Stigma di Dunia Kerja: Menyoroti Kesehatan Mental Generasi Baru -->

Header Menu

Stigma di Dunia Kerja: Menyoroti Kesehatan Mental Generasi Baru

Jurnalkitaplus
07/01/26

Jurnalkitaplus - Kesehatan di tempat kerja telah menjadi topik yang semakin penting dalam beberapa akhir ini, yang difokuskan dengan meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan generasi baru. Tapi, kita sadar terhadap isu mental berkembang, hal ini membuat stigma terkait dengan masalah yang masih sering ada, terutama lingkungan profesional. 

Stigma terkait kesehatan mental di tempat kerja merujuk pada sikap atau pandangan negatif yang diberikan kepada individu yang mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau burnout. Stigma ini bisa datang dari atasan, rekan kerja, atau bahkan diri sendiri. Biasanya, stigma ini menyebabkan individu merasa malu atau terisolasi, dan bisa mempengaruhi generasi kita untuk tidak mencari bantuan atau berbicara tentang masalah yang kita alami.

Faktor Penyebab Stigma

  1. Banyak orang masih belum memiliki pemahaman yang cukup tentang kondisi kesehatan mental. Penyakit mental sering dianggap sebagai kelemahan pribadi, bukannya kondisi medis yang membutuhkan dukungan dan perawatan.

  2. Di lingkungan kerja yang sangat kompetitif, pekerja mungkin merasa bahwa menunjukkan kelemahan, termasuk masalah kesehatan mental, dapat merusak reputasi kita. Ini menciptakan budaya di mana pekerja merasa harus terus berprestasi dan menunjukkan ketahanan tanpa memperhatikan kesejahteraan mental mereka.

  3. Ada pandangan bahwa generasi baru, terutama Millennial dan Gen Z, lebih rentan terhadap stres dan masalah mental. Kita jadi sering dianggap lebih "sensitif" atau tidak tahan banting dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini dapat memperburuk stigma, karena masalah mental dianggap kurang serius atau sebagai tanda ketidakmampuan.

Dampak Stigma terhadap Generasi Baru

  1. Karena stigma, banyak pekerja muda enggan mengungkapkan perasaan mereka atau mencari bantuan profesional. Ini bisa memperburuk kondisi kita dan mengarah pada penurunan produktivitas, ketidakpuasan kerja, atau bahkan absensi yang lebih tinggi.

  2. Ketika bahkan merasa bahwa mereka harus menyembunyikan masalah kesehatan mental, pekerja muda dapat merasakan kecemasan dan stres yang semakin memburuk. Ini dapat berpengaruh pada kualitas hidup kita secara keseluruhan, bahkan di luar lingkungan kerja.

  3. Dalam beberapa kasus, beberapa dari kita yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan mental mungkin merasa kurang dihargai atau dipertimbangkan untuk mendapatkan promosi atau peluang karier. hal ini bisa menghambat kemajuan karier dan meningkatkan rasa frustasi atau keputusasaan. 

Solusi untuk Mengatasi Stigma

  1. Organisasi perlu memberi pelatihan kepada manajer dan karyawan tentang pentingnya kesehatan mental serta cara mengidentifikasi tanda-tanda masalah kesehatan mental di tempat kerja. Edukasi ini dapat membantu mengurangi prasangka dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental.

  2. Perusahaan harus mengembangkan kebijakan yang mendukung karyawan yang berjuang dengan kesehatan mental. Ini bisa mencakup cuti sakit mental, fleksibilitas jam kerja, atau akses ke program konseling

  3. Menumbuhkan budaya perusahaan yang mendorong keterbukaan, di mana karyawan merasa aman untuk berbicara tentang kesehatan mental tanpa takut dihakimi atau didiskriminasi, dapat membantu mengurangi stigma.

  4. Organisasi dan perusahaan perlu melakukan kampanye yang mempromosikan pentingnya kesejahteraan mental di tempat kerja. Ini dapat membantu mengubah persepsi bahwa kesehatan mental adalah masalah yang hanya dialami oleh individu yang lemah.

Mengubah Pandangan terhadap Generasi Baru

Perubahan budaya di tempat kerja juga harus mencakup pemahaman yang lebih baik tentang tantangan yang dihadapi oleh generasi baru. Masalah kesehatan mental yang dihadapi oleh generasi muda tidak selalu disebabkan oleh ketidakmampuan atau kelemahan, tetapi seringkali dipicu oleh tekanan sosial, ekspektasi tinggi, dan ketidakpastian ekonomi yang lebih besar.

Dengan lebih banyak dukungan dan pemahaman, stigma dapat dikurangi dan generasi baru akan merasa lebih nyaman untuk mencari bantuan dan menjaga kesejahteraan generasi kita, baik secara mental maupun fisik.

Kesimpulan

Stigma tentang kesehatan mental di tempat kerja adalah isu penting yang harus ditangani untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan inklusif. Meskipun tantangan besar masih ada, perusahaan dan pekerja dapat bekerja bersama untuk mengurangi stigma dan menciptakan tempat kerja yang lebih ramah terhadap kesehatan mental, terutama bagi generasi baru yang sangat berharga dalam dunia kerja saat ini.

FAI-32


sumber referensi : 


McKinsey Health Institute. (2022). Addressing the unprecedented lack of mental health wellbeing in Gen Z. McKinsey & Company.

World Health Organization. (2022). WHO guidelines on mental health at work. Geneva: World Health Organization.

Greenwood, K., & Anas, J. (2021). It's a New Era for Mental Health at Work. Harvard Business Review.