Gertak Amerika Serikat, Iran Pajang Mural Kapal Perang AS yang Hancur -->

Header Menu

Gertak Amerika Serikat, Iran Pajang Mural Kapal Perang AS yang Hancur

Jurnalkitaplus
29/01/26




Jurnalkitaplus.com - Otoritas Iran meluncurkan lukisan dinding atau mural di billboard alun-alun Teheran, Minggu (25/1) berisi peringatan kepada Amerika Serikat untuk tidak mencoba serangan militer ke negaranya. 

Hal ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan AS memindahkan kapal perang ke wilayah tersebut "untuk berjaga-jaga" jika ia ingin mengambil tindakan. 

Menukil Saudi Gazette (26/1), Billboard atau papan reklame di Lapangan Enghelab menggambarkan sebuah kapal induk dengan jet tempur yang rusak dan meledak di deknya. Mayat dan genangan darah digambarkan menutupi dek dengan jejak darah menyerupai garis-garis bendera Amerika membentang di belakang armada. 

Lapangan Enghelab biasa digunakan untuk pertemuan yang diselenggarakan negara dengan pihak berwenang mengubah muralnya berdasarkan acara-acara nasional. 

Kepastian mural di Lapangan Enghelab bertepatan dengan pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perang pengiringnya menuju wilayah tersebut. 

Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan, "Kita memiliki armada besar yang menuju ke arah sana dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya," namun ia juga menandai jika AS benar-benar menyerang Iran kali ini, serangan tersebut akan lebih luas skalanya dibandingkan serangan udara yang pernah dilakukan AS terhadap situs nuklir Iran pada Juni sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Iran menanggapi bahwa Republik Islam akan membalas dengan semua yang dimiliki jika diserang lagi. "Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kita yang kuat tidak ragu untuk membalas tembakan dengan semua yang kita miliki jika kita diserang lagi," tulis Araghchi dalam opini yang dipublikasikan The Wall Street Journal, buntut konflik 12 hari dengan Israel pada bulan Juni. 

"Ini bukan ancaman, tetapi sebuah kenyataan yang menurut saya perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang," ujarnya.

Ketegangan terbaru antara Teheran dan Washington terjadi di tengah penindakan keras Iran terhadap demo nasional yang dimulai pada 28 Desember 2025. 

Menurut Kantor Berita Aktivis HAM yang berbasis di AS, jumlah korban tewas meningkat menjadi setidaknya 5.002 orang pada hari Jumat. Mereka pun menyebut lebih dari 41.280 orang telah ditangkap. 

Dikhawatirkan lebih banyak lagi yang tewas karena Iran masih mengalami pemadaman internet yang telah berlangsung lebih dari dua minggu, menyebabkan terbatasnya aliran informasi. 

Demonstrasi awalnya terjadi karena ketidakpuasan runtuhnya mata uang rial, tetapi kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap pemerintah negara tersebut. (ALR-26)