Assalamu'alaikum Sobat Jkpers!
Kali ini aku mau share tentang "Pelajaran apa sih yang bisa kita ambil dari drama More Than Friends?"
Sebagai penonton, drama ini mungkin terlihat ringan—tentang pertemanan cowok-cewek yang berkembang jadi perasaan. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ternyata banyak banget sisi kompleks yang menyentuh, terutama soal ego, kedewasaan, ketulusan, dan bagaimana manusia bisa berubah karena hadirnya seseorang yang tepat.
Pasti banyak dari kalian mikir, "Ah ini pasti tentang friendzone yang berlarut-larut!"
Iya, benar. Tapi fokusku bukan cuma itu aja. Aku pengen ngeliat drama ini dari sisi yang lebih luas—tentang dinamika hati, luka masa kecil, keberanian untuk berubah, dan bagaimana hubungan yang sehat butuh dua arah, bukan cuma satu pihak yang terus mengerti.
Yang pertama, drama ini ngasih gambaran betapa perasaan bisa tumbuh diam-diam dalam sebuah pertemanan.
Yoon Kyung Woo-yeon dan Lee Soo bertahun-tahun saling dekat. Tapi kedekatan itu justru membangun tembok: satu ingin lebih, satu lagi takut kehilangan.
Di sini aku belajar bahwa pertemanan cewek dan cowok memang bisa bertahan lama tanpa perasaan… tapi persentase berubahnya jadi cinta itu besar, apalagi kalau intens dan saling membutuhkan.
Pelajaran berikutnya:
Manusia itu dinamis, fleksibel, dan bisa berubah meskipun kita pikir karakter mereka sudah "paten" sejak awal.
Lee Soo adalah contoh paling jelas.
Dia terlihat egois, dingin, dan suka menggantung perasaan Woo-yeon. Tapi ternyata, dia membawa luka dari keluarganya—orang tuanya yang menikah dengan sahabat sendiri lalu bercerai. Pengalaman itu bikin dia takut pada komitmen, takut memiliki, sekaligus takut kehilangan.
Tapi kehadiran orang baru yang mencintai Woo-yeon dengan tulus, justru jadi titik balik.
Karena kadang…
kita baru sadar berharganya seseorang ketika dia mulai menjauh.
Dan drama ini nunjukin itu dengan sangat real: perasaan bukan sesuatu yang bisa kita anggap remeh, apalagi kalau kita terus meminta dimengerti tapi tidak berusaha memahami balik.
Hal lain yang aku pelajari dari sini adalah:
Teman-teman Woo-yeon yang kesal pada Lee Soo sebenarnya menunjukkan betapa nggaknya sehat hubungan yang hanya menguntungkan satu sisi. Mereka muak bukan karena benci, tapi karena sayang dan lelah melihat Woo-yeon tersakiti.
Kadang kita butuh mata orang lain untuk menyadarkan betapa buruknya perlakuan seseorang ke kita.
Dan di sini kita memahami bahwa:
Cinta tanpa tindakan adalah bentuk keegoisan yang terselubung.
Drama ini juga mengajarkan bahwa seseorang bisa menerima kita apa adanya—dengan segala kekurangan: masa lalu, ekonomi, pendidikan, bahkan luka emosional.
Ada cinta yang datang dengan diam-diam, siap menampung beban kita, nggak masalah dijadikan tempat bersandar, dan selalu ada meski kita belum bisa membalas sepenuhnya.
Tapi ketulusan pun butuh dihargai.
Karena orang yang tulus pun bisa lelah kalau hanya mencintai sendiri.
Dan pelajaran yang paling menyentuh buatku:
Orang yang paling lama menetap di hati kita biasanya adalah orang yang tumbuh bersama kita.
Bukan karena dia sempurna, tapi karena ada banyak momen, kebiasaan, memori kecil, dan cerita yang nempel di perjalanan hidup kita.
Namun itu bukan berarti dia satu-satunya pilihan. Terkadang, seseorang yang datang kemudian justru lebih mengerti kita, lebih siap, dan lebih berani untuk bertahan.
Akhirnya, yang ingin aku garis bawahi:
Cinta butuh keberanian, bukan hanya kedekatan.
Butuh tindakan, bukan hanya perasaan yang menggantung.
Dan butuh dua arah—bukan satu orang yang terus menunggu sambil menahan luka.
Jadi, buat kamu yang sudah menonton More Than Friends, pelajaran apa yang paling nyentuh atau paling bikin kamu mikir ulang tentang hubungan yang nggak jelas arahnya?
FAI-32
