Jurnalkitaplus - Jepang, sang raksasa teknologi dan simbol kemajuan Asia, kini sedang berpacu dengan waktu—bukan untuk menciptakan robot terbaru, melainkan untuk mempertahankan keberadaan manusianya. Istilah "Kiamat Demografi" bukan lagi sekadar hiperbola akademis, melainkan realitas pahit yang mulai mencekik Negeri Sakura.
Laporan terbaru menunjukkan angka yang mengerikan: populasi Jepang diprediksi akan menyusut lebih dari 20 juta orang pada tahun 2050. Angka fertilitas yang hanya menyentuh 1,15—jauh di bawah batas aman 2,1—menandakan bahwa Jepang sedang berada dalam fase "penyusutan otomatis".
Beban Berat di Pundak Gen Z dan Alpha
Bagi Generasi Z dan Alpha di Jepang, masa depan tidak lagi menjanjikan masa pensiun yang tenang di taman sakura. Mereka kini sedang bersiap menghadapi struktur ekonomi yang timpang. Dengan porsi lansia yang melonjak hingga 37%, generasi muda ini akan menjadi "generasi pemikul" yang terbebani pajak tinggi dan sistem jaminan sosial yang rapuh.
Bayangkan sebuah skenario di mana satu pekerja produktif harus menanggung beban ekonomi satu warga non-kerja. Inilah kenyataan yang menanti mereka di tahun 2050.
Mengapa Jepang "Mandek"?
Kemandegan ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah akumulasi dari budaya kerja ekstrem yang membuat kencan menjadi kemewahan, dan biaya hidup perkotaan yang melambung tinggi. Fenomena Bankonka (menunda pernikahan) dan Mikonka (memilih lajang) telah menjadi norma baru.
Di sisi lain, wilayah rural atau pedesaan di Jepang kian menjadi "kota hantu". Sekolah-sekolah tutup dan rumah sakit kehilangan pasien karena kaum muda berbondong-bondong pindah ke Tokyo, meninggalkan lansia dalam isolasi di desa-desa yang perlahan mati.
Antara Otomasi dan Kelangsungan Bangsa
Pemerintah Jepang kini mencoba bertaruh pada teknologi. AI dan otomasi diharapkan mampu mengisi kekosongan tenaga kerja di sektor manufaktur dan perawatan lansia. Namun, secanggih apa pun robot yang diciptakan, mereka tidak bisa membayar pajak, tidak bisa mengonsumsi barang untuk memutar roda ekonomi, dan tentu saja, tidak bisa melahirkan generasi penerus.
Jepang adalah laboratorium sosial bagi dunia. Apa yang terjadi di sana adalah peringatan bagi negara-negara lain—termasuk Indonesia di masa depan—bahwa kemajuan ekonomi yang tidak dibarengi dengan keseimbangan demografi akan berujung pada jalan buntu.
Jika Jepang tidak segera menemukan cara radikal untuk membuat warganya kembali berani bermimpi membangun keluarga, maka "Negeri Matahari Terbit" mungkin akan menghadapi senja yang datang jauh lebih awal dari yang diperkirakan. (Fg12)
sumber data : CNBC

