Skincare for the Soul: Apa itu Self-Care yang Sebenarnya bagi Gen Z? -->

Header Menu

Skincare for the Soul: Apa itu Self-Care yang Sebenarnya bagi Gen Z?

Jurnalkitaplus
14/01/26

Jurnalkitaplus - Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, Generasi Z  menghadapi tantangan kesehatan mental yang unik. Self-care bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan emosional dan mental. Namun, apa sebenarnya makna self-care bagi Gen Z, dan bagaimana mereka mempraktikkannya?

1. Tekanan Sosial Media dan Kesehatan Mental

Gen Z tumbuh di era digital, di mana media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, eksposur terus-menerus terhadap kehidupan orang lain yang tampak sempurna dapat memicu perasaan tidak cukup baik dan kecemasan. Fenomena ini dikenal sebagai "comparison culture", di mana individu membandingkan diri mereka dengan orang lain di media sosial, sering kali merasa kurang atau tidak memadai.

2. Pandemi dan Isolasi Sosial

Pandemi COVID-19 membawa dampak besar terhadap kesehatan mental Gen Z. Isolasi sosial, pembelajaran jarak jauh, dan ketidakpastian masa depan meningkatkan tingkat stres dan kecemasan. Bagi Gen Z yang sedang membentuk identitas diri, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan emosional.

3. Kesadaran Tinggi terhadap Isu Global

Gen Z dikenal sebagai generasi yang peduli terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim, ketidakadilan sosial, dan politik. Namun, kepedulian ini sering kali membawa beban emosional yang berat. Mereka merasa bertanggung jawab untuk membuat perubahan, yang dapat menyebabkan stres dan kelelahan mental.

4. Praktik Self-Care yang Populer di Kalangan Gen Z

Self-care bagi Gen Z bukan hanya tentang perawatan fisik, tetapi juga mencakup aspek emosional dan spiritual. Beberapa praktik self-care yang populer di kalangan Gen Z antara lain:

  1. Meditasi dan Mindfulness: Menggunakan aplikasi seperti Calm dan Headspace untuk mengelola stres dan meningkatkan fokus.

  2. Journaling: Menulis jurnal sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan dan refleksi diri.

  3. Olahraga Ringan: Melakukan yoga atau berjalan kaki untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

  4. Digital Detox: Mengurangi waktu di media sosial untuk menghindari overstimulasi dan perbandingan sosial.

  5. Self-Reward: Memberikan hadiah kepada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.

5. Hambatan dalam Mencari Bantuan Profesional

Meskipun Gen Z lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental, banyak dari mereka yang masih enggan mencari bantuan profesional. Alasan utamanya adalah stigma sosial, biaya yang tinggi, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan mental yang terjangkau.

6. Peran Komunitas dan Dukungan Sosial

Dukungan dari komunitas dan lingkungan sekitar sangat penting dalam membantu Gen Z menjaga kesehatan mental. Membangun hubungan yang sehat, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dapat menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan kesepian.

FAI-32 

Sumber referensi : 

https://garapmedia.com/gen-z-pentingnya-kesehatan-mental-dan-self-care/

https://mulamula.id/self-care-ala-gen-z-menjaga-kesehatan-mental-di-era-digital/

https://inspirasinusantara.id/self-diagnose-dan-self-care-di-kalangan-gen-z-tren-yang-meningkat-di-era-digital/

https://kumparan.com/silvia-zahra-1729317318254785501/gen-z-tidak-bercerita-tetapi-self-reward-menjaga-kesehatan-mental-ala-gen-z-23zTdrz1iJT

https://www.mckinsey.com/industries/healthcare/our-insights/addressing-the-unprecedented-behavioral-health-challenges-facing-generation-z