Jurnalkitaplus - Dalam segmen bedah buku kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk masuk ke dalam satu buku yang, menurut saya, tidak hanya relevan untuk satu agama saja. Judulnya 'Menyalakan Akar, Membangun Nalar dengan Al-Qur'an' karya Bisma Lucky Narendra. Meskipun buku ini berbasis nilai-nilai Islam, esensi yang dibahas sebenarnya sangat universal: tentang cara berpikir, cara memandang hidup, dan cara kita menempatkan diri di dunia yang penuh distraksi ini.
Saya memilih beberapa bab yang menurut saya paling dekat dengan realitas hidup sehari-hari. Salah satunya adalah bab 'The Power of Mindset'. Di bagian ini, saya benar-benar merasa tertampar secara halus. Karena ternyata, banyak dari kita—termasuk saya—yang sering terjebak pada pola pikir negatif tanpa sadar.
Saya pernah menerima pesan panjang dari seseorang yang merasa dirinya terlalu berdosa untuk kembali mendekat kepada Tuhan. Ia merasa hidupnya sudah terlanjur rusak, sehingga tidak pantas lagi berharap pada perubahan. Di titik itu, saya sadar bahwa mindset bukan sekadar cara berpikir, tapi bisa menjadi penentu arah hidup. Ketika seseorang terus-menerus meyakini bahwa dirinya buruk, gagal, dan tidak layak, maka alam bawah sadarnya akan bekerja sesuai keyakinan itu.
Di situlah saya semakin percaya bahwa mindset benar-benar punya kekuatan nyata. Bukan hanya mempengaruhi pikiran, tapi juga tubuh, emosi, bahkan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.
Buku ini juga menekankan bahwa kesuksesan tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Kita tidak bisa hidup sendirian. Kita butuh orang lain, entah itu sebagai pendukung, pengingat, atau bahkan sebagai cermin dari diri kita sendiri.
Saya juga tersentuh pada bagian yang membahas tentang konsistensi dan 'mapping diri'. Bahwa ketertarikan yang kuat terhadap sesuatu tidak cukup hanya dengan niat. Ia perlu dipetakan, diarahkan, dan dijaga dengan konsistensi.
Seperti membuat peta hidup: tahun ini ingin apa, prosesnya bagaimana, dan targetnya sejauh mana. Karena sering kali kita ingin sampai, tapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah yang sedang kita tuju.
Lalu saya masuk ke bab 'See Miracle in Every Time, Every Moment, and Everything'. Di sini saya mulai bertanya ke diri sendiri: seberapa sering saya menghamburkan energi, waktu, uang, dan perasaan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membawa saya ke mana-mana? Karena pada akhirnya, setiap hal yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Bukan hanya soal dosa dan pahala, tapi juga soal kejujuran pada diri sendiri: apakah hidup yang saya jalani benar-benar sejalan dengan nilai yang saya yakini?
Ada satu analogi yang sangat kuat dalam buku ini: 'jangan bertingkah seperti ikan dalam akuarium yang mengira dunia luar adalah kebebasan, padahal di luar sana justru kematian.' Artinya, tidak semua keinginan untuk "keluar" dari keadaan sekarang itu benar. Kadang yang kita anggap kebebasan justru adalah kehancuran, karena kita belum siap secara mental, emosional, dan spiritual.
Bab berikutnya yang cukup mengusik saya adalah 'Kaya adalah Hak Setiap Manusia'. Dalam buku ini, kekayaan tidak dimaknai sekadar sebagai materi, tapi sebagai amanah. Harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita, melainkan titipan. Dan yang lebih penting bukan seberapa banyak, tapi seberapa bersih cara mendapatkannya.
Saya teringat cerita seorang teman yang pernah mendapatkan uang dari cara yang tidak benar. Ia bisa membeli banyak hal, hidup terlihat nyaman, tapi dalam waktu singkat keluarganya jatuh sakit satu per satu. Secara medis tidak terdeteksi jelas. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam sumber rezekinya. Uangnya habis untuk pengobatan, tapi ia justru merasa lebih tenang. Ia berkata, "Lebih baik sedikit tapi halal, daripada banyak tapi merusak."
Dari situ saya belajar satu hal penting: 'rezeki tidak selalu berbentuk uang'. Sehat adalah rezeki. Waktu adalah rezeki. Pikiran yang jernih juga rezeki. Bahkan kemampuan untuk jujur pada diri sendiri adalah bentuk rezeki yang sering tidak kita sadari.
Saya juga tersentuh dengan bab 'The Power of Old and New' yang membahas tentang masa lalu. Di sini masa lalu diibaratkan seperti kaca spion. Ia tidak diciptakan untuk kita tatapi terus, tapi cukup untuk sesekali dilihat agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu bukan untuk dihindari, tapi untuk dipahami. Ia adalah cermin, bukan penjara.
Kemudian ada bab 'Jempol Bergoyang, Rezeki Diantar'. Bab ini terasa sangat relevan dengan kondisi sekarang: PHK di mana-mana, AI menggantikan pekerjaan manusia, lowongan kerja makin sulit dicari. Banyak orang merasa putus asa dan memilih diam. Padahal rezeki bukan untuk ditunggu, tapi untuk dijemput.
Saya merefleksikan ini lewat pengalaman pribadi. Saya tidak hanya menunggu peluang datang, tapi terus bergerak, menawarkan, belajar, mencoba. Bukan karena saya yakin berhasil, tapi karena saya yakin diam tidak akan membawa apa-apa. Konsistensi kecil setiap hari jauh lebih berarti daripada menunggu keajaiban tanpa usaha.
Dari seluruh isi buku ini, satu benang merah yang paling kuat bagi saya adalah ini: hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling jujur pada prosesnya sendiri.
Buku ini tidak mengajarkan saya menjadi sempurna, tapi mengajak saya untuk lebih sadar. Sadar pada pikiran sendiri, pada luka sendiri, pada masa lalu sendiri, dan pada rezeki yang selama ini mungkin saya anggap sepele. Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari "menyalakan akar dan membangun nalar": bukan sekadar memahami dunia, tapi terlebih dahulu memahami diri sendiri.
FAI-32
sumber referensi
Menyalakan Akar, Membangun Nalar dengan Al-Qur'an' karya Bisma Lucky Narendra

