Generasi Z dan Hobi Baru: Apakah Crafting Bisa Menjadi Terapi? -->

Header Menu

Generasi Z dan Hobi Baru: Apakah Crafting Bisa Menjadi Terapi?

Jurnalkitaplus
29/01/26

Jurnalkitaplus - Generasi Z tumbuh di dunia yang serba cepat. Notifikasi tak pernah tidur, standar hidup terasa makin tinggi, dan perbandingan sosial hadir setiap kali jari membuka layar. Di tengah riuh ini, banyak dari mereka diam-diam lelah. Lelah secara mental, emosional, dan bahkan eksistensial.

Menariknya, di tengah hiruk-pikuk digital, muncul fenomena yang tampak sederhana: crafting. Merajut, meronce, membuat clay, journaling, menyulam, melukis, hingga DIY kecil-kecilan. Bagi sebagian orang tua, ini mungkin hanya "hobi lucu". Namun bagi Gen Z, ini sering kali menjadi ruang bernapas.

Lalu, memangnya crafting benar-benar bisa menjadi terapi?

Gen Z adalah generasi yang sangat sadar kesehatan mental, tetapi juga generasi yang hidup dalam tekanan konstan. Akademik, karier, validasi sosial, hingga krisis identitas sering datang bersamaan. Tidak semua orang siap atau mampu langsung ke ruang konseling. Di sinilah crafting masuk secara perlahan.

Crafting tidak menuntut kita untuk menjelaskan perasaan. Tidak meminta kita "cerita dari awal". Kita cukup duduk, memegang alat, dan membiarkan tangan bekerja. Dalam proses itu, pikiran yang semula berisik perlahan melambat.

Aktivitas berulang seperti merajut atau mewarnai terbukti membantu otak masuk ke kondisi fokus ringan—mirip dengan meditasi. Bukan kosong, tapi tenang.

Crafting dan Rasa "Aku Masih Punya Kendali"


Banyak kecemasan Gen Z lahir dari rasa tidak punya kendali: masa depan tidak pasti, ekonomi fluktuatif, ekspektasi sosial berubah-ubah. Crafting menawarkan kebalikan dari itu.

Dalam crafting:

  1. Kita menentukan warna

  2. Kita mengatur tempo

  3. Kita boleh salah tanpa dihakimi

Ada kepuasan kecil saat sebuah karya selesai. Tidak harus sempurna. Yang penting selesai. Perasaan ini—rasa mampu menyelesaikan sesuatu—berdampak besar bagi kesehatan mental.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas kreatif dapat meningkatkan self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu mengelola tantangan hidupnya. Bagi Gen Z yang sering merasa "tertinggal", ini bukan hal sepele.

Bukan Pengganti Psikolog, Tapi Jeda yang Menyelamatkan

Penting untuk jujur: crafting bukan pengganti terapi profesional. Namun ia bisa menjadi jembatan. Jeda. Tempat aman sementara sebelum seseorang siap mencari bantuan lebih lanjut.

Banyak psikolog mengakui bahwa aktivitas kreatif membantu menurunkan stres, memperbaiki suasana hati, dan mengurangi gejala kecemasan ringan hingga sedang. Bahkan, dalam konteks tertentu, crafting digunakan sebagai bagian dari art therapy.

Yang membuat Gen Z nyaman adalah sifatnya yang:

  1. Tidak menghakimi

  2. Fleksibel

  3. Murah dan mudah diakses

  4. Bisa dilakukan sendiri atau bersama komunitas

Menariknya, crafting tidak selalu berhenti di meja kerja. Banyak Gen Z menemukan komunitas—baik offline maupun online—yang berangkat dari hobi ini. Dari workshop kecil, bazar kreatif, hingga forum daring.

Di sana, mereka tidak ditanya:

  1. "Kerja di mana?"

  2. "Sudah sejauh apa hidupmu?"

Yang ditanya justru:

  1. "Ini bikin pakai apa?"

  2. "Belajarnya dari mana?"

Pertanyaan sederhana, tapi menghangatkan. Ada rasa diterima tanpa syarat. Dan bagi kesehatan mental, rasa dimiliki sering kali sama pentingnya dengan terapi itu sendiri.

Jadi, Apakah Crafting Bisa Menjadi Terapi?

Jawabannya: bisa menjadi bentuk terapi personal, terutama sebagai alat regulasi emosi dan pengelolaan stres. Bukan solusi tunggal, tapi penopang yang nyata. Di dunia yang menuntut Gen Z untuk selalu cepat, crafting mengajarkan satu hal penting: tidak apa-apa berjalan pelan, selama kita masih bergerak.


Kadang, menyembuhkan diri tidak selalu dimulai dari kata-kata. Tapi dari benang, warna, tanah liat, dan keberanian untuk duduk sebentar—bersama diri sendiri.

FAI-32

sumber referensi: 

1. Stuckey, H. L., & Nobel, J. (2010). The connection between art, healing, and public health.

2. Kaimal, G., et al. (2016). Reduction of cortisol levels and participants' responses following art making.

3. American Psychological Association (APA). Art therapy and mental health.

4. World Health Organization (WHO) (2019). What is the evidence on the role of the arts in improving health and well-being?

5. UNICEF (2021). The State of the World's Children: On My Mind.