Manusia kerap merasa paling berkuasa karena akal yang dimilikinya. Namun, di tengah alam yang terus berusaha bertahan meski dirusak dan diabaikan, muncul pertanyaan sederhana: sudahkah manusia benar-benar memahami perannya? Barangkali, dari cara alam bertahan itulah manusia perlu kembali belajar tentang batas, keseimbangan, dan makna menjadi manusia.
Sudah menjadi pengetahuan umum, manusia merupakan makhluk yang diberi kelebihan dibandingkan makhluk hidup lainnya. Akal dan hati menjadi dua anugerah utama yang membedakan manusia dari makhluk lain. Melalui keduanya, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan, serta menentukan pilihan antara yang baik dan yang buruk, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan di sekitarnya.
Dalam pandangan Islam, keberadaan manusia di muka bumi tidaklah hadir tanpa tujuan. Al-Qur'an secara jelas menegaskan posisi manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30–32. Ayat tersebut menggambarkan pemberitahuan dan penetapan kehendak Allah kepada para malaikat mengenai penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa peran manusia bukanlah sekadar untuk hidup dan mengisi ruang, melainkan memikul amanah dan tanggung jawab besar terhadap bumi yang ditempatinya.
Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk menjaga alam agar tetap lestari dan bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup. Namun, jika melihat kondisi saat ini, peran tersebut sering kali tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Banyak manusia justru tampak melupakan tanggung jawabnya. Alih-alih menjaga, berbagai aktivitas manusia malah berkontribusi pada kerusakan alam, mulai dari pengambilan sumber daya secara berlebihan hingga pencemaran lingkungan.
Kondisi ini tentu tidak terjadi begitu saja. Keserakahan, gaya hidup yang serba konsumtif, serta cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam tanpa batas. Alam sering kali diperlakukan hanya sebagai alat pemuas kebutuhan, bukan sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dirawat. Akibatnya, berbagai persoalan lingkungan muncul dan semakin terasa dampaknya, seperti pencemaran, perubahan iklim, kerusakan hutan, hingga hilangnya berbagai jenis makhluk hidup. Mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga perusakan lingkungan dalam skala besar, semuanya memperparah krisis alam yang kita hadapi hari ini.
Padahal, sumber daya alam memang diciptakan untuk menunjang kehidupan manusia. Persoalannya bukan pada pemanfaatan alam itu sendiri, melainkan pada sikap manusia yang sering kali mengambil lebih dari yang dibutuhkan tanpa diiringi kepedulian untuk menjaga dan memulihkannya. Penebangan hutan menjadi contoh yang paling mudah ditemukan. Kebutuhan manusia memang menuntut penggunaan kayu, tetapi sering kali tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Ketidakseimbangan inilah yang kemudian memicu berbagai bencana, seperti banjir dan longsor, yang sejatinya merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Manusia menikmati hasil alam, sementara alam tidak mendapatkan perlakuan yang adil.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia dan alam bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling terhubung dan saling bergantung. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam, dan kelestarian alam pun sangat bergantung pada bagaimana manusia memperlakukannya. Ketika hubungan ini tidak seimbang, dampaknya bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia.
Salah satu contoh konkret dari cara hidup yang lebih selaras dengan alam dapat ditemukan dalam kisah keluarga Yoso Farm, yang ditampilkan dalam sebuah wawancara pada kanal YouTube OASIS. Dalam wawancara tersebut, Pak Widodo dan Bu Nurul menceritakan bagaimana mereka menjalani kehidupan dengan bertani dan beternak, tanpa ketergantungan besar pada uang. Mereka menyampaikan bahwa hidup tanpa uang memungkinkan selama manusia memiliki akses dan kedekatan dengan sumber daya alam. Makhluk lain dapat bertahan hidup tanpa uang, sementara manusia sering kali justru menggantungkan seluruh hidupnya pada materi.
Kisah ini tentu tidak berarti bahwa uang sama sekali tidak penting dalam kehidupan modern. Namun, pesan utamanya adalah bahwa alam sesungguhnya telah menyediakan banyak hal untuk menopang kehidupan manusia, selama manusia mampu mengelolanya dengan bijak dan bertanggung jawab. Ketergantungan berlebihan pada uang kerap membuat manusia semakin jauh dari alam dan lupa pada sumber kehidupan yang sesungguhnya.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepedulian terhadap alam bukanlah persoalan tambahan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Lingkungan, seperti halnya sebuah rumah, dapat menjadi tempat yang nyaman dan menyejahterakan apabila dirawat dengan baik. Kepedulian terhadap alam tidak hanya berdampak bagi makhluk hidup lain, tetapi pada akhirnya kembali menentukan kualitas hidup manusia itu sendiri. *(NM)
Referensi:
BiKIN IRI! Pasutri Hidup Tanpa Uang dari Kebun dan Ternak Halaman Rumah | Cerita Usaha Yoso Farm. (2025). YouTube. Diakses tanggal 10 Januari 2026, dari https://youtu.be/5Fv2tGv9_Vo.
