Lingkungan Rusak, Pikiran Tertekan: Dampak Krisis Iklim pada Generasi Z -->

Header Menu

Lingkungan Rusak, Pikiran Tertekan: Dampak Krisis Iklim pada Generasi Z

Jurnalkitaplus
05/01/26


Topik ini sangatlah penting, terutama dalam meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim dan apa yang akan berdampak di masa depan. Generasi kita seringkali terjebak dalam ketidakpastian tentang masa depan yang lebih ramah lingkungan, yang justru menciptakan rasa stres dan kecemasan. 

Inilah aspek dampak krisis iklim pada kesehatan mental dan kehidupan sosial generasi kita : 

  1. Ketidakpastian Masa Depan : Kita sering kali merasa cemas dan khawatir tentang masa depan, karena perubahan iklim yang semakin buruk dapat mempengaruhi kehidupan dalam jangka panjang. Kita juga menyaksikan cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya yang semakin sering terjadi. Ketidakpastian ini meningkatkan kecemasan mereka tentang apakah mereka akan hidup di dunia yang lebih aman dan layak huni.

  2. Kecemasan Lingkungan : Fenomena kecemasan lingkungan atau eco-anxiety telah meningkat secara signifikan di kalangan kita. Ini adalah jenis kecemasan yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan yang terus terjadi, seperti polusi udara, kerusakan ekosistem, dan bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim. Banyak dari mereka merasa tidak berdaya dan khawatir bahwa tindakan mereka tidak cukup untuk memperbaiki keadaan. Kecemasan ini bisa berujung pada perasaan putus asa, depresi, dan kelelahan mental.

  3. Ketidaksetaraan Sosial dan Ekonomi: Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi. Generasi kita yang tinggal di wilayah rawan bencana atau daerah yang terpengaruh oleh krisis iklim sering kali merasakan dampaknya secara langsung. Bahkan melihat ketimpangan antara negara-negara kaya yang menyebabkan sebagian besar polusi dan negara-negara miskin yang paling terdampak. Hal ini memperburuk perasaan frustasi dan ketidakadilan di kalangan anak muda.

  4. Dampak Terhadap Kesehatan Mental : Krisis iklim dapat mengintensifkan berbagai gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stres. Ketika kita menyaksikan perubahan iklim yang semakin buruk, mereka bisa merasa tidak berdaya, apalagi jika mereka merasa tidak ada cukup langkah konkret yang diambil oleh pemerintah atau industri untuk mengatasi masalah ini. Masalah seperti eco-grief (perasaan berduka atas kerusakan lingkungan) dan climate trauma (trauma yang disebabkan oleh bencana iklim) juga mulai dikenal.

  5. Perasaan Tidak Terkendali dan Stres : Bagi kita, merasa tidak terkendali adalah salah satu aspek yang paling menantang. Bahkan melihat pemimpin dunia gagal dalam mengambil tindakan yang cukup untuk mengurangi dampak perubahan iklim, yang meningkatkan perasaan frustasi. Ketika mereka merasa bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan, stres dan ketegangan mental menjadi lebih parah. Proses adaptasi terhadap dunia yang semakin panas, dengan ancaman akan bencana alam atau kerusakan lingkungan lainnya, bisa sangat membebani pikiran.

  6. Hubungan dengan Aktivisme dan Pengaruh Media Sosial : Generasi kita sering terhubung dengan dunia melalui media sosial, di mana mendapatkan informasi terkait krisis iklim. Banyak yang terlibat dalam gerakan aktivisme lingkungan, seperti yang dipimpin oleh Greta Thunberg dan gerakan Fridays for Future. Aktivisme ini memberi mereka saluran untuk mengungkapkan keprihatinan kita, namun, tekanan sosial yang tinggi di media sosial juga dapat meningkatkan stres dan perasaan terisolasi. Terkadang, aktivisme ini terasa seperti tugas yang berat karena dampak nyata dari upaya mereka sulit terlihat dalam jangka pendek.

  7. Menghadapi Kehilangan dan Kerusakan Alam: Generasi kita juga menyaksikan hilangnya keanekaragaman hayati, yang mengarah pada perasaan kehilangan yang mendalam terhadap alam. Kehilangan spesies, kerusakan hutan, dan degradasi sumber daya alam lainnya menyebabkan mereka merasa kehilangan hubungan yang erat dengan alam, yang dapat memperburuk perasaan depresi dan ketidakbahagiaan.

  8. Mencari Solusi yaitu Kekuatan Kolektif: Namun, ada juga sisi positif dari reaksi Generasi kita terhadap krisis iklim. Banyak yang terlibat dalam berbagai upaya keberlanjutan, seperti mengurangi sampah, menggunakan energi terbarukan, dan berpartisipasi dalam aksi pro-klimatik. Terlibat dalam solusi dapat memberi rasa kontrol dan tujuan yang lebih besar, membantu mengurangi kecemasan.

  9. Menghadapi Generasi Sebelumnya: Generasi kita sering merasa tertekan oleh perasaan bahwa generasi sebelumnya gagal menangani masalah perubahan iklim dengan serius. Jadi, kita merasa bahwa harus menghadapi akibat dari keputusan yang dibuat oleh orang tua dan pemimpin. Hal ini dapat memperburuk perasaan stres dan ketidakadilan yang dirasakan oleh kita.

  10. Peran Pendidikan dan Penyuluhan: Pendidikan menjadi kunci penting dalam membekali kita dengan informasi yang kita butuhkan untuk menghadapi tantangan iklim dengan optimisme dan tanggung jawab. Penyuluhan mengenai cara-cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi jejak karbon dan menjaga kelestarian lingkungan bisa membantu mengurangi rasa cemas dan memberikan rasa empowerment.


Krisis iklim memberikan dampak besar pada kesejahteraan mental Generasi Z. Rasa cemas tentang masa depan, ketidakadilan sosial, dan ketidakmampuan untuk mengubah keadaan adalah beberapa tantangan psikologis yang dihadapi. Namun, dengan peningkatan kesadaran dan partisipasi dalam solusi yang berkelanjutan,  juga dapat menemukan cara untuk mengurangi dampak negatif ini pada kesehatan mental.


FAI-32

sumber referensi : 

Kecemasan & Ketidakpastian Hickman et al. (2021) - The Lancet
Eco-anxiety & Eco-grief American Psychological Association (APA)
Ketidakadilan Global Laporan IPCC (2022)
Aktivisme (Greta Thunberg) Fridays for Future Research / Nature Climate Change
Pendidikan & Empowerment UNESCO - Education for Sustainable Development