Ambisi Ekonomi 2026, Antara Target Tinggi dan Realitas Global -->

Header Menu

Ambisi Ekonomi 2026, Antara Target Tinggi dan Realitas Global

Jurnalkitaplus
14/02/26



Jurnalkitaplus – Memasuki tahun fiskal 2026, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memasang target yang tidak main-main. Dalam berbagai kesempatan, sinyal optimisme terpancar kuat: ekonomi Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi didorong untuk melakukan lompatan besar.


Namun, di tengah gemuruh target pertumbuhan yang membidik angka di atas 5,4 persen—bahkan hingga ambisi jangka menengah 8 persen—pertanyaan mendasar tetap membayangi: sejauh mana realitas global dan daya beli domestik mampu menopang ambisi tersebut?


Optimisme di Tengah Transisi


Presiden menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional saat ini berada dalam kondisi yang tangguh. Dengan inflasi yang relatif terkendali di kisaran 2,5 persen dan defisit anggaran yang dijaga ketat di bawah 3 persen PDB, pemerintah merasa memiliki ruang gerak untuk mengakselerasi pembangunan.


Fokus tahun ini jelas: penguatan ekonomi dari lapisan bawah melalui program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan desa nelayan secara terintegrasi. Pemerintah meyakini bahwa dengan menghidupkan mesin ekonomi di tingkat desa, pertumbuhan tidak hanya akan terkonsentrasi di pusat, tetapi merata hingga ke pelosok.


Benturan Realitas: Tantangan Kelas Menengah


Namun, editorial kami mencatat adanya celah yang perlu diwaspadai. Meski angka makro terlihat cantik, tekanan di tingkat rumah tangga belum sepenuhnya mereda. Data menunjukkan adanya penyusutan proporsi kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, kelas inilah yang selama ini menjadi mesin utama konsumsi domestik.


Jika target pertumbuhan tinggi dipatok tanpa perbaikan signifikan pada upah riil dan penciptaan lapangan kerja berkualitas di sektor formal, maka optimisme pemerintah berisiko menjadi angka-angka yang hampa bagi rakyat kecil. Pertumbuhan 5,4 persen atau lebih hanya akan menjadi bermakna jika mampu "menetes ke bawah" secara efektif.


Navigasi Ketidakpastian Global


Di sisi luar, tantangan tidak kalah pelik. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan kebijakan tarif perdagangan dari negara-negara besar tetap menjadi ancaman nyata bagi kinerja ekspor kita. Investasi asing (FDI) memang terus mengalir, namun persaingannya kian ketat. Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi yang efisien dan kompetitif.


2026 Tahun Pembuktian


Kita mengapresiasi keberanian pemerintah dalam membidik target tinggi tahun ini. Tanpa ambisi, sebuah bangsa akan jalan di tempat. Namun, sikap "optimistis tapi tetap realistis" yang sering digaungkan harus benar-benar diimplementasikan dalam kebijakan yang lincah dan berpihak pada daya beli rakyat.


Tahun 2026 akan menjadi tahun pembuktian: apakah Indonesia mampu benar-benar "lepas landas" atau justru harus kembali melakukan penyesuaian karena tertampar realitas global yang tak kenal kompromi. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dari APBN benar-benar menjadi stimulus yang menggerakkan sektor riil, bukan sekadar pemanis di atas kertas laporan keuangan. (FG12)