Umur: Ilusi Angka Mengukur Makna Hidup -->

Header Menu

Umur: Ilusi Angka Mengukur Makna Hidup

Jurnalkitaplus
02/01/26



Jurnalkitaplus - Manusia sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengenal angka umur. Yang kita sebut usia hanyalah konstruksi angka, hasil kesepakatan sosial, catatan administrasi, dan penanggalan buatan. Umur bukan realitas yang bisa disentuh, melainkan ruang kosong yang diisi tafsir, ambisi, dan ketakutan manusia sendiri.


Angka umur sering diperlakukan seolah ia menentukan nilai seseorang: muda berarti potensial, tua berarti usang. Padahal hidup tidak bergerak dalam barisan angka yang rapi. Ada yang berumur muda tapi jiwanya renta, ada pula yang berumur senja namun pikirannya masih segar dan merdeka. Angka gagal menjelaskan kedalaman pengalaman, kebijaksanaan, atau luka yang dilalui seseorang.


Umur menjadi kosong ketika ia dipisahkan dari makna. Seseorang bisa menua tanpa tumbuh, bertambah tahun tanpa bertambah kesadaran. Dalam kondisi itu, umur hanya deret bilangan yang lewat tanpa isi. Sebaliknya, hidup yang penuh makna bisa terjadi tanpa peduli berapa angka yang melekat di kartu identitas.


Manusia sering terjebak pada umur: batas usia kerja, batas usia pantas bermimpi, batas usia untuk dihormati. Padahal kehidupan tidak pernah menanyakan angka, ia hanya menagih kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk hidup dengan sadar.



Jika umur hanyalah angka, maka yang sejati adalah bagaimana manusia mengisinya. Tanpa makna, umur memang kosong, sekadar hitungan waktu menuju lupa. Namun dengan kesadaran, setiap detik melampaui angka dan menjelma kehidupan yang penuh makna. (AR11)