berujung pada dua pandangan besar: menganggapnya sebagai peristiwa ilahiah yang melampaui hukum alam, atau melihatnya sebagai kisah simbolik keagamaan yang diperkaya konteks budaya zamannya.
Di tengah tarik-menarik antara iman dan sains, Bintang Betlehem tetap hidup sebagai simbol lintas zaman. Terlepas dari apakah ia pernah benar-benar bersinar di langit ribuan tahun lalu, Bintang Betlehem terus memancarkan makna—tentang harapan, pencarian, dan keyakinan manusia akan cahaya di tengah gelapnya sejarah. (KOMPAS)

