Bedah Buku : Quantum Otak Tujuh Rahasia Melejitkan Kecerdasan Anak -->

Header Menu

Bedah Buku : Quantum Otak Tujuh Rahasia Melejitkan Kecerdasan Anak

Jurnalkitaplus
15/02/26


Quantum Otak: Tujuh Rahasia Melejitkan Kecerdasan Anak, karya Efnie Indrianie seorang psikolog dan praktisi biopsikologi.

Alasan saya memilih buku ini sederhana: mungkin suatu hari nanti saya akan jadi orang tua. Saya tidak tahu kapan, tapi saya ingin tahu tentang kecerdasan anak, tentang bagaimana anak dibentuk. Bukan hanya soal nanti saya punya anak, tapi juga tentang refleksi ke diri saya sendiri: orang tua saya dulu mendidik saya seperti apa sampai saya bisa menjadi diri saya hari ini?

Ternyata banyak sekali campur tangan: orang tua, teman, lingkungan, sekolah, semuanya bercampur dan membentuk satu identitas yang bernama "saya".

Di buku ini ada curhatan seorang ibu:  "Saya sengaja mengatakan kepada anak saya bahwa dia pintar terus-menerus untuk menambah rasa percaya dirinya."



Sekilas terdengar baik. Tapi faktanya, menurut buku ini, anak yang terlalu sering dipuji pintar justru bisa kehilangan minat terhadap tantangan. Karena merasa dirinya sudah cukup. Terlalu banyak validasi bisa membuat anak berhenti bertumbuh.

Di sisi lain, ada juga contoh figur publik yang tidak pernah dipuji oleh orang tuanya. Secara tidak sadar, hal itu membentuk ambisi besar, dorongan untuk terus mencari pengakuan. Positifnya, ia jadi tangguh. Negatifnya, bisa jadi terlalu ambisius dan tidak seimbang.

Di sini saya sadar satu hal: setiap hal pasti punya dua sisi. Terlalu dipuji salah, tidak pernah dipuji juga bermasalah. Seimbang adalah kuncinya. Bahkan dalam Al-Qur'an pun sudah diingatkan: jangan berlebihan. Apa pun yang berlebihan, cepat atau lambat akan membawa konsekuensi.

Di halaman 5 buku ini tertulis bahwa sekitar "30–40% kepribadian seseorang dipengaruhi genetik. Sisanya dari lingkungan."

Sadar tidak, kadang kita bilang: "Saya kerasnya ke bapak banget," atau "cara mikir saya mirip ibu." Bahkan ada anggapan, kalau ingin melihat masa depan anak, lihat dulu ibunya.

Dulu saya sering menghakimi orang: kalau sekarang malas, nanti anaknya pasti begitu juga. Padahal hidup tidak sesederhana itu. Saya berharap orang-orang yang dulu saya nilai buruk justru sekarang punya generasi yang jauh lebih baik dari saya.


Genetik memang berperan, tapi tidak berdiri sendiri. Ia bercampur dengan lingkungan, pergaulan, dan bahkan… apa yang kita makan.

Ya, makanan. Bukan cuma membentuk tubuh, tapi juga karakter. Junk food yang berlebihan bisa membuat tubuh lelah, malas, sulit fokus. Dari situ, perlahan mempengaruhi kepribadian.

Salah satu konsep yang menarik di buku ini adalah my family tree. Bukan "tiga", tapi "tree" seperti pohon keluarga.

Sering kali kita bertanya: "Kenapa saya begini?" Padahal jawabannya ada di silsilah keluarga. Mungkin kita tidak mirip ayah atau ibu, tapi mirip paman, bibi, nenek, atau kakek.

Saya sendiri baru sadar belakangan: saya suka menulis. Baru benar-benar menyadari di usia dewasa. Padahal ibu saya dulu suka menulis cerpen. Artinya, ini bukan muncul tiba-tiba. Ada benang merahnya.

Kalau sejak kecil saya tahu itu, mungkin hidup saya akan berbeda. Mungkin saya sudah menulis lebih banyak, menghasilkan lebih banyak karya. Tapi ya, hidup tidak bisa diulang. Yang bisa dilakukan hanya berdamai dan belajar.

Di buku ini juga disebutkan: "Hampir 80% pasangan merasa kualitas hubungannya menurun setelah menjadi orang tua."

Ini menampar. Banyak orang merasa siap menikah: finansial siap, mental siap, spiritual siap. Tapi tidak pernah siap menghadapi kemungkinan terburuk: anak lahir dengan kondisi khusus, gangguan mental, keterbatasan fisik.

Di titik itu, karakter asli keluar. Kita mungkin kaget melihat diri sendiri: marah, frustrasi, ingin menyerah. Padahal itu juga bagian dari diri kita yang selama ini tidak kita kenal.

Menjadi orang tua bukan profesi. Itu amanah. Bukan soal sempurna, tapi soal mau mengakui kelemahan dan terus belajar.

Secara biologis, perempuan menanggung lebih banyak beban: haid, melahirkan, perubahan hormon, tekanan emosional. Di sisi lain, laki-laki juga membawa beban: tanggung jawab finansial, tuntutan sosial, ekspektasi untuk selalu kuat.

Masalahnya bukan siapa yang lebih berat, tapi apakah keduanya mau saling meringankan.

Keluarga bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang mau bekerja sama. Tim. Bukan majikan dan bawahan.

Buku ini juga menekankan pentingnya lingkungan yang hangat. Anak bisa mendapat mainan mahal, uang banyak, fasilitas lengkap, tapi tanpa kehadiran orang tua, semua itu kosong.

Saya pernah melihat fenomena "jasa teman" dan "jasa pacar". Orang membayar hanya untuk ditemani. Itu menyedihkan. Karena berarti ada kebutuhan emosional yang tidak pernah terpenuhi sejak kecil.

Parenting bukan soal materi. Tapi soal kehadiran.

Di bagian akhir, buku ini membahas soal tidur.

  1. Bayi butuh 12–16 jam.

  2. Balita 11–14 jam

  3. Remaja 8–10 jam.

Tidur cukup bukan kemewahan. Itu kebutuhan dasar untuk membentuk otak, emosi, dan daya tahan mental. Anak yang kurang tidur akan kesulitan fokus, mudah stres, dan lebih rentan secara emosional.

Dari semua yang saya baca, satu hal yang paling kuat adalah ini: "Anak tidak lahir kosong. Mereka membawa genetik, potensi, dan keunikan masing-masing. Tugas orang tua bukan membentuk sesuai keinginan, tapi menemani agar mereka menemukan dirinya sendiri."

Dan mungkin, refleksi ini bukan hanya untuk calon orang tua. Tapi juga untuk kita yang masih sering bertanya: "Kenapa saya begini?"

Jawabannya mungkin bukan di luar sana. Tapi di dalam diri kita, di keluarga kita, di masa lalu kita, yang pelan-pelan membentuk siapa kita hari ini.

FAI-32 

sumber referensi : 

Quantum Otak : 7 Rahasia Melejitkan Kecerdasan Anak karya Efnie Indrianie