Jurnalkitaplus - Broken String karya Kak Aurel. Buku ini bahkan sampai menarik perhatian banyak media dan membawa penulisnya diundang ke berbagai podcast, termasuk acara televisi. Bukan semata karena popularitasnya, tetapi karena tema yang diangkat begitu dekat dengan realitas banyak orang, terutama soal relasi, manipulasi, dan kesehatan mental.
Sejujurnya, Broken String bukan tipe buku yang bisa saya baca tanpa jeda. Bukan karena isinya berat secara bahasa, tetapi karena muatannya berat secara emosional. Ini bukan fiksi. Ini kisah nyata. Saat membaca, otak seperti langsung memberi alarm: apa yang tertulis di sini benar-benar pernah terjadi. Dan justru di situ letak tantangannya. Membaca buku ini seperti membuka pintu ke luka orang lain, yang tanpa sadar bisa bersinggungan dengan luka kita sendiri.
Perlu dicatat, buku ini bisa diakses secara gratis. Namun, alasan saya berhenti sejenak bukan karena gratis atau tidaknya, melainkan karena kisah yang ditampilkan terasa terlalu nyata. Ada momen ketika saya harus menutup layar, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri: sejauh mana saya sanggup menerima cerita seperti ini?
Saya tidak ingin membocorkan detail cerita di dalamnya. Bukan karena takut spoiler, tetapi karena saya percaya setiap pembaca perlu mengalami emosinya sendiri. Pertanyaan yang sering muncul adalah: worth it atau tidak membaca buku ini? Jawaban saya pribadi: tergantung. Jika seseorang memiliki luka yang serupa, membaca Broken String perlu dilakukan pelan-pelan. Buku ini bisa menjadi cermin, tapi juga bisa menjadi pemicu.
Di sisi lain, saya juga melihat sisi yang jarang dibahas: buku ini menyimpan banyak informasi tentang bagaimana pola manipulasi bekerja. Bagi orang yang memiliki kecenderungan manipulatif, isi buku ini justru bisa menjadi "panduan" tentang cara melumpuhkan orang lain. Ada beberapa kreator yang membahas bahwa kehadiran buku ini secara tidak langsung membuka karakter dan kebutuhan pribadi Kak Aurel kepada publik. Dari sudut pandang tertentu, ini bisa menjadi celah yang berisiko.
Saya sendiri tidak ingin menyalahkan siapa pun, baik Kak Aurel maupun sosok Bobby dalam cerita tersebut. Buku ini lahir dari keputusan yang diambil, dan setiap keputusan selalu membawa konsekuensi. Pada masanya, Kak Aurel merasa tidak memiliki siapa pun yang bisa dipercaya. Insecure, minim keberanian, dan kurang bekal pengetahuan tentang batas diri. Di titik itulah, seseorang mudah masuk ke relasi yang keliru.
Justru dari sini saya mendapatkan refleksi pribadi: bagaimana kelak saya membangun sistem parenting dalam hidup saya sendiri. Bagaimana cara mengajarkan anak mengenal batas, memahami perasaan, mengelola jatuh cinta, dan tetap menjaga jarak sehat. Jatuh cinta adalah fitrah, Tuhan tidak melarangnya. Tetapi mengelola perasaan adalah tanggung jawab manusia.
Mungkin jika sejak awal ada ruang yang lebih tegas, lebih sadar, dan lebih jujur pada diri sendiri, luka-luka itu tidak perlu hadir. Namun hidup tidak bekerja dengan logika "seandainya". Saya teringat konsep dalam film dan drama nine: time times travel: kita bisa kembali ke masa lalu, mengubah satu peristiwa, tetapi takdir lain tetap menemukan jalannya. Seolah Tuhan memang sudah menyiapkan skenario, dan manusia hanya bisa memilih bagaimana bersikap saat skenario itu datang.
Saya percaya, hidup sangat bergantung pada kesiapan. Bukan pada apa yang terjadi, tetapi pada seberapa siap kita menghadapinya. Saya pernah mengalami sendiri: lolos program PMM ke Bali. Jika saya tidak mempersiapkan diri sejak tahun-tahun sebelumnya, bisa jadi saya hanyut dalam pergaulan yang tidak sesuai dengan nilai saya. Tapi karena saya sudah mengenal diri saya sendiri, saya tidak mudah tergoyahkan. Saya tahu siapa saya, dan itu cukup menjadi pegangan.
Dalam Broken String, kasih sayang digambarkan sebagai sesuatu yang terasa normal bagi pelakunya, tetapi menyakitkan bagi korbannya. Bobby, misalnya, menganggap kontrol, bentakan, bahkan kekerasan sebagai bentuk cinta. Ini bukan semata soal jahat atau baik, tetapi soal bagaimana seseorang dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman hidupnya. Setiap orang punya "bahasa kasih" yang berbeda, tetapi tidak semua bahasa layak diterima.
Ada satu analogi yang sangat relevan: setiap orang memiliki "wadah" emosional. Jika wadah kita berbeda ukuran, relasi akan timpang. Ada yang memberi terlalu sedikit, ada yang memberi terlalu banyak. Keduanya sama-sama melelahkan. Karena itu, mengenal diri sendiri menjadi penting. Bukan untuk menjadi egois, tetapi agar tahu apa yang sanggup kita terima dan apa yang perlu kita tolak.
Kegagalan terbesar dalam cerita ini, menurut saya, bukan sekadar memilih orang yang salah, tetapi tidak sempat mengenal diri sendiri. Terlalu sibuk mengejar tuntutan hidup, memenuhi ekspektasi orang tua, hingga lupa mengetuk pintu batin sendiri. Padahal, selama kita masih punya waktu, kita bisa bertanya: Apakah saya bahagia? Apakah lingkungan ini sehat? Apakah saya berani berkata tidak?
Kak Aurel membagikan ceritanya bukan untuk mencari simpati, tetapi untuk membuka mata bahwa child grooming dan relasi manipulatif bukan kasus tunggal. Banyak korban memilih diam demi bertahan hidup. Dan mungkin, keberanian terbesar dari buku ini adalah kejujuran untuk berkata: "Saya pernah hancur."
Saya tidak akan mengatakan bahwa Broken String wajib dibaca semua orang. Buku ini sangat tergantung pada kesiapan mental pembacanya. Beberapa teman saya merasa muak, mual, bahkan kehilangan mood setelah membaca. Saya sendiri harus menyalurkan emosi dengan berolahraga setelahnya.
Namun satu hal yang pasti: buku ini meninggalkan ruang refleksi. Tentang luka, tentang batas diri, dan tentang pentingnya mengenal diri sendiri sebelum membiarkan orang lain masuk terlalu jauh. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari sakit sepenuhnya, tetapi tentang seberapa siap kita berdamai dengan apa pun yang datang.
FAI-32
Broken Strings karya Aurelie Moeremans

