Jurnalkitaplus - Menjadi lulusan baru di Indonesia hari ini bukan perkara mudah. Gelar akademik tak lagi otomatis menjadi tiket masuk dunia kerja. Pasar tenaga kerja sedang berubah cepat—dan tidak ramah bagi mereka yang datang hanya dengan ijazah dan harapan besar.
Ketidakpastian ekonomi global, efisiensi perusahaan, hingga otomatisasi berbasis kecerdasan buatan telah menyempitkan ruang kerja level awal. Posisi yang dulu menjadi “pintu masuk” fresh graduate kini digantikan mesin atau diisi tenaga berpengalaman yang terlempar dari pasar kerja akibat PHK. Dalam situasi seperti ini, persaingan menjadi timpang sejak awal.
Namun, menyalahkan pasar semata juga tidak cukup. Kritik para praktisi SDM terhadap lulusan baru patut didengar. Masih banyak lulusan yang terlalu teoretis, minim pengalaman praktis, dan kurang terpapar kerja tim, pemecahan masalah, serta budaya kerja. Lebih problematis lagi, sebagian datang dengan ekspektasi gaji dan jenis pekerjaan yang tidak sejalan dengan realitas ekonomi.
Ironisnya, di saat lulusan sarjana berjubel mencari pekerjaan kerah putih, sektor kerah biru justru kekurangan tenaga. Manufaktur, logistik, konstruksi, perhotelan, hingga pertanian modern masih membuka peluang besar. Masalahnya bukan pada ketiadaan kerja, melainkan ketidaksiapan dan keengganan beradaptasi.
Di sinilah sistem pendidikan dan negara ikut diuji. Pendidikan vokasi yang digadang-gadang “siap kerja” ternyata belum sepenuhnya melahirkan lulusan yang disiplin, berintegritas, dan memahami standar dasar industri seperti keselamatan kerja. Link and match tak cukup di atas kertas; ia harus terasa di lantai produksi.
Dari semua realita yang ada baik di sadari maupun tidak, menegaskan satu hal: krisis pekerjaan fresh graduate bukan semata krisis lowongan, melainkan krisis kesiapan. Adaptasi adalah kata kunci. Masuk ke pekerjaan kerah biru bukan kemunduran, melainkan strategi bertahan. Batu loncatan lebih baik daripada menunggu lama di ruang hampa pengangguran.
Di sisi lain, pemerintah dan dunia industri tak bisa lepas tangan. Diperlukan kebijakan transisi kerja yang jelas, pelatihan teknis yang terjangkau, serta insentif bagi perusahaan yang mau merekrut dan membina lulusan baru. Tanpa itu, bonus demografi berisiko berubah menjadi beban demografi.
Pasar kerja memang semakin keras. Tetapi bagi lulusan baru yang mau belajar, menurunkan ego, dan mengasah keterampilan nyata, peluang belum mati—ia hanya berubah bentuk. (FG12)

