AI Bukan 'Pembunuh' Kreativitas, Tapi Ujian bagi Orisinalitas Manusia -->

Header Menu

AI Bukan 'Pembunuh' Kreativitas, Tapi Ujian bagi Orisinalitas Manusia

Jurnalkitaplus
04/02/26

 


JURNALKITAPLUS – Perdebatan lama mengenai apakah kecerdasan buatan (AI) akan menggusur seniman, penulis, dan pemikir kreatif akhirnya mendapat jawaban berbasis data. Studi terbaru bertajuk Kreativitas yang Berbeda pada Manusia dan Model Bahasa Skala Besar yang dirilis Scientific Reports (21/1/2026) menegaskan satu hal: AI mungkin bisa mengalahkan rata-rata manusia, namun ia tetap bertekuk lutut di hadapan "puncak" kreativitas manusia.


Kemenangan 10 Persen Manusia Terpilih


Riset kolaboratif dari Universitas Montreal hingga Google DeepMind ini menggunakan alat ukur Divergent Association Task (DAT). Hasilnya mengejutkan sekaligus melegakan. Skor rata-rata 50 persen peserta paling kreatif tetap melampaui model AI manapun. Bahkan, kesenjangan kualitas ini melebar drastis pada kelompok 10 persen individu paling kreatif.


Artinya, untuk tugas-tugas generik, AI memang pemenangnya. Namun untuk karya yang membutuhkan kedalaman emosional, orisinalitas radikal, dan pengalaman hidup, manusia masih memegang takhta tertinggi.


Paradoks AI: Membantu si Amatir, Membatasi si Ahli


Temuan menarik lainnya datang dari Universitas Exeter. AI terbukti menjadi "tongkat penyangga" yang luar biasa bagi mereka yang kurang kreatif—meningkatkan kualitas tulisan hingga 26,6 persen. Namun, bagi penulis profesional yang sudah memiliki kreativitas bawaan tinggi, AI justru hampir tidak memberikan manfaat.


Di sinilah letak bahayanya: Homogenitas. Ketika semua orang menggunakan bantuan AI yang sama, karya-karya yang dihasilkan cenderung menjadi seragam dan kehilangan keunikan kolektif. Dunia terancam dipenuhi oleh konten yang "bagus tapi serupa," mirip dengan produk pabrikan yang kehilangan sentuhan tangan pengrajin.


Interaksi Manusia: 'Suhu' di Balik Mesin


Riset ini juga membongkar rahasia dapur AI. Kreativitas mesin sangat bergantung pada "suhu model" (parameter teknis respons) dan cara instruksi (prompt) ditulis. Dengan kata lain, AI hanyalah cermin dari kualitas penggunanya. Jika instruksinya dangkal, hasilnya pun medioker.


Karim Jerbi, pemimpin studi dari Universitas Montreal, menegaskan bahwa interaksi manusia tetap menjadi pusat proses kreatif. AI hanyalah asisten yang memperluas jalan, bukan sopir yang menentukan tujuan.


Transformasi Pendidikan: Dari Menjawab ke Bertanya


Menanggapi fenomena ini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, memberikan perspektif segar. Di era di mana jawaban bisa didapat dalam hitungan detik lewat AI, peran guru harus bergeser.


Pendidikan masa depan tidak lagi boleh fokus pada melatih anak untuk menjawab pertanyaan, melainkan melatih mereka untuk mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Kualitas pertanyaan adalah cermin dari kedalaman sistem berpikir seseorang.


Kesimpulan: Masa Depan yang Simbiotik


Kita tidak perlu melihat AI sebagai ancaman eksistensial, melainkan sebagai alat untuk "bersih-bersih" dari tugas kreatif yang membosankan. AI akan memaksa manusia untuk naik level—meninggalkan hal-hal yang bisa diotomatisasi dan fokus pada apa yang membuat kita benar-benar manusia: imajinasi yang tak terprediksi.


Namun, para profesional jangan cepat berpuas diri. Seperti peringatan Paul Seli dari Universitas Duke, AI berkembang secara eksponensial. Jika suatu saat mesin mampu meniru intuisi manusia, satu-satunya benteng pertahanan kita hanyalah pengalaman hidup yang autentik—sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh barisan kode biner manapun. (FG12)