Prabowo “Retretkan” Kabinet di Hambalang: Apa Maknanya di Balik Seragam Safari? -->

Header Menu

Prabowo “Retretkan” Kabinet di Hambalang: Apa Maknanya di Balik Seragam Safari?

Jurnalkitaplus
05/01/26



Jurnalkitaplus Presiden Prabowo Subianto akan kembali mengumpulkan seluruh anggota Kabinet Merah Putih dalam retret yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (6/1/2026). Agenda ini dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, yang menyebut retret akan berlangsung satu hari dan diwajibkan diikuti oleh seluruh menteri beserta wakil menteri.

Kegiatan ini menjadi retret kabinet jilid kedua dalam masa pemerintahan Prabowo–Gibran, kurang lebih setahun setelah retret pertama yang digelar di Akademi Militer Magelang pascapelantikan Kabinet Merah Putih. Seperti sebelumnya, isu dress code kembali mencuri perhatian: seluruh peserta diminta mengenakan seragam safari berwarna cokelat muda (khaki), langkah yang menurut sebagian pengamat terlihat simbolik sekaligus instruktif.

Seragam—khaki—bukan sekadar pilihan costuming. Di mata publik, ia menyiratkan citra disiplin, kesiapan, dan “kedekatan dengan medan tugas” yang ingin ditanamkan oleh Prabowo kepada para pembantunya. Konotasi militeristik namun diklaim bukan militeristik itulah yang menjadi ciri khas retret-retret kabinet yang terjadi sepanjang pemerintahan ini.

Retret kabinet sendiri sesungguhnya bukan fenomena baru dalam politik Indonesia. Bung Karno pernah menggunakan konferensi strategis sebagai medium menyatukan visi kabinetnya; rezim lain pun melakukannya untuk menyelaraskan arahan kebijakan. Namun yang membedakan retret Prabowo adalah penekanannya pada mental disiplin ala militer, yang tampak sengaja dipilih sebagai alat framing pemerintahan: tegas, terarah, dan siap menghadapi kompleksitas tantangan negara.

Dalam retret pertama, jajaran kabinet bukan hanya mengikuti sesi pengarahan, tetapi juga aktivitas outdoor seperti baris–berbaris dan trekking yang mencerminkan pendekatan leadership fisik dan mental di luar ruang rapat formal. Meski dipresentasikan sebagai pembekalan nasionalisme dan kedisiplinan, aktivitas semacam ini juga menuai kritik karena dianggap mengaburkan batas antara pemerintahan sipil dan praktik militeristik.

Retret Hambalang 2026 ini memiliki konteks politik yang tidak bisa dilepaskan dari realitas kekinian: masyarakat tengah menyaksikan pemerintahan baru yang penuh ambisi agendanya, sementara berbagai isu domestik menunggu solusi riil. Apakah retret akan menjadi momen perekat visi kabinet atau sekadar ritual estetis yang menjauhkan kabinet dari konstituen? Ini yang menjadi pertanyaan krusial menjelang pembukaan agenda kerja pemerintahan di awal tahun. Analisis yang tajam dibutuhkan untuk melihat apakah retret hanyalah simbolisme kepemimpinan, atau justru strategi manajerial yang efektif dalam mengorientasikan jalannya pemerintahan.

Publik tentu berharap bahwa pertemuan semacam ini tidak berhenti pada seragam safari dan jargon kedisiplinan, tetapi mampu menghasilkan keputusan kebijakan yang konkret, relevan, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.