Pendidikan atau Tekanan? Dampak Sistem Pendidikan pada Mental Gen Z -->

Header Menu

Pendidikan atau Tekanan? Dampak Sistem Pendidikan pada Mental Gen Z

Jurnalkitaplus
03/01/26

Jurnalkitaplus - Pendidikan memiliki dampak pada mental generasi Z, bisa dibedakan dalam beberapa dimensi, seperti tekanan akademik, pengaruh teknologi, bahkan sampai ekspektasi sosial. 

Lalu inilah rincian tentang pengaruh sistem pendidikan terhadap mental kita: 

  1. Tekanan Akademik : 

  1. Sistem pendidikan modern seringkali mengutamakan nilai dan prestasi akademik. banyak siswa terutama di negara dengan sistem pendidikan yang sangat kompetitif,seperti merasa tertekan untuk mencapai nilai sempurna atau berprestasi di berbagai bidang contohnya olimpiade, ujian masuk perguruan tinggi, dan kegiatan ekstrakurikuler. tekanan ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan kelelahan. 

  2. Kehadiran beban tugas yang berat dan banyaknya ujian atau tes, justru banyak siswa merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri, hal itulah beresiko mengalami burnout di mana kelelahan mental dan fisik. 


  1. Pengaruh Teknologi dan Media Sosial:

  1. Generasi kita memang tumbuh di ea teknologi dan media sosial mendominasi hampir semua aspek kehidupan. koneksi terus-menerus bisa berakibat pada kesejahteraan mental, karena merasa selalu diperbandingkan dengan orang lain melalui sosial media. seperti standar kecantikan, kesuksesan, bahkan kehidupan ideal yang sering dipamerkan di medsos. hal ini bisa menambah kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri. 

  2. Akses ke internet memberikan mereka informasi yang sangat banyak, tetapi juga dapat menyebabkan kebingungannya. kita harus memfilter banyaknya informasi dan pendapat yang seringkali kontradiktif, yang bisa membingungkan dan meningkatkan stres.

  1. Ekspektasi Sosial dan Keluarga: 

  1. Banyak siswa merasa bahwa orang tua mereka memiliki ekspektasi yang sangat tinggi dalam hal pencapaian akademik atau prestasi. Hal ini bisa menyebabkan perasaan tidak cukup baik, takut mengecewakan orang tua, atau bahkan terjebak dalam beban tugas yang berlebihan.

  2. kita sering kali berada dalam situasi sosial dan ekonomi yang tidak stabil, misalnya dengan meningkatnya biaya pendidikan, ketidakpastian ekonomi, dan tantangan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik setelah lulus. Ini dapat menciptakan rasa ketidakpastian tentang masa depan mereka, yang memperburuk kesehatan mental.

  1. Kesehatan Mental dan Stigma: 

  1. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan dan depresi kita lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tekanan akademik yang tinggi, ditambah dengan stres dari penggunaan media sosial dan harapan yang tidak realistis dari lingkungan sekitar, menjadi faktor utama penyebabnya.

  2. Meskipun perhatian terhadap kesehatan mental semakin meningkat, masih ada stigma terkait dengan berbicara tentang masalah mental di banyak lingkungan pendidikan. Hal ini menyebabkan banyak siswa merasa terisolasi, malu, atau enggan untuk mencari bantuan profesional.

  1. Kurangnya Keterampilan Hidup: 

  1. Sistem pendidikan lebih fokus pada keterampilan akademik daripada keterampilan emosional atau sosial. Banyak dari kita yang belum diajarkan cara mengelola stres, mengembangkan rasa percaya diri, atau berinteraksi secara sehat dengan orang lain. Hal ini memperburuk masalah mental mereka karena mereka tidak dilengkapi dengan alat yang diperlukan untuk menghadapi tekanan hidup.

  1. Peran Guru dan Dukungan Pendidikan : 

  1. Walaupun banyak guru yang berdedikasi, namun tidak semua sistem pendidikan menyediakan dukungan emosional atau psikologis yang cukup bagi siswa. Hal ini dapat meningkatkan perasaan kesepian atau kehilangan arah bagi generasi kita.

  2. Beberapa sekolah mulai mengintegrasikan pendekatan yang lebih holistik terhadap pendidikan, dengan fokus pada perkembangan pribadi dan kesehatan mental siswa. Namun, implementasinya masih terbatas dan tidak merata di banyak tempat.

Faktor baiknya dari segi perubahan dalam pendidikan dan kesadaran kesehatan mental : 

  1. Sistem pendidikan saat ini semakin terbuka untuk mendiskusikan pentingnya kesehatan mental. Banyak sekolah dan universitas mulai menawarkan konseling dan dukungan untuk membantu siswa mengelola stres dan kecemasan.

  2. Pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi dapat membantu siswa merasa lebih mandiri dan terkendali dalam proses pembelajaran mereka. Namun, hal ini juga dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak diterapkan dengan bijaksana, karena dapat menciptakan ketergantungan pada perangkat teknologi.

Secara keseluruhan, meskipun sistem pendidikan yang ada saat ini menghadirkan banyak tantangan bagi mental generasi kita, ada juga potensi perubahan dan perkembangan yang positif jika pendidikan dapat lebih berfokus pada kesejahteraan siswa secara holistik.


FAI-32

sumber referensi : 
American Psychological Association (APA): Laporan tahunan Stress in America sering menyoroti bahwa Gen Z adalah generasi dengan tingkat stres tertinggi, terutama terkait beban sekolah.

Pascoe, S. C., Hetrick, S. E., & Parker, A. G. (2020): Dalam penelitian "The impact of stress on students in secondary school and higher education", dijelaskan bagaimana tekanan akademik berdampak langsung pada kualitas tidur dan kesehatan mental siswa.

Twenge, J. M. (2017): Dalam bukunya "iGen", Dr. Jean Twenge memaparkan data statistik tentang bagaimana peningkatan penggunaan smartphone sejak 2012 berkorelasi langsung dengan kenaikan tingkat depresi dan kecemasan pada remaja.

Primack, B. A., et al. (2017): Penelitian dalam American Journal of Preventive Medicine menunjukkan hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan perasaan isolasi sosial.

Curran, T., & Hill, A. P. (2019): Studi berjudul "Perfectionism is increasing over time" dalam jurnal Psychological Bulletin menemukan bahwa "perfeksionisme yang didikte secara sosial" (merasa orang lain menuntut kesempurnaan dari kita) meningkat drastis pada generasi muda saat ini.

OECD (Organization for Economic Cooperation and Development): Laporan mengenai Education at a Glance sering membahas hubungan antara biaya pendidikan tinggi dan kecemasan finansial mahasiswa.

CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning): Organisasi ini menyediakan banyak sumber daya tentang pentingnya Social Emotional Learning (SEL) dan bagaimana ketidakhadirannya dalam kurikulum membuat siswa tidak siap menghadapi stres.

World Health Organization (WHO): Adolescent Mental Health report menekankan bahwa sekolah adalah tempat krusial untuk intervensi kesehatan mental, namun seringkali kekurangan sumber daya atau terhambat oleh stigma budaya.