Bedah Buku : Ayat-ayat Cinta -->

Header Menu

Bedah Buku : Ayat-ayat Cinta

Jurnalkitaplus
19/02/26


Jurnalkitaplus - Dalam segmen bedah buku kali ini, saya kembali membuka salah satu karya yang mungkin sudah sangat akrab di telinga banyak orang: Ayat-Ayat Cinta. Entah lewat novelnya, filmnya, atau sekadar potongan kisah yang beredar di media sosial, cerita ini seakan sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif kita. Namun, alih-alih kembali membicarakan Fahri sebagai tokoh utama, saya justru ingin menyoroti satu sosok yang sering luput dari perhatian: Maryam.

Bagi saya, Maryam bukan sekadar tokoh pendukung. Ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana manusia berjalan dalam hidupnya masing-masing, dengan jalur hidayah yang berbeda-beda. Setiap orang punya waktunya sendiri, punya prosesnya sendiri, dan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang di balik pilihan hidupnya.

Sering kali kita mudah menghakimi. Kita melihat seseorang yang memilih jalan yang menurut kita "salah", lalu tanpa sadar bertanya: kok bisa sih dia jadi seperti itu? Tapi jarang sekali kita berhenti dan bertanya lebih dalam: kenapa dia sampai di titik itu? Apa yang ia lalui? Lingkungan seperti apa yang membentuknya? Luka apa yang mungkin tidak pernah kita lihat?

Pengalaman pribadi saya juga mengajarkan hal yang sama. Saya pernah berada di lingkungan pertemanan yang sangat berbeda dengan nilai yang saya yakini. Ada momen di mana saya memilih diam, bukan karena setuju, tapi karena sadar tidak punya cukup kedekatan untuk menasihati. Saya tahu, satu kalimat saja bisa membuat jarak, bisa memicu konflik, bisa mengubah hubungan menjadi canggung. Maka saya memilih memposisikan diri sebagai pengamat: hadir, tapi tidak larut.

Di titik itu, saya belajar bahwa iman bukan sesuatu yang statis. Ia bisa goyah, bisa naik turun, tergantung lingkungan, pergaulan, dan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Fenomena ikut-ikutan, atau yang sekarang sering disebut FOMO (fear of missing out), ternyata sangat nyata. Ketika semua teman melakukan hal yang sama, kita merasa aneh jika tidak ikut. Bukan karena kita ingin, tapi karena takut tertinggal.

Namun, pertanyaannya selalu kembali ke diri sendiri: sejauh mana kita mau mempertahankan jati diri? Apakah kita cukup kuat untuk tetap menjadi diri kita, meski berbeda? Atau justru kita mengorbankan prinsip demi diterima?

Lingkungan memang bisa membentuk kita menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Saya melihat sendiri bagaimana seseorang yang awalnya tidak tertarik pada dunia kreatif, justru berkembang karena punya akses, alat, dan kesempatan. Dari sekadar membeli perangkat, ia belajar desain, belajar mengedit, belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Di situ saya sadar, tidak semua ikut-ikutan itu buruk. Ada kalanya FOMO justru menjadi pintu masuk untuk bertumbuh.

Kembali ke Maryam. Ia mencintai Fahri, seseorang dengan keyakinan yang berbeda. Namun yang menarik bukan sekadar soal cinta, melainkan rasa ingin tahunya. Maryam mulai bertanya: mengapa Fahri begitu sabar, begitu sopan, begitu tenang? Dari rasa penasaran itulah, ia perlahan membuka diri terhadap sesuatu yang baru. Bukan karena dipaksa, bukan karena dihakimi, tapi karena ia sendiri ingin memahami.

Bagi saya, plot twist paling menyentuh adalah ketika Maryam meninggal dalam keadaan telah memeluk Islam. Itu bukan sekadar akhir cerita, melainkan simbol bahwa hidayah bisa datang dengan cara yang sangat halus, sangat personal. Kehadiran Fahri bukan untuk "mengubah" Maryam secara langsung, tetapi menjadi perantara yang membuatnya menemukan jalan pulang.

Di situ saya merasa merinding. Ada satu kalimat yang terus terngiang: bahwa kelak mereka akan bertemu kembali di surga. Sebuah harapan yang sederhana, tapi penuh makna. Seolah menegaskan bahwa perjalanan manusia di dunia ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mau terus berjalan, meski terseok-seok.

Saya tidak ingin mengkotakkan refleksi ini hanya sebagai cerita keagamaan semata. Karena pada dasarnya, Maryam adalah gambaran manusia pada umumnya: bingung, rapuh, penuh dosa, tapi tetap dicintai Tuhan. Bahkan ketika ia berada di ambang batas hidup dan mati, ia masih diberi kesempatan untuk memilih. Seakan Tuhan berkata: sesayang itu Aku padamu.

Dari Maryam, saya belajar bahwa mungkin selama ini Tuhan juga sedang memberi tanda dalam hidup kita. Mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu, dengan bidang tertentu, dengan peluang tertentu. Pertanyaannya hanya satu: apakah kita cukup peka untuk menyadarinya?

Kadang kita merasa belum siap. Merasa bisa nanti saja. Padahal mungkin itu justru momen yang sedang disiapkan. Seperti yang pernah dikatakan ayah saya, bertemu dengan orang bukan untuk memamerkan diri, bukan untuk menawarkan apa-apa, tapi untuk mengambil ilmunya. Kalimat sederhana itu membuat saya terdiam. Karena ternyata, tujuan pertemuan bukan soal apa yang kita beri, tapi apa yang kita pelajari.

Pada akhirnya, Ayat-Ayat Cinta bagi saya bukan tentang Fahri dan Aisyah. Ia tentang Maryam. Tentang manusia yang tersesat, tapi tetap dicari. Tentang jiwa yang ragu, tapi tetap diberi cahaya. Dan tentang kita semua, yang mungkin sedang berada di tengah perjalanan, mencoba memahami ke mana sebenarnya arah hidup ini membawa.

FAI-32 

sumber referensi : 

Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy