Serba Mudah, Serba Canggih: Apakah Generasi Muda Masih Berpikir Kritis? -->

Header Menu

Serba Mudah, Serba Canggih: Apakah Generasi Muda Masih Berpikir Kritis?

Jurnalkitaplus
17/01/26





Zaman semakin berkembang. Begitu pula dengan teknologi yang dari hari ke hari terasa semakin canggih. Secara logika, kemajuan ini seharusnya membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan maju. Namun, benarkah semua kemudahan itu benar-benar kita rasakan?

Untuk melihatnya lebih jelas, mari kita ambil satu aspek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu pendidikan. Banyak orang beranggapan bahwa semakin berkembang teknologi suatu negara, maka kualitas pendidikannya juga akan semakin baik. Apalagi saat ini teknologi memungkinkan kita untuk belajar dari mana saja dan kapan saja. Informasi tersedia begitu luas dan mudah diakses hanya dengan sebuah gawai dan koneksi internet.

Contohnya, ketika ingin mempelajari bahasa asing, kita tidak lagi harus datang ke tempat kursus. Belajar bisa dilakukan dari rumah melalui berbagai aplikasi pembelajaran. Begitu pula saat ingin berdiskusi pelajaran dengan teman atau dosen yang terhalang jarak, teknologi seperti Zoom atau Google Meet menjadi solusi. Semua terasa praktis dan efisien.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan: mengapa realitas di lapangan justru tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan itu? Saat ini, banyak penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis pelajar justru mengalami penurunan. Padahal, dengan akses pembelajaran yang semakin mudah, seharusnya generasi muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang dan berpikir lebih kritis.

Memasuki era revolusi digital 4.0, teknologi informasi dan komunikasi telah menyebar ke hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk di Indonesia. Data Google Consumer Behaviour (dalam Supratman, 2018) menunjukkan bahwa sekitar 50% dari total penduduk Indonesia merupakan pengguna internet, dan sebagian besar di antaranya adalah generasi muda yang tergolong sebagai digital native. Digital native adalah individu yang lahir dan tumbuh di era digital, di mana teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak usia dini (Aunul, 2019).

Kondisi ini kemudian memunculkan perubahan besar dalam cara informasi disebarkan dan dikonsumsi. Batas antara media tradisional dan media digital semakin samar, hingga akhirnya media sosial menjadi ruang utama dalam arus informasi. Media sosial menawarkan beragam jenis konten yang menarik dan mudah diakses (Nurfadhillah et al., 2021). Namun, di sisi lain, penyajian informasi yang serba cepat dan instan ini dinilai dapat menurunkan daya fokus serta kemampuan berpikir kritis penggunanya (Gultom et al., 2020).

Paparan konten digital yang berlebihan, terutama konten pendek yang dikonsumsi secara terus-menerus, juga memunculkan kekhawatiran akan fenomena brain rot. Kementerian Pertahanan Indonesia menyebut bahwa brain rot bukanlah istilah medis, melainkan metafora yang menggambarkan kemunduran kemampuan kognitif akibat pola hidup modern yang sangat bergantung pada teknologi (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2025). Dalam konteks ini, peran orang tua menjadi penting untuk memperhatikan dan mengarahkan penggunaan media sosial pada anak-anak.

Selain dampak media sosial, gambaran kemampuan berpikir kritis generasi muda juga dapat dilihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional (OECD, 2019). Rendahnya kemampuan literasi membaca, yang menjadi dasar dalam berpikir kritis, tentu berdampak pada kemampuan siswa dalam memahami dan menganalisis informasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih cenderung menekankan hafalan dibandingkan pemahaman konsep. Siswa lebih diarahkan untuk mengingat materi daripada mengolah, mempertanyakan, dan mengembangkannya secara kritis (Hidayah & Fitriani, 2021). Akibatnya, kemampuan untuk berpikir analitis dan mengembangkan ide-ide kreatif pun menjadi kurang terasah.

Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehadiran teknologi yang canggih belum tentu secara otomatis meningkatkan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Tanpa pendampingan, literasi digital, dan sistem pendidikan yang mendorong pemahaman mendalam, kemudahan akses justru berpotensi membuat proses belajar menjadi dangkal.
(NM)



Referensi:

ASOSIASI PERISET BAHASA SASTRA INDONESIA https://share.google/lnIuuFldWFMKWJ0LG