Jurnalkitaplus - Menikah Tanpa Cinta karya Asy Mita C. Jujur, buku ini terasa sangat cocok untuk para pemuda. Bukan berarti perempuan tidak perlu membaca, tapi pembahasannya memang terasa lebih dominan menyentil cara berpikir laki-laki soal jodoh, tanggung jawab, dan kesiapan hidup.
Saya membuka buku ini dari bagian awal yang membahas tentang kualitas pribadi. Di sana dijelaskan bahwa salah satu alasan utama seseorang sulit bertemu jodoh adalah ekspektasi yang terlalu tinggi. Banyak orang membayangkan pasangan ideal sebagai sosok yang saleh, penghafal Al-Qur'an, tinggi, tampan, mapan, dan sempurna dari segala sisi. Padahal, jika standar itu dijadikan patokan mutlak, wajar jika kemudian merasa sulit menemukan siapa pun yang "cukup".
Saya teringat cerita seorang kakak tingkat yang sudah menikah dan memiliki anak. Ia pernah berkata pada saya, "Jodoh itu pasti akan klik saat dipertemukan. Tapi kita sering overthinking, membandingkan satu orang dengan orang lain, seolah-olah selalu ada yang lebih baik di depan." Dari situ saya belajar bahwa istikharah, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian menerima ketidaksempurnaan adalah bagian penting dari proses.
Di buku ini juga ditegaskan bahwa jika yang hadir adalah sosok yang baik dan saleh, maka sebenarnya kita sedang menyelamatkan diri dan masa depan anak-anak kita. Jika orientasinya hanya jangka pendek, maka hubungan itu mungkin hanya akan menjadi pengalaman, bukan tujuan hidup.
Masuk ke bab berikutnya, ada kalimat yang cukup menampar:
"Komitmen dan tanggung jawab adalah jawabannya. Ia menjadi pengikat yang sangat kuat. Meski cinta dalam pernikahan meredup, selama ada komitmen untuk hidup bersama, rumah tangga bisa terselamatkan dari keretakan."
Saya percaya bahwa cinta itu seperti musim. Datang dan pergi. Kadang hangat, kadang dingin. Tapi komitmen adalah keputusan sadar untuk tetap tinggal, bahkan saat perasaan sedang tidak ramah. Energi seseorang menular. Ketika kita memegang tanggung jawab dengan utuh, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita.
Ada bagian lain yang membuat saya berhenti lama:
"Ada orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Ada pula yang mempelajari agama demi gelar, demi citra, demi dipanggil ustaz atau kiai."
Di sini saya merasa diingatkan tentang bahaya merasa paling tahu. Orang yang tidak mau belajar lagi akan menganggap gelasnya sudah penuh. Padahal hidup selalu menyediakan pelajaran baru. Dalam hubungan, terutama pernikahan, orang yang merasa dirinya paling benar justru paling berpotensi melukai.
Buku ini juga menegaskan perbedaan mendasar antara pacaran dan pernikahan: "Tidak mudah berpura-pura setiap hari sampai bertahun-tahun."
Sifat asli manusia akan muncul. Tidak ada topeng yang mampu bertahan selamanya. Karena itu, mencintai diri sendiri menjadi penting. Saat saya belajar menerima diri saya apa adanya, orang-orang di sekitar saya justru terdorong untuk jujur pada dirinya sendiri. Dunia kerja mungkin penuh topeng, tapi kehidupan pribadi seharusnya menjadi ruang aman untuk menjadi manusia yang utuh.
Masuk ke bagian 'nikah dini atau nikah nanti?', saya menemukan dilema yang sangat relevan. Pernikahan bukan hanya soal siap secara finansial, tapi juga siap secara mental dan emosional. Saya sendiri masih dalam proses menyembuhkan trauma, membangun kesiapan diri, dan memperbanyak jam terbang hidup. Saya tidak ingin menikah lalu membawa luka lama sebagai beban bagi pasangan atau anak.
Namun buku ini juga menulis: "Menunda pernikahan padahal diri sudah mampu, baik lahir maupun batin, tidak dikehendaki oleh agama."
Artinya, menunda boleh jika alasannya rasional dan bertujuan memperbaiki diri, bukan karena takut atau lari dari tanggung jawab.
Ada juga pembahasan tentang bukan materialis tapi realistis. Perempuan sering disebut "matre", padahal banyak dari mereka sudah mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Pertanyaannya sederhana: jika ingin pasangan yang berkualitas, apakah kita juga siap menjadi pribadi yang layak?
Buku ini menekankan pentingnya keberkahan: "Bukan berlimpahan harta yang membuat manusia lupa kepada Allah, tetapi kondisi hatinya."
Saya pribadi lebih memilih rezeki sedikit tapi halal dan tenang, daripada banyak tapi membuat gelisah. Karena rezeki paling mahal adalah ketenangan batin.
Terakhir, buku ini menyebut lima parameter kesiapan menikah: spiritual, ilmu, fisik, materi, dan sosial. Hubungan dengan Tuhan menjadi fondasi utama. Ilmu membantu kita menghadapi realitas. Fisik dijaga lewat pola hidup sehat. Materi menjadi alat, bukan tujuan. Dan sosial—relasi yang baik—adalah jembatan rezeki yang sering diremehkan.
Buku ini menutup dengan satu pertanyaan besar: "Apakah yang paling kita cintai adalah Allah, atau harta?"
Bagi saya, memilih pasangan hidup bukan soal siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang hatinya paling condong kepada Tuhan. Karena di sanalah letak ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Buku "Menikah Tanpa Cinta" bukan sekadar buku tentang pernikahan, tapi tentang keberanian mengenal diri sendiri sebelum menyatukan hidup dengan orang lain. Dan mungkin, di situlah cinta yang paling jujur sebenarnya bermula.
FAI-32
Menikah Tanpa Cinta karya Asy Mita C

