Assalamu'alaikum Sobat Jkpers!
Kembali lagi di bedah film, dari film yang belum atau sudah kamu tonton, namun, belum menemukan apa yang bisa dipelajari dan bekal untuk kita menghadapi kehidupan ini. Ya! Perihal materi kehidupan belum tentu kamu temukan di pelajaran sekolah bahkan kuliah. Tapi, tenang saja! Kini kami hadir untuk meringkas sebuah drama 'True Beauty'
Gapapa dibilang : "Ah, dia mah cakep karena pakai filter, pakai make up, aslinya juga jelek." Tapi, sadar tidak sih, bahwa kepercayaan diri tidak bisa diatur dengan ucapan orang apa kata mereka. Lagipula yang mengerti dirimu hanya dirimu. Selama kamu bisa tampil lebih percaya diri, bahkan mau dibongkar sekalipun wajah sesungguhnya dirimu, tapi kualitas dirimu yang orang cerdik lihat. Dari drama ini kamu akan belajar banyak :
1. Makeup Bukan Topeng, Tapi Bentuk Ekspresi Diri
Ju Kyung memakai makeup untuk menyembunyikan wajah aslinya. Tapi seiring berjalannya waktu, ia belajar bahwa makeup bisa menjadi media untuk mengenali diri, bukan sekadar menutupi kekurangan.
Refleksi yang terjadi : Di tahun ini, makeup seringkali disalah artikan sebagai bentuk kepalsuan. Padahal, makeup bisa menjadi seni, bentuk healing, bahkan terapi visual bagi seseorang. Hargai orang yang memilih mempercantik dirinya, tapi juga hargai mereka yang memilih tampil natural. Kita berhak mengekspresikan diri tanpa harus takut dihakimi.
2. Standar Kecantikan Itu Relatif dan Tidak Mutlak
Ju Kyung dianggap buruk rupa karena tidak memenuhi standar cantik versi lingkungan sekolahnya. Namun saat ia memakai makeup, semua orang memujanya.
Refleksi yang terjadi : Standar kecantikan kini lebih kompleks dari sebelumnya — dari kulit putih, bentuk wajah V-line, hidung mancung, sampai gaya hidup "glow-up". Drama ini menyentil realita bahwa kecantikan tak bisa ditakar oleh filter media sosial. Setiap wajah, bentuk tubuh, dan warna kulit punya keindahannya sendiri. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh likes atau komentar.
3. Bullying Itu Luka yang Tak Terlihat
Ju Kyung mengalami trauma mendalam karena bullying. Bahkan setelah berpindah sekolah, rasa takut dan rendah diri masih menghantuinya.
Refleksi yang terjadi : Bullying kini tak hanya terjadi di sekolah, tapi juga di dunia digital. Cyberbullying di kolom komentar atau story sindiran bisa melukai mental seseorang. Jadilah orang yang menghentikan rantai luka, bukan memperpanjangnya. Drama ini mengingatkan kita bahwa kata-kata bisa jadi senjata paling tajam yang tidak terlihat.
4. Persahabatan Sejati Mendukung, Bukan Menghakimi
Sahabat-sahabat Ju Kyung, seperti Soo Jin (yang awalnya baik), memperlihatkan bahwa persahabatan bisa berubah karena rasa iri, tekanan sosial, atau keinginan untuk tampil unggul.
Refleksi yang terjadi : Banyak orang merasa bersaing dalam lingkaran pertemanannya sendiri. True Beauty menekankan bahwa sahabat yang baik akan membantumu bertumbuh, bukan menjatuhkanmu secara diam-diam. Di era FOMO ini, penting untuk punya teman yang mendoakanmu diam-diam dan tidak membandingkan proses hidup masing-masing.
5. Cinta Sejati Menerima, Bukan Mengubah
Lee Suho dan Han Seojun menyukai Ju Kyung bukan karena wajah makeup-nya, tapi karena kepribadiannya. Mereka menerima sisi rapuh dan traumanya.
Refleksi yang terjadi :Di zaman sekarang, banyak hubungan yang dibangun di atas ilusi: foto bagus, status hubungan online, dan ekspektasi. True Beauty menunjukkan bahwa cinta yang tulus lahir saat seseorang berani menunjukkan luka, bukan hanya pencitraan. Kita pantas dicintai dalam kondisi asli kita, bukan versi yang disesuaikan demi diterima.
6. Sekolah adalah Tempat Tumbuh, Bukan Medan Perang
Lingkungan sekolah Ju Kyung penuh tekanan, penghakiman, dan permusuhan. Tapi disisi lain, juga jadi tempat dia menemukan kepercayaan diri dan teman sejati.
Refleksi yang terjadi : Sekolah (atau kampus dan tempat kerja) seharusnya jadi ruang belajar, bukan tempat untuk merasa paling inferior. Orang dewasa muda hari ini pun masih sering merasa "kecil" karena standar orang lain. Drama ini mengajak kita untuk berani menjadi versi terbaik diri sendiri, bukan salinan dari orang lain.
FAI (32)
