Bedah Film : Sisi Positif Drama 18 Again -->

Header Menu

Bedah Film : Sisi Positif Drama 18 Again

Jurnalkitaplus
12/01/26

Assalamu'alaikum Sobat Jkpers!

Kembali lagi di bedah film, dari film yang belum atau sudah kamu tonton, namun, belum menemukan apa yang bisa dipelajari dan bekal untuk kita menghadapi kehidupan ini. Ya! Perihal materi kehidupan belum tentu kamu temukan di pelajaran sekolah bahkan kuliah. Tapi, tenang saja! Kini kami hadir untuk meringkas sebuah drama '18 '

Kalau diberi keberkahan untuk kembali ke masa dimana usiamu 18 tahun, apa yang ingin kamu lakukan? Pasti, langsung terdiam, dan berkata : "ah, mungkin aku bisa jadi seorang atlet atau olahragawan?" sama halnya dengan tokoh utama di drama ini. Ada penyesalan yang sebelumnya dia katakan bahwa dia tidak menyesal, lantas di masa kesulitan tiba seolah seluruhnya tidak mengerti dirinya. Hingga tibanya, ya, dia kembali ke masa di umur 18 tahun. Ada pelajaran yang sangat berharga :

1. Jangan Anggap Remeh Keluarga Hanya Karena Kamu Sibuk Mencari Nafkah

Hong Dae-young terlalu sibuk bekerja dan merasa "tidak dihargai" hingga jarang hadir secara emosional di rumah. Ia menganggap perannya sebagai ayah cukup dengan memberi uang.

Refleksi yang terjadi :Di tahun ini, kita hidup dalam kecepatan yang sangat tinggi—kejar cuan, meeting, deadline. Kadang, kita lupa bahwa kehadiran itu lebih berharga daripada sekadar transferan. Drama ini mengingatkan kita bahwa keluarga butuh kita hadir, bukan hanya ada.

"Sibuk bukan alasan untuk menghilang. Kasih sayang tidak bisa digantikan dengan saldo rekening."

2. Masa Muda Itu Berharga, Tapi Kesadaran Akan Nilainya Baru Terasa Saat Terlambat

Dae-young kembali ke tubuh 18 tahun dan baru menyadari betapa cueknya dia dulu terhadap pasangan, anak, dan masa depannya sendiri.

Refleksi yang terjadi : Banyak dari kita hari ini, khususnya Gen Z dan milenial muda, hidup terburu-buru mengejar validasi sosial—lupa bahwa waktu tidak bisa diulang. 18 Again adalah alarm keras untuk lebih bijak memaknai waktu muda: belajar yang serius, menjaga diri, menghargai orang tua, dan sadar bahwa masa ini tak akan datang dua kali. "Jangan tunggu tua untuk tahu apa yang penting."

3. Pasangan Itu Bukan Hanya untuk Masa Bahagia, Tapi Juga untuk Bertumbuh Bersama

Jung Da-jung memilih bercerai karena merasa tidak dihargai dan terlalu banyak luka batin. Tapi ketika Dae-young menyadari kesalahannya, ia mencoba memperbaiki semuanya bukan sebagai suami, tapi sebagai "teman."

Refleksi yang terjadi :Banyak hubungan hari ini kandas bukan karena tidak cinta, tapi karena komunikasi yang rusak, egonya tinggi, dan tidak bisa saling mendengar. Cinta yang dewasa adalah ketika kamu berani berubah, bukan hanya bilang "aku sayang kamu".  "Kadang butuh mundur selangkah untuk tahu bagaimana harus melangkah bersama lagi."

4. Anak Tidak Butuh Ayah Sempurna, Tapi Ayah yang Mau Belajar dan Mengerti

Dae-young menyamar menjadi anak SMA dan akhirnya tahu betapa sulitnya jadi remaja zaman sekarang. Ia juga baru menyadari bahwa anak-anaknya menghadapi banyak tekanan sosial yang selama ini dianggap sepele.

Refleksi yang terjadi :Buat para orang tua muda di era ini: jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk buta terhadap dunia anak-anak. Dunia mereka penuh tekanan: media sosial, cyberbullying, kecemasan akademik. Jadi orang tua bukan berarti harus selalu benar—tapi harus mau belajar. "Anak tidak butuh dimengerti sepenuhnya. Tapi mereka butuh usaha orang tuanya untuk mencoba."

5. Pilih Jalan Hidupmu Sendiri, Jangan Hidup dari Ekspektasi Orang Lain

Dae-young dulunya menyerah pada impiannya sebagai atlet basket demi menikahi Da-jung dan bekerja demi keluarga. Tapi ia hidup dengan penyesalan. Saat kembali ke usia muda, ia diberi kesempatan kedua.

Refleksi yang terjadi :Banyak orang hari ini bingung: nurutin passion atau realistis? Apapun keputusanmu, pastikan kamu menjalaninya dengan sadar, bukan karena terpaksa atau untuk menyenangkan orang lain. Dan kalau kamu salah jalan? Nggak apa-apa. Selama kamu hidup, kamu masih bisa memutar arah.  "Kesempatan kedua memang langka. Tapi kesadaran untuk berubah bisa dimulai hari ini."

FAI (32)