Mindfulness vs Multitasking: Tantangan Menyeimbangkan Kehidupan Digital -->

Header Menu

Mindfulness vs Multitasking: Tantangan Menyeimbangkan Kehidupan Digital

Jurnalkitaplus
20/01/26

Di era digital saat ini, kehidupan kita sering kali dibanjiri dengan berbagai informasi dan tuntutan dari dunia maya. Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi, Gen Z menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan antara kecanggihan digital dan kesehatan mental mereka. Salah satu topik yang semakin relevan adalah pentingnya mindfulness (kesadaran penuh) dalam kehidupan sehari-hari, yang sering kali bertentangan dengan kebiasaan multitasking yang menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. 

Berikut adalah beberapa aspek utama yang menggambarkan tantangan ini:

1. Pengaruh Multitasking terhadap Kesehatan Mental

Multitasking adalah kebiasaan yang umum di dunia digital. Kita sering kali merasa bisa melakukan banyak hal sekaligus, mulai dari bekerja sambil memeriksa media sosial, membaca email sambil mendengarkan podcast, hingga menjawab pesan teks selama rapat virtual. Namun, riset menunjukkan bahwa multitasking sebenarnya dapat mengurangi produktivitas dan mempengaruhi kesehatan mental kita.

Penelitian yang dilakukan oleh University of California, Irvine menemukan bahwa multitasking menyebabkan penurunan kinerja otak dan meningkatkan tingkat stres. Setiap kali kita beralih dari satu tugas ke tugas lainnya, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, yang dapat menurunkan kemampuan kita untuk fokus dan menyelesaikan pekerjaan dengan efektif. (Ophir, Nass, & Wagner, 2009).

2. Mindfulness sebagai Solusi untuk Stres Digital

Di sisi lain, mindfulness atau kesadaran penuh menawarkan pendekatan yang lebih sehat terhadap kehidupan digital. Mindfulness mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen dan memperhatikan apa yang kita lakukan tanpa distraksi. Praktik mindfulness terbukti dapat mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung kesehatan mental yang lebih baik.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychology menunjukkan bahwa mindfulness dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi, yang sering kali diperburuk oleh stres yang berasal dari multitasking dan tekanan dunia digital. Mindfulness membantu individu untuk mengelola stres lebih baik dengan memusatkan perhatian pada pernapasan, tubuh, dan perasaan mereka di saat ini.

3. Kehidupan Digital dan Tantangan Keseimbangan

Kehidupan digital memang membawa banyak keuntungan, tetapi juga bisa sangat mengganggu. Dengan adanya notifikasi yang terus-menerus, banyak orang merasa tertekan untuk selalu terhubung. Hal ini membuat keseimbangan antara pekerjaan, waktu pribadi, dan istirahat semakin sulit dicapai.

Seperti yang dilaporkan dalam laporan American Psychological Association (2021), lebih dari 60% orang merasa stres karena tidak bisa melepaskan diri dari dunia digital, dan lebih dari 40% merasa kecemasan mereka meningkat setelah menghabiskan waktu yang lama di media sosial. Terlebih lagi, perasaan "FOMO" (fear of missing out) sering kali muncul saat kita terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di platform digital.

4. Pentingnya Mengatur Waktu untuk Mindfulness

Untuk mengatasi tantangan ini, sangat penting bagi kita untuk menetapkan waktu untuk praktik mindfulness dalam rutinitas sehari-hari. Ini bisa berupa meditasi, yoga, atau sekadar menghabiskan waktu untuk menyendiri tanpa gangguan digital. Menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan offline dapat membantu kita merasa lebih tenang dan fokus.

Penelitian dari Harvard Business Review (2017) menunjukkan bahwa bahkan 10 menit latihan mindfulness setiap hari sudah cukup untuk mengurangi tingkat kecemasan dan meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan.

5. Peran Teknologi dalam Mendukung Mindfulness

Untungnya, teknologi juga bisa mendukung mindfulness. Ada berbagai aplikasi yang dirancang untuk membantu kita menjadi lebih sadar dan hadir, seperti Headspace, Calm, dan Insight Timer, yang menawarkan meditasi terpandu dan latihan pernapasan. Aplikasi-aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengatur waktu sejenak untuk diri mereka sendiri, membantu mengurangi tekanan digital dan meningkatkan kesejahteraan mental.

6. Multitasking dalam Dunia Digital: Solusi dan Tantangan

Penting untuk mengenali kapan multitasking bisa produktif dan kapan itu justru merugikan. Dalam dunia kerja digital, multitasking seringkali diperlukan untuk menyelesaikan banyak tugas dengan cepat. Namun, jika dilakukan tanpa kesadaran, hal ini bisa berdampak negatif pada kualitas pekerjaan dan kesejahteraan mental kita.

Berkat penelitian dari Stanford University, kita kini tahu bahwa otak kita hanya dapat memproses informasi secara efektif satu per satu. Oleh karena itu, lebih baik mengatur waktu untuk fokus pada satu tugas dengan penuh perhatian (single-tasking), daripada terburu-buru beralih antara berbagai tugas tanpa benar-benar menuntaskannya.

7. Kesimpulan: Menemukan Keseimbangan

Menyeimbangkan kehidupan digital dengan mindfulness adalah tantangan yang besar, tetapi sangat penting bagi kesehatan mental kita. Dengan mengurangi kebiasaan multitasking yang berlebihan dan mempraktikkan mindfulness, kita bisa mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan menjaga kesejahteraan mental yang lebih baik di tengah dunia yang serba cepat ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberi ruang bagi diri sendiri, belajar untuk berhenti sejenak, dan menikmati momen tanpa gangguan digital.

FAI-32

Sumber Referensi:

Ophir, E., Nass, C., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(37), 15583-15587. 

Hölzel, B. K., et al. (2011). Mindfulness practice leads to increases in regional brain gray matter density. Psychiatry Research: Neuroimaging, 191(1), 36-43. 

American Psychological Association. (2021). Stress in America 2021: A national mental health crisis. 

Harvard Business Review. (2017). The power of mindfulness.