Sudah Saatnya Sampah Dikelola di Sumber: Strategi Pintar Atasi Penumpukan TPA Cipeucang -->

Header Menu

Sudah Saatnya Sampah Dikelola di Sumber: Strategi Pintar Atasi Penumpukan TPA Cipeucang

Jurnalkitaplus
30/12/25



Jurnalkitaplus – Krisis sampah di Tangerang Selatan (Tangsel) pasca-penutupan TPA Cipeucang menjadi pelajaran berharga. Darurat sampah yang menumpuk di jalanan Ciputat hingga Serpong menunjukkan ketergantungan berlebih pada TPA akhir justru memperburuk masalah lingkungan. 


Sudah saatnya pengelolaan sampah bergeser ke tingkat sumber, sebagai strategi utama cegah penumpukan dan wujudkan kota berkelanjutan.


Akar Masalah: Ketergantungan TPA Overload


TPA Cipeucang di tepi Sungai Cisadane disegel Kementerian LHK sejak Oktober 2025 karena praktik open dumping yang mencemari lingkungan dan berisiko longsor. Akibatnya, 400 ton sampah harian Tangsel tumpah di permukiman, ganggu usaha warga, dan ciptakan bau menyengat. Respons Pemkot seperti armada tambahan dan terpal sementara hanya obat pereda, bukan solusi permanen.


Solusi Jangka Panjang: Pengelolaan di Sumber


Pengelolaan sampah di sumber—pemilahan organik dan anorganik langsung di rumah tangga—adalah kunci utama. Inisiatif warga seperti Teba Komposter di Ciputat, lubang tanah alami pengurai sampah organik, sudah terbukti efektif kurangi volume hingga 60%. Pemkot dorong Gerakan 1.000 Bank Sampah di RT dan sekolah, targetkan pengurangan 25% dalam dua tahun, plus Material Recovery Facility (MRF) dan PSEL energi listrik pada 2026.


  • Pemilahan 3R : Reduce, Reuse, Recycle dari rumah untuk minimalkan sampah ke TPA.


  • Bank Sampah Komunitas : Warga dapat insentif dari penjualan daur ulang.


  • Edukasi Massal : Kampanye sekolah dan RW seperti Teba Komposter libatkan masyarakat.


Saatnya Aksi Nyata


Tangsel tak boleh ulangi blunder TPA Cipeucang. Pengelolaan di sumber bukan slogan, tapi keharusan hukum dan budaya hidup hijau. Pemkot, Dinas LH, dan warga harus sinergi: alokasikan anggaran edukasi, sanksi tegas pembuangan liar, serta monitor ketat 3R. Dengan demikian, Tangsel bisa jadi kota zero waste pertama di Jabodetabek, bukan lagi darurat sampah berulang. Saatnya bertindak, sebelum krisis berikutnya datang!