Mengulik Gimana Plastik Mengubah Dunia Jadi Praktis -->

Header Menu

Mengulik Gimana Plastik Mengubah Dunia Jadi Praktis

Jurnalkitaplus
14/01/26




Hari ini plastik ada di mana‑mana. Rupanya semua plastik ini bermula dari satu benda kecil, yang bukan terbuat dari plastik. 

Unggahan Ted-Ed yang diarahkan Sharon Colman pada 10 September 2020 lalu, yang membahas "A brief history of plastic" menjelaskan hal ini. 

Selama berabad‑abad bola biliar terbuat dari gading gajah. Namun, karena perburuan berlebihan membuat populasi gajah menurun pada abad ke‑19, pembuat bola biliar mulai mencari pengganti dan membuat sayembara hadiah kepada yang berhasil menggantikan bola dari gading. 

Maka pada tahun 1863 seorang warga Amerika bernama John Wesley Hyatt menantang diri. Dalam lima tahun berikutnya ia menciptakan bahan baru bernama celluloid, terbuat dari selulosa, senyawa yang ada di kayu dan jerami. Hyatt kemudian menyadari celluloid tidak cocok untuk bola biliar, bahan itu tidak cukup berat dan pantulannya tidak pas. 

Tapi celluloid bisa diwarnai dan dipola supaya mirip bahan mahal seperti karang, cangkang kura‑kura, amber, atau mutiara. Ia telah menciptakan apa yang disebut plastik pertama kalinya. 

Kata "plastik" bisa merujuk ke bahan apa saja yang terbuat dari polimer, yaitu molekul besar yang terdiri dari subunit yang berulang. Ini mencakup semua plastik buatan manusia, serta banyak bahan yang ada pada makhluk hidup. Tapi biasanya orang menyebut plastik sebagai bahan sintetis. 

Ciri umum plastik adalah awalnya lunak dan dapat dibentuk, lalu mengeras menjadi bentuk tertentu. 

Meski menjadi plastik resmi pertama, celluloid sangat mudah terbakar sehingga produksinya jadi berisiko. Penemu pun mulai mencari alternatif lain. Pada 1907, seorang kimiawan menggabungkan fenol (limbah tar batubara) dengan formaldehid, menciptakan polimer keras bernama bakelit

Bakelit jauh lebih tahan api daripada celluloid dan bahan bakunya lebih mudah didapat. 

Bakelit baru awal saja. Di 1920‑an peneliti pertama kali mengembangkan polistirena, plastik berongga untuk isolasi. Tak lama kemudian muncul polyvinyl chloride (vinil) yang lentur tapi kuat. Ada pula akrilik yang menghasilkan panel transparan, tidak mudah pecah, mirip kaca. 

Pada 1930‑an nylon pun muncul. Sebuah polimer yang dirancang meniru sutra, tapi jauh lebih kuat. Mulai 1933 polyethylene menjadi salah satu plastik paling serbaguna, dipakai sampai sekarang untuk kantong belanja, botol sampo, bahkan rompi anti‑peluru. 


Ted-Ed

Penemuan teknik injection‑moulding memungkinkan plastik cair disuntikkan ke cetakan apa saja, lalu cepat mengeras. Ini membuka peluang membuat produk dalam bentuk dan variasi baru, serta memproduksi plastik secara murah dan cepat. 

Ilmuwan berharap bahan murah ini membuat barang yang dulu mahal menjadi terjangkau. Tapi plastik malah dipakai dalam Perang Dunia II. Selama perang, produksi plastik di Amerika Serikat naik empat kali lipat.

Tentara memakai pelindung helm plastik, jas hujan vinil tahan air. Pilot duduk di kokpit plexiglass, plastik anti‑pecah, dan mengandalkan parasut nylon yang kuat. 

Setelah perang, perusahaan plastik yang tumbuh selama perang beralih ke produk konsumen. Plastik mulai menggantikan kayu, kaca, kain pada furnitur, pakaian, sepatu, televisi, dan radio. 

Plastik yang serbaguna membuka peluang kemasan, dirancang supaya makanan dan barang lain tetap segar lebih lama. Tiba‑tiba ada kantong sampah plastik, plastik wrap yang elastis, botol plastik yang dapat diperas, kotak makan sekali pakai, serta wadah plastik untuk buah, sayur, dan daging. 

Hanya dalam beberapa dekade, bahan serbaguna ini melahirkan apa yang disebut "abad plastik". 

Meski abad plastik membawa kemudahan dan biaya rendah, ia juga menimbulkan masalah lingkungan yang luar biasa. Banyak plastik terbuat dari sumber daya tidak terbarukan. Kemasan plastik dirancang sekali pakai, tapi beberapa plastik butuh ratusan tahun untuk terurai, sehingga menumpuk menjadi sampah. 

Maka di abad inilah kita harus fokus inovasi untuk mengatasi masalah itu, dengan mengurangi penggunaan plastik, mengembangkan plastik biodegradable, dan menemukan cara baru mendaur ulang plastik yang sudah ada. (ALR-26)