Jurnalkitaplus - Persoalan sampah di wilayah urban selalu menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Serang yang secara resmi membuka gerbang Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong untuk sampah dari Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi sorotan tajam. Meski kebijakan ini sering kali menuai pro-kontra, Pemkot Serang mengeklaim bahwa keran kerja sama ini kini mengalir tanpa hambatan berarti.
Suara Warga: Dari Penolakan Menuju Kesepakatan
Poin krusial dalam kerja sama antarwilayah ini adalah restu dari masyarakat lokal. Belajar dari pengalaman sebelumnya, di mana protes warga sering kali melumpuhkan operasional pembuangan, Pemkot Serang kali ini menegaskan bahwa warga sekitar telah memberi lampu hijau.
Langkah merangkul warga sebagai "pengawas" lapangan adalah strategi cerdas sekaligus berisiko. Melibatkan masyarakat dalam pengecekan truk sampah dari Tangsel bertujuan untuk menciptakan transparansi, memastikan bahwa apa yang dibuang sesuai dengan kapasitas dan perjanjian yang ada.
Simbiosis Mutualisme atau Beban Lingkungan?
Secara administratif, kerja sama ini merupakan bentuk bantuan antar-daerah yang saling menguntungkan. Bagi Tangsel, ini adalah napas lega di tengah krisis lahan pembuangan. Bagi Kota Serang, masuknya kompensasi atau "uang bau" menjadi tambahan pemasukan daerah yang seharusnya dikembalikan untuk pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah terdampak.
Namun, yang perlu diingat adalah daya tampung TPAS Cilowong itu sendiri. Pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada kelancaran koordinasi saat ini, tetapi juga harus memikirkan dampak jangka panjang bagi ekosistem lingkungan dan kesehatan warga setempat.
Transparansi Sebagai Kunci
Keberhasilan kerja sama ini sangat bergantung pada konsistensi Pemkot Serang dalam menjaga komitmen kepada warga. Melibatkan Satgas Investasi dalam pengawasan menunjukkan bahwa ini bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan urusan manajemen aset dan sosial yang serius.
Jika transparansi dijaga dan janji terhadap warga ditepati, kiriman sampah ini bisa menjadi model kolaborasi antar-daerah yang sukses. Namun jika pengawasan kendor, Cilowong hanya akan menjadi bom waktu berikutnya bagi Kota Serang. (FG12)

