Dilema Pejuang Ekonomi yang Tak Lagi Dapat Bantuan Saat Pendapatan Meningkat -->

Header Menu

Dilema Pejuang Ekonomi yang Tak Lagi Dapat Bantuan Saat Pendapatan Meningkat

Jurnalkitaplus
10/01/26




Bayangkan Sobat telah lama tidak bekerja dan mencari pekerjaan selama berbulan‑bulan. Bantuan pemerintah yang ada sudah membantu membayar biaya sewa, listrik, dan makanan, tapi kamu masih bertahan hidup dengan susah payah. 

Akhirnya kamu mendapat panggilan wawancara dan menerima gaji pertama kalinya setelah berbulan‑bulan. 

Segalanya tampak mulai membaik. Namun rupanya pekerjaan baru Sobat hanya cukup untuk membuat kamu tidak lagi memenuhi syarat bantuan, namun tidak cukup untuk menutupi biaya yang sama. Selain itu, kamu harus membayar transportasi ke tempat kerja dan penitipan anak. 

Akibatnya, uang yang Sobat miliki malah lebih sedikit daripada saat masih menganggur. 

Ekonom menyebut situasi demoralisasi ini welfare trap (jebakan kesejahteraan) salah satu dari banyak jebakan kemiskinan yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. 

Jebakan kemiskinan adalah kondisi ekonomi dan lingkungan yang memperkuat diri, melanggengkan kemiskinan dari generasi ke generasi. Beberapa jebakan terkait dengan keadaan individu, seperti kurangnya akses ke makanan sehat atau pendidikan. 


Ketika harga makanan sehat tidak terjangkau (Ted-Ed)

Jebakan lain dapat menimpa seluruh negara, misalnya siklus pemerintahan korup atau perubahan iklim. Ironinya adalah jebakan ini muncul dari kebijakan yang dirancang untuk memerangi kemiskinan. 

Sebagian besar masyarakat sepanjang sejarah menggunakan beberapa strategi untuk membantu orang miskin memenuhi kebutuhan dasar. Sebelum abad ke‑20, kelompok agama dan amal pribadi sering memimpin inisiatif tersebut. Hari ini, program‑program ini disebut welfare (kesejahteraan) dan biasanya berupa subsidi pemerintah untuk perumahan, makanan, energi, dan layanan kesehatan. 

Biasanya program ini means‑tested, artinya hanya orang yang berada di bawah ambang pendapatan tertentu yang berhak menerima bantuan. Kebijakan ini dimaksudkan agar bantuan sampai kepada yang paling membutuhkan. Namun, itu juga berarti orang kehilangan bantuan segera setelah pendapatannya melebihi ambang batas, terlepas dari apakah mereka sudah cukup stabil secara finansial. 

Ann-Helen Bay dalam Ted-Ed "Why is it so hard to escape poverty?" pada 11 Januari 2022 menyatakan siklus ini merugikan, baik bagi mereka yang berada dalam kemiskinan maupun yang berada di luarnya. 

Jika orang miskin tahu mereka tidak akan memperoleh manfaat bersih dari bekerja, mereka cenderung tetap bergantung pada bantuan pemerintah. Tentu saja orang bekerja karena banyak alasan termasuk norma sosial dan nilai pribadi. Namun pendapatan tetap menjadi insentif utama untuk mencari pekerjaan. 

Ketika lebih sedikit orang mengambil pekerjaan baru, ekonomi melambat, membuat orang tetap terperangkap dalam kemiskinan dan bahkan mendorong mereka yang berada di ambang kemiskinan ke jurang yang lebih dalam. Beberapa pihak menyarankan agar siklus ini dihilangkan dengan menghapus seluruh program bantuan. Namun kebanyakan setuju bahwa solusi itu tidak realistis maupun manusiawi. 

Jadi, bagaimana merancang kembali manfaat agar tidak merugikan orang yang bekerja? Banyak negara mencoba berbagai cara menghindari masalah ini. Beberapa memperbolehkan orang tetap menerima bantuan selama periode tertentu setelah mendapatkan pekerjaan, sementara yang lain mengurangi bantuan secara bertahap seiring peningkatan pendapatan. 

Kebijakan ini masih mengurangi sebagian insentif finansial untuk bekerja, tetapi risiko jebakan kesejahteraan menjadi lebih rendah. 

Pemerintah lain menyediakan manfaat seperti pendidikan, penitipan anak, atau layanan medis secara universal bagi semua warga. 

Terdapat program Universal Basic Income (UBI), memberikan tunjangan tetap kepada semua anggota masyarakat terlepas dari kekayaan atau status pekerjaan. Ini satu‑satunya kebijakan yang diketahui dapat menghilangkan jebakan kesejahteraan sepenuhnya, karena penghasilan yang diperoleh akan menambah, bukan menggantikan bantuan. Dengan menciptakan lantai pendapatan yang stabil, UBI dapat mencegah orang jatuh ke dalam kemiskinan sejak awal. 

Banyak ekonom dan pemikir telah mendukung ide ini sejak abad ke‑18. Namun sampai kini, UBI masih sebagian besar hipotetik. Meski telah diuji di beberapa tempat dengan skala terbatas, percobaan lokal itu tidak memberi gambaran banyak tentang bagaimana kebijakan ini akan berjalan di seluruh negara. 

Sejauh ini diketahui hanya dengan memberdayakan orang atau komunitas untuk menciptakan perubahan jangka panjang dalam hidup, yang dapat memutus siklus kemiskinan. Gimana menurut Sobat JKPers. (ALR-26)