Jurnalkitaplus - Dalam segmen bedah buku kali ini, saya ingin berbagi refleksi dari sebuah novel yang cukup mengganggu pikiran saya setelah membacanya: Alter Ego: Nayla vs Jiwanya. Saya membacanya bukan dengan niat mencari hiburan semata, tapi lebih sebagai proses memahami bahwa tidak semua orang yang terlihat "baik-baik saja" benar-benar sedang baik-baik saja.
Ada kalimat yang sering kita dengar: "I'm fine, I'm okay." Atau dalam versi yang lebih santai: I'm gwenchanayo, I'm always fine Tapi kenyataannya, banyak orang yang terlihat ceria justru menyimpan luka yang sangat dalam. Secara fisik mungkin utuh, tapi secara mental perlahan runtuh.
Buku ini membawa saya pada satu konsep yang tidak semua orang familiar: alter ego. Secara sederhana, alter ego adalah kondisi ketika seseorang memiliki kepribadian lain yang hidup di dalam dirinya, namun ia sendiri tidak menyadari bahwa kepribadian itu sedang mengambil alih tubuhnya. Seolah ada karakter lain yang "menumpang", bertindak, berbicara, bahkan mengambil keputusan, sementara pemilik tubuh tetap merasa dirinya tidak melakukan apa-apa.
Saya percaya, fenomena ini tidak muncul begitu saja. Dalam buku ini tergambar jelas bahwa alter ego lahir dari luka yang terlalu berat untuk ditanggung satu jiwa. Bisa karena kehilangan, trauma yang tidak pernah benar-benar sembuh, atau pengalaman kekerasan yang terus berulang sampai seseorang terpaksa menciptakan versi lain dari dirinya—versi yang lebih kuat, lebih berani, lebih kebal terhadap rasa sakit.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Naila. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak aman. Ayahnya digambarkan sebagai sosok yang kasar, sering melakukan kekerasan terhadap ibunya. Dari situlah, tanpa ia sadari, lahir kepribadian lain dalam dirinya—sebut saja Layla—yang jauh lebih agresif, lebih berani, dan jauh lebih gelap.
Layla adalah sisi Nayla yang tumbuh dari trauma. Ia bukan hanya melindungi, tapi juga menyerang. Ketika Naila merasa terancam atau terluka, Layla muncul dan mengambil alih. Yang mengerikan, Naila sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan Layla. Ada momen dimana Layla membakar rumah, bahkan hampir membunuh seseorang, sementara Naila tetap merasa dirinya tidak bersalah karena memang tidak ingat apa-apa.
Ada satu bagian yang cukup menampar saya: ketika Layla berkata bahwa semua laki-laki sama saja. Kalimat itu tidak muncul dari kebencian tanpa sebab, tapi dari memori kekerasan masa kecil yang belum pernah disembuhkan. Figur ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber luka. Maka, Layla hadir sebagai tameng—meski caranya salah.
Dalam hubungan pertemanan dan cinta, Nayla bertemu dengan Bagas, seseorang yang juga memiliki latar belakang keluarga yang tidak utuh. Mereka saling merasa cocok, saling mengisi, hingga akhirnya saling menyakiti. Saat Bagas mengecewakan Nayla, Layla kembali muncul dan melakukan hal yang ekstrem: membunuh Bagas. Sekali lagi, Naila tidak menyadari apa pun.
Plot twist yang paling mengganggu bagi saya adalah ketika sahabat Naila, Andi, mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat Nayla di UKS, tapi di saat yang sama juga melihat Nayla membawa pisau. Di situlah mulai terlihat bahwa yang berjalan bukan hanya satu jiwa dalam satu tubuh.
Ada satu adegan yang sangat simbolik: Nayla tertidur, tapi Layla terbangun. Layla berdiri di hadapan Andi dan berkata, "Pergi. Kamu mau menyakiti Nayla, kan? Biar saya saja yang menjaganya." Kalimat itu terasa seperti jeritan jiwa yang terlalu lama sendirian. Layla bukan jahat tanpa alasan; ia hanya lelah menjadi satu-satunya pelindung.
Dari sini saya menarik satu refleksi penting: sebenarnya, tidak ada orang yang bisa menyembuhkan luka kita sepenuhnya, selain diri kita sendiri.
Saya teringat sebuah diskusi dalam sebuah book party pada Agustus 2025. Ada seseorang yang berkata, kurang lebih seperti ini:
"Sebelum memperbaiki hubungan dengan orang lain, bereskan dulu hubungan dengan diri sendiri dan masa lalu. Jangan berharap luka kita disembuhkan oleh orang lain. Itu tidak adil. Hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri."
Kalimat itu terasa sangat relevan dengan kisah Nayla. Karena pada akhirnya, alter ego bukanlah solusi, melainkan mekanisme bertahan. Ia hanya menunda kehancuran, bukan menyembuhkan.
Buku ini membuat saya sadar bahwa setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ada yang diberi keluarga utuh, tapi kehilangan arah. Ada yang tidak punya sahabat tetap, tapi memiliki keluarga yang lengkap. Tidak ada hidup yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah bagaimana kita berdamai dengan apa yang kita punya, dan bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.
Alter Ego: Nayla vs Jiwanya bukan sekadar cerita tentang gangguan mental. Ia adalah refleksi tentang manusia yang terlalu lama memendam luka sampai jiwanya sendiri menciptakan perlindungan palsu. Dan dari semua itu, saya belajar satu hal sederhana namun berat: jangan sampai kita menyerahkan tanggung jawab penyembuhan diri kepada orang lain. Karena pada akhirnya, yang harus berdiri menghadapi masa lalu kita—adalah kita sendiri.
FAI-32
sumber referensi :
Alter Ego: Nayla vs Jiwanya karya Rani Puspita

