Jurnalkitaplus - Benarkah merapikan rumah dapat mengurai stres dan membuat tubuh lebih rileks serta pikiran lebih fokus? Banyak orang meyakini bahwa kondisi rumah yang berantakan bisa memengaruhi suasana hati, bahkan membuat tubuh terasa malas dan pikiran sulit diajak bekerja sama. Pertanyaannya, apakah perasaan ini hanya sugesti, atau memang ada penjelasan yang bisa kita pahami secara lebih masuk akal?
Dalam sebuah artikel kesehatan berjudul Mental Health Benefits of Decluttering, yang merangkum hasil penelitian psikologi, dijelaskan bahwa lingkungan tempat kita beraktivitas memiliki pengaruh terhadap kondisi emosional dan respons tubuh terhadap stres. Salah satu temuan dari penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang berantakan sering meningkatkan hormon stres dalam tubuh, yang dikenal sebagai kortisol. Dalam studi itu, para perempuan yang mendeskripsikan kondisi rumah mereka berantakan dan belum selesai cenderung memiliki kadar hormon stres yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggambarkan kondisi rumahnya yang tenang dan teratur.
Intinya, ketika kita melihat banyak barang berserakan, otak kita seperti dipaksa menerima terlalu banyak informasi sekaligus, sehingga membuatnya sulit untuk rileks dan bahkan meningkatkan kecemasan tanpa kita sadari. Artinya, kondisi rumah tidak hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga respons biologis tubuh.
Merapikan rumah, dalam konteks ini, bukan sekadar soal keindahan atau kerapihan visual. Ketika kita melihat tumpukan baju yang belum dilipat atau piring kotor yang menumpuk di dapur, pikiran kita seperti terus diingatkan bahwa ada banyak hal yang belum selesai. Tanpa disadari, perhatian kita terpecah. Saat ingin belajar atau bekerja, fokus mudah hilang karena mata dan pikiran terus menangkap "gangguan kecil" di sekitar.
Kajian dalam psikologi kognitif menjelaskan bahwa kekacauan visual dapat membebani kerja otak. Semakin banyak objek yang tidak tertata di sekitar kita, semakin banyak informasi yang harus diproses oleh otak, meskipun sebenarnya tidak relevan dengan aktivitas utama yang sedang kita lakukan. Akibatnya, kita menjadi lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan mudah terdistraksi. Sebaliknya, ruang yang bersih dan tertata membantu otak bekerja lebih ringan, karena perhatian tidak terus-menerus terpecah oleh hal-hal di luar tujuan.
Menariknya, bukan hanya hasil akhir berupa rumah yang rapi yang memberi dampak, tetapi juga proses merapikan itu sendiri. Dalam pembahasan psikologi perilaku, aktivitas sederhana seperti membersihkan dan menata ruang dipahami sebagai tindakan kecil yang memberi rasa kontrol dan pencapaian. Saat satu demi satu pekerjaan rumah selesai, tubuh dan pikiran merespons dengan perasaan lebih tenang. Ada kepuasan kecil yang muncul, seolah kita berhasil menata sesuatu dan rasa itu sering menular ke hal lain yang ingin kita kerjakan setelahnya.
Rumah yang rapi dan bersih juga sering dikaitkan dengan rasa nyaman yang lebih besar, termasuk saat beristirahat. Beberapa tulisan kesehatan yang merujuk pada penelitian tentang kualitas tidur menyebutkan bahwa lingkungan tidur yang bersih dan tertata membantu tubuh lebih mudah rileks, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak. Ketika tidur cukup dan berkualitas, suasana hati cenderung lebih stabil, dan fokus di keesokan hari pun menjadi lebih baik.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa anggapan "rumah berantakan bikin stres dan malas" bukanlah sekadar keluhan sehari-hari tanpa dasar. Berbagai temuan psikologi menunjukkan bahwa lingkungan yang kita tinggali ikut membentuk kondisi mental kita. Rumah yang bersih dan rapi memberi sinyal aman dan nyaman bagi tubuh, sementara rumah yang berantakan bisa memicu ketegangan halus yang terus-menerus.
Pun dalam Islam, kebersihan dan kerapihan memiliki nilai yang penting. Meski hadis tentang kebersihan sebagai bagian dari iman sering disebut berstatus dhaif, nilai yang dikandungnya tetap sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kesucian, keindahan, dan keteraturan. Rasulullah Saw dikenal sebagai pribadi yang mencintai kebersihan, dan Allah pun mencintai keindahan serta orang-orang yang mensucikan diri.
Berdasarkan paparan pembahasan di atas, merapikan rumah tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai pekerjaan rutin yang melelahkan. Ia bisa menjadi bentuk perawatan diri yang sederhana, cara pelan-pelan menata ruang, sekaligus menata pikiran. Karena ketika rumah terasa lebih rapi dan nyaman, sering kali hati dan kepala kita ikut menemukan ruang untuk bernapas dan tenang. *(NM)
Referensi:
Artikel kesehatan berjudul "Clear your space, clear your mind: how decluttering can be beneficial for our mental health" https://www.charlottetilbury.com/eu/secrets/decluttering-your-space
Artikel kesehatan berjudul "Mental Health Benefits of Decluttering" https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-benefits-of-decluttering?utm_source=chatgpt.com
