Generasi Z dan Gig Economy: Keseimbangan Kerja-Hidup yang Mustahil? -->

Header Menu

Generasi Z dan Gig Economy: Keseimbangan Kerja-Hidup yang Mustahil?

Jurnalkitaplus
06/01/26

Fenomena penting yang kita hadapi adalah sebuah sistem ekonomi di mana pekerja mengambil pekerjaan atau proyek independen, seringkali melalui platform digital seperti Uber, Tiktok, atau Fiverr daripada memiliki pekerjaan tetap atau kontrak jangka panjang. 

Karakteristik Generasi Z

  1. Kita sangat terampil dalam teknologi dan internet. Jadi, sering menggunakan perangkat mobile dan aplikasi untuk melakukan hampir semua hal, dari bekerja hingga bersosialisasi.

  2. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Kita lebih cenderung menginginkan pekerjaan yang memberikan tujuan lebih dari sekadar gaji. Mereka juga mencari keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, meski seringkali sulit dicapai.

  3. Sebagian besar kehidupan sosial generasi kita berlangsung di dunia digital, melalui media sosial dan aplikasi yang memungkinkan mereka untuk berhubungan langsung dengan dunia luar, termasuk dalam hal pekerjaan.

Gig Economy dan Gen Z

  1. Salah satu daya tarik utama gig economy bagi Gen Z adalah fleksibilitas. Bahkan bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, yang memungkinkan untuk mengatur waktu kerja sesuai dengan kehidupan pribadi.

  2. Generasi kita sering mengandalkan gig economy sebagai cara untuk mendapatkan pendapatan sampingan, selain pekerjaan tetap atau sebagai cara untuk memulai karier mereka tanpa terikat kontrak jangka panjang.

  3. Meskipun fleksibel, gig economy sering kali tidak memberikan keamanan finansial atau manfaat jangka panjang seperti asuransi kesehatan dan pensiun. Hal ini dapat menambah stres bagi yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan merencanakan masa depan.

Keseimbangan Kerja-Hidup dalam Konteks Gig Economy

  1. Pekerjaan gig sering kali datang dengan tuntutan yang tidak teratur. Meskipun memiliki fleksibilitas waktu, banyak pekerja gig harus siap bekerja di jam-jam yang tidak biasa, atau bahkan harus bekerja ekstra untuk memenuhi target pendapatan tertentu. Ini bisa mengganggu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

  2. Dalam gig economy, pendapatan tidak selalu konsisten. Hal ini bisa membuat individu merasa tertekan untuk terus bekerja lebih banyak demi memastikan keuangan kita tetap stabil, yang berpotensi mengorbankan waktu pribadi.

  3. Dalam upaya untuk menyeimbangkan antara fleksibilitas dan ketidakpastian, Gen Z yang bekerja di gig economy dapat mengalami burnout. Kita mungkin merasa kelelahan akibat usaha keras untuk mengelola banyak proyek sekaligus, atau merasa kesulitan untuk "menutup" pekerjaan di luar jam kerja yang fleksibel.

  4. Generasi kita lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, ketidakpastian dan tekanan finansial dalam gig economy bisa meningkatkan stres dan kecemasan. Kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan emosional.

Bagaimana Gen Z Mengelola Keseimbangan Kerja-Hidup?

  1. Banyak anggota dari kita yang bekerja di gig economy mencoba menetapkan batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, misalnya dengan menggunakan aplikasi pengelola waktu untuk mengatur jam kerja dan istirahat.

  2. Gen kita lebih selektif dalam memilih pekerjaan gig yang memberikan nilai lebih, baik dalam hal kreativitas, kesempatan untuk berkembang, atau dampak sosial.

  3. Dalam menghadapi tantangan yang muncul dari gig economy, cenderung mencari dukungan dari komunitas daring atau sesama pekerja gig untuk berbagi pengalaman dan tips mengelola stres dan tekanan.

  4. Untuk mengurangi ketidakpastian finansial, kita belajar untuk mengelola pendapatan dengan bijak, membuat anggaran, dan menghemat uang untuk masa depan. Kita lebih sering mencari cara untuk diversifikasi pendapatan.

Apakah Keseimbangan Kerja-Hidup Mustahil?

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi memang menjadi tantangan besar dalam konteks gig economy, terutama bagi Gen kita yang harus menghadapi ketidakpastian dan tuntutan pekerjaan yang terus berkembang. Namun, dengan strategi yang tepat, seperti menetapkan batasan, menjaga kesehatan mental, dan membuat perencanaan keuangan yang matang, masih dapat menemukan keseimbangan yang sehat. Keseimbangan tersebut mungkin tidak selalu sempurna, tetapi itu bukan hal yang mustahil, terutama jika mereka terus beradaptasi dan berinovasi dalam cara mereka bekerja dan hidup.

Bagi Gen Z, keseimbangan kerja-hidup dalam gig economy adalah perjalanan yang penuh tantangan. Dengan fleksibilitas dan kebebasan yang ditawarkan oleh model kerja ini, ada potensi besar untuk menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, meski membutuhkan pengelolaan yang hati-hati dan strategi untuk menghindari stres dan burnout.

FAI-32

Sumber referensi : 
Deloitte (2023/2024): Gen Z and Millennial Survey. Laporan ini adalah sumber paling kredibel yang menjelaskan mengapa Gen Z memilih side hustles (pekerjaan sampingan) dan bagaimana stres finansial memengaruhi kesehatan mental mereka.

McKinsey & Company (2022): Freelance, side hustles, and the gig economy: Gen Z's flexible future. Artikel ini membahas secara spesifik tren Gen Z yang lebih memilih fleksibilitas daripada keamanan kerja tradisional.

World Economic Forum (WEF): Laporan mengenai The Future of Jobs yang sering membahas bagaimana platform digital (Uber, Fiverr, dll) mengubah lanskap ketenagakerjaan bagi generasi muda.

Kreativitas dan Platform Digital: Wood, A. J., et al. (2019). Networked Labour: The Gig Economy and the Value of Social Networks. (Membahas bagaimana komunitas daring membantu pekerja gig).

Burnout dan Kesehatan Mental: Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience. (Relevan untuk bagian teks yang membahas risiko kelelahan akibat kerja tanpa batas waktu yang jelas).

Manajemen Batasan (Boundary Management): Kossek, E. E., & Lautsch, B. A. (2012). Work–life flexibility policies: A data-driven review. (Membahas strategi menetapkan batasan antara waktu pribadi dan kerja).