Kemiskinan Digital: Ketika Akses Teknologi Tidak Sama Rata -->

Header Menu

Kemiskinan Digital: Ketika Akses Teknologi Tidak Sama Rata

Jurnalkitaplus
09/01/26

Di era digital saat ini, akses terhadap teknologi dan internet menjadi kebutuhan dasar, terutama bagi generasi muda. Namun, kenyataannya, tidak semua dari kita memiliki akses yang setara terhadap teknologi. Maka dari itu, inilah kemiskinan yang terjadi. 

1. Ketimpangan Akses Internet

Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama UNICEF, sekitar 35% siswa melaporkan koneksi internet yang buruk selama pembelajaran jarak jauh. Selain itu, sekitar 18% siswa tidak memiliki sarana untuk mengakses pembelajaran daring. 

2. Keterbatasan Perangkat dan Infrastruktur

Banyak siswa harus berbagi perangkat seperti smartphone dengan anggota keluarga lainnya untuk mengikuti pembelajaran daring. Hal ini menunjukkan keterbatasan infrastruktur dan perangkat yang dimiliki oleh keluarga, terutama di daerah terpencil. 

3. Literasi Digital yang Minim

Studi UNICEF mengungkap bahwa banyak anak dan orang tua tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang keamanan di dunia maya. Hanya 37,5% anak yang telah menerima informasi tentang cara agar tetap aman saat daring. 

4. Rasa Tersisih dari Dunia Digital

Anak-anak yang tidak memiliki akses ke teknologi merasa tertinggal dan terisolasi dari teman-teman mereka yang lebih terhubung secara digital. Hal ini dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan kesehatan mental mereka.

5. Dampak Psikologis dan Sosial

Keterbatasan akses teknologi dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan perasaan tidak berdaya di kalangan anak muda. Mereka mungkin merasa kurang kompeten dibandingkan dengan teman-teman mereka yang lebih terhubung secara digital.

Solusi dan Harapan untuk Masa Depan

  1. Peningkatan Infrastruktur Digital: Pemerintah perlu memperluas jangkauan internet ke daerah-daerah terpencil dan memastikan ketersediaan perangkat yang memadai untuk siswa.

  2. Edukasi Literasi Digital: Program pelatihan bagi siswa dan orang tua tentang penggunaan teknologi yang aman dan efektif sangat penting untuk meningkatkan literasi digital.

  3. Dukungan Psikososial: Menyediakan layanan konseling dan dukungan emosional bagi anak-anak yang merasa terisolasi atau stres akibat keterbatasan akses teknologi.

  4. Kolaborasi dengan Lembaga Swasta: Kemitraan dengan perusahaan teknologi dapat membantu menyediakan perangkat dan akses internet bagi komunitas yang membutuhkan.

Kemiskinan digital adalah tantangan nyata yang mempengaruhi kesejahteraan generasi muda. Dengan upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang inklusif dan mendukung bagi semua anak.

FAI-32

sumber referensi 

https://www.unicef.org/indonesia/id/siaran-pers/covid-19-laporan-baru-unicef-mengungkap-setidaknya-sepertiga-anak-sekolah-di-seluruh?utm_source=chatgpt.com

https://www.unicef.org/indonesia/id/perlindungan-anak/laporan/pengetahuan-dan-kebiasaan-daring-anak-di-indonesia-sebuah-kajian-dasar-2023?utm_source=chatgpt.com