Dunia saat ini sedang ramai dengan berbagai kabar tentang potensi konflik besar dan krisis ekonomi global. Situasi ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari dinamika kepentingan ekonomi dan politik global yang kerap saling bertabrakan. Berbagai analisis dan opini publik pun mencoba membaca arah dunia melalui sudut pandang tersebut, terutama ketika ketidakpastian semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah situasi itu, isu pemutusan listrik secara massal mulai beredar di berbagai negara. Meski tidak semuanya dapat diverifikasi kebenarannya, beberapa wilayah memang pernah mengalami pemadaman listrik dalam skala tertentu. Kondisi ini kemudian menjadi pengingat bahwa kehidupan modern sangat bergantung pada listrik dan teknologi. Ketika akses tersebut terganggu, aktivitas paling mendasar pun ikut terdampak.
Gambaran serupa ditampilkan dalam film Jepang berjudul Survival Family (2016). Film yang ditulis dan disutradarai oleh Shinobu Yaguchi ini menceritakan kehidupan sebuah keluarga modern di Tokyo—keluarga Suzuki—yang tiba-tiba harus bertahan hidup tanpa listrik akibat pemadaman besar-besaran yang terjadi secara global.
Kepala keluarga, Yoshiyuki Suzuki, adalah seorang pekerja kantoran yang sehari-harinya bergantung pada komputer. Istrinya, Mitsue Suzuki, merupakan ibu rumah tangga yang menggunakan peralatan dapur berbasis listrik. Dua anak mereka, Kenji Suzuki dan Yui Suzuki, tumbuh dalam keseharian yang lekat dengan gawai sejak usia sekolah. Ketika listrik benar-benar padam, kehidupan yang selama ini mereka anggap normal perlahan runtuh.
ATM tidak lagi berfungsi, uang kehilangan nilai tukarnya karena masyarakat lebih memilih sistem barter, dan akses terhadap air bersih di kota menjadi semakin sulit. Ketergantungan kota terhadap sistem listrik membuat kehidupan urban lumpuh dalam waktu singkat.
Menghadapi kondisi tersebut, keluarga Suzuki memutuskan untuk meninggalkan Tokyo dan kembali ke Kagoshima, desa tempat tinggal sang kakek—ayah dari Mitsue. Perjalanan panjang menuju desa inilah yang menjadi inti cerita film Survival Family.
Ilmu Bertahan Hidup dalam Film Survival Family
1. Bepergian Menggunakan Sepeda
Setelah pemadaman listrik terjadi, seluruh kendaraan berbasis listrik dan sistem transportasi modern terhenti. Keluarga Suzuki akhirnya memilih melakukan perjalanan ke Kagoshima menggunakan sepeda, berbekal peta lama sebagai penunjuk arah. Meski melelahkan dan memakan waktu lama, sepeda menjadi alat transportasi paling memungkinkan.
Sepeda memiliki banyak keunggulan: tidak membutuhkan bahan bakar, minim biaya perawatan, tidak menghasilkan polusi, serta menyehatkan tubuh. Secara umum, penggunaan sepeda memang diakui sebagai modal transportasi berkelanjutan yang ramah lingkungan dan tetap efektif dalam kondisi darurat.
Film ini tidak mengajak kita menolak kemajuan teknologi, melainkan mengingatkan bahwa kesederhanaan sering kali menjadi solusi ketika sistem modern gagal. Teknologi tetap penting, namun penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi.
2. Persediaan Pangan: Air Bersih dan Pengolahan Makanan Alami
Pada hari ke-22 perjalanan, keluarga Suzuki kehabisan bekal makanan dan minuman. Mereka kemudian bertemu dengan sebuah keluarga yang tampak sudah terbiasa hidup tanpa listrik. Keluarga tersebut tidak terlihat kelaparan karena memiliki persediaan pangan yang cukup dan pengetahuan dasar tentang alam.
Kenji Suzuki bertanya bagaimana mereka mendapatkan air dan makanan. Air bersih diperoleh dari sumber alami berupa bebatuan di sekitar pegunungan yang mengeluarkan mata air. Air tersebut disimpan dalam botol dan disterilkan dengan cara direbus. Cara ini memang dikenal sebagai metode paling sederhana dan efektif untuk membunuh mikroorganisme.
Untuk makanan, mereka mengandalkan teknik pengawetan alami seperti pengeringan dan pengasapan. Metode ini sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu untuk memperpanjang masa simpan pangan tanpa listrik. Selain itu, mereka memanfaatkan dedaunan muda yang dapat dikonsumsi, seperti daun bayam, serta serangga seperti jangkrik dan ulat yang kaya protein. FAO (Food and Agriculture Organization) sendiri mencatat bahwa serangga merupakan sumber protein alternatif yang tinggi gizi dan berpotensi menopang ketahanan pangan di masa depan.
Selain soal pangan, keluarga tersebut juga membagikan prinsip dasar bertahan hidup: menjaga suhu tubuh, memastikan ketersediaan air, memelihara semangat hidup, dan barulah memikirkan makanan. Prinsip ini sejalan dengan konsep survival dasar yang banyak digunakan dalam pelatihan kebencanaan.
3. Hidup Berdampingan dengan Alam: Bertani, Berkebun dan Beternak
Pada hari ke-67, keluarga Suzuki bertemu dengan seorang kakek yang hidup sendirian di sebuah desa kecil di tengah perjalanan menuju Kagoshima. Di tempat ini, mereka mulai menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan kota.
Mereka membantu sang kakek merawat ternak, dan sebagai gantinya diperbolehkan tinggal di rumahnya. Di sana, mereka melihat bagaimana alam menyediakan kebutuhan hidup secara cukup. Air dipompa secara manual, sayuran dan buah diperoleh langsung dari kebun, serta daging yang diawetkan melalui teknik pengasapan.
Selain pangan mandiri, mereka juga belajar hidup tanpa teknologi canggih: menyembelih dan mengolah hewan ternak sendiri, memasak dengan tungku kayu, menggunakan lampu minyak sebagai penerangan, hingga menjahit tanpa mesin. Hal-hal yang sebelumnya asing bagi mereka yang terbiasa dengan makanan instan dan kehidupan serba praktis.
Karena kepedulian Yoshiyuki terhadap Mitsue yang mengkhawatirkan ayahnya di Kagoshima, keluarga Suzuki akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kagoshima meninggalkan desa ini. Sesampainya disana, mereka kembali menyambung hidup. Karena letaknya dekat dengan pantai, Yoshiyuki dan Kenji belajar menjadi nelayan. Mitsue dan sang ayah berkebun, sementara Yui memilih belajar menenun. Setiap anggota keluarga menemukan perannya masing-masing dalam kehidupan yang lebih sederhana namun bermakna.
Film ini ditutup dengan kondisi dunia yang perlahan membaik setelah listrik kembali menyala usai pemadaman selama dua tahun 126 hari. Keluarga Suzuki kembali ke kota, namun pengalaman hidup di desa meninggalkan pelajaran yang mendalam dan tidak mereka lupakan.
Film Survival Family membuka pandangan bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia sepenuhnya meninggalkan kehidupan tradisional. Justru dari kehidupan tradisional, manusia belajar tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan ketahanan hidup.Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi membuat manusia rapuh ketika sistem tersebut runtuh.
Melalui film ini, kita diajak memahami kembali bahwa keterampilan bertahan hidup adalah pengetahuan dasar manusia. Bukan untuk menolak modernitas, melainkan agar manusia tetap mampu bertahan ketika teknologi tak lagi bisa diandalkan. *(NM)
