Efektifkah Memercayakan Bantuan Pada Orang yang Pernah Alami Masa Sulit? -->

Header Menu

Efektifkah Memercayakan Bantuan Pada Orang yang Pernah Alami Masa Sulit?

Jurnalkitaplus
11/01/26




Pada tahun 2018 sebuah organisasi nirlaba memberi setiap orang dewasa di desa Ahenyo, Kenya Barat, sebesar $500. Kebanyakan keluarga di sana telah hidup dalam kemiskinan ekstrem selama beberapa generasi, dan jumlah itu kira‑kira setara gaji tahunan sebagian besar penerima. 

Uang itu diberikan tanpa syarat selain komitmen untuk berbicara dengan peneliti setelah dua tahun. Mereka berharap aliran dana ini dapat mengangkat warga keluar dari kemiskinan, tetapi juga menyadari bahwa ini bisa menjadi salah satu dari sekian banyak upaya filantropi yang gagal. 

Pada tahun 1960‑an organisasi amal mulai berbagi, menggelontorkan miliaran dolar untuk pendidikan, pelatihan kerja, pembangunan pertanian, proyek infrastruktur, dan program kesehatan dalam upaya membantu negara‑negara miskin. Program‑program ini berharap menciptakan landasan pengetahuan dan modal yang dapat menumbuhkan kemandirian finansial dan memperkuat ekonomi yang lemah. 

Namun ketika ekonom mulai mempelajari bantuan semacam ini pada akhir 1990‑an dan awal 2000‑an, mereka terkejut. 

Setelah melakukan berbagai uji acak terkontrol, di mana satu kelompok menerima pendidikan atau pelatihan kerja dan kelompok lain tidak, peneliti menemukan bahwa bantuan jenis ini sering berdampak minim. 

Perlengkapan sekolah tidak meningkatkan pendidikan. Pelatihan kerja tidak selalu menaikkan pendapatan. Manfaat pendidikan gizi bervariasi drastis antar kelompok. 

Kekecewaan ini meluas ke model filantropi yang lebih baru. Pada saat itu banyak teoretikus mendukung mikro‑kredit, sebuah model yang menawarkan pinjaman kecil kepada wirausahawan di ekonomi lemah. Namun meski penerima mikro‑kredit secara konsisten melunasi pinjaman dengan bunga, program tersebut gagal meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan. 

Semua kegagalan ini membuat peneliti mempertimbangkan kembali strategi pemberian uang tunai langsung. 

Kebanyakan filantropis melihat pendekatan ini sebagai bentuk filantropi jangka pendek. Mereka menganggap penerima akan cepat menghabiskan uang dan kembali ke kondisi semula. Namun, ketika peneliti kembali ke Ahenyo dua tahun kemudian, hasilnya luar biasa. 

Pendapatan usaha naik 65%. Keluarga menabung lebih banyak dan makan lebih baik. Anak‑anak lebih berhasil di sekolah. Tingkat alkoholisme, depresi, kekerasan dalam rumah tangga, dan ketimpangan antar keluarga menurun. Dan dampak ini tidak hanya terjadi di Ahenyo. 


Ted-Ed 

Sejak studi itu, pemberian uang tunai langsung menjadi salah satu intervensi kemiskinan yang paling banyak diteliti, dan secara konsisten menunjukkan dampak yang sering kali melampaui program bantuan tradisional. 

Penelitian selanjutnya yang mencakup ratusan desa di Kenya menemukan bahwa ekonomi sekitar tumbuh lebih dari dua kali lipat dari jumlah yang diberikan hanya satu tahun setelah transfer tunai. 

Namun, pemberian uang tunai bukan solusi ajaib. 

Unggahan YouTube Ted-Ed bertajuk "What's the best way to lift people out of poverty?" pada 23 Oktober 2025 menyebut kemiskinan adalah masalah generasional yang perlu perubahan jangka panjang; dan karena intervensi ini relatif baru, kita masih belum memahami efek jangka waktu yang lebih lama. 

Misalnya, sebuah studi di Uganda yang dimulai pada 2008 menemukan bahwa meski transfer tunai meningkatkan pendapatan beberapa keluarga selama empat tahun pertama, efek positif itu menghilang pada lima tahun berikutnya, lalu terulang kembali di bawah tekanan pandemi COVID‑19. 

Jadi masih banyak yang harus dipelajari tentang bagaimana pemberian uang tunai berkembang seiring waktu. 

Program bantuan tradisional menganggap filantropis tahu kebutuhan terbaik suatu komunitas, sedangkan program pemberian uang tunai percaya bahwa orang yang mengalami kemiskinan paling memahami apa yang mereka butuhkan untuk keluar dari sana. Misalnya, bagi satu orang, memperbaiki rumah mungkin lebih penting untuk keberhasilan jangka panjang daripada memulai bisnis baru. Bagi orang lain, memastikan anaknya dapat menyelesaikan sekolah mungkin menjadi kunci untuk menghasilkan lebih banyak uang di masa depan. 

Mungkin kita sudah memiliki sarana atau modal untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem. Namun untuk melakukannya, institusi‑institusi ini harus belajar percaya pada orang‑orang yang pernah hidup dalam kondisi tersebut. Gimana menurut Sobat JKPers.

(ALR-26)