Jurnalkitaplus – Jika Anda berdiri di tengah Shibuya, Tokyo, dan kemudian terbang ke Shenzhen, China, Anda akan merasakan perbedaan atmosfer yang kontras. Di China, teknologi terasa "berteriak": gedung pencakar langit dengan fasad LED raksasa, pembayaran wajah (face recognition) di mana-mana, dan kereta cepat yang terlihat sangat futuristik. Sementara di Jepang, segalanya tampak tetap sama seperti dekade lalu: mesin penjual otomatis yang sederhana, penggunaan uang tunai yang masih tinggi, dan bangunan yang cenderung fungsional daripada estetis.
Lantas, apakah Jepang telah tertinggal? Jawabannya: Tidak. Jepang hanya memilih jalan yang berbeda.
Filosofi "Kualitas di Atas Panggung"
Jepang adalah raja dalam "Invisible Technology" (teknologi yang tak terlihat). Mereka tidak peduli pada kemewahan luar jika fungsi intinya sudah sempurna. Shinkansen (kereta peluru) mungkin tidak memiliki desain interior semewah kereta Fuxing China, namun Shinkansen memiliki rekor keselamatan dan ketepatan waktu yang hampir mustahil ditandingi dunia. Bagi Jepang, kemajuan adalah tentang presisi dan ketahanan, bukan sekadar etalase.
Budaya vs Ambisi
Perbedaan ini juga berakar pada psikologi bangsa. China, sebagai kekuatan baru yang sedang bangkit, merasa perlu menunjukkan dominasinya kepada dunia melalui proyek-proyek megaproyek yang estetik dan berskala masif—sebuah cara untuk mempertegas posisi sebagai pemimpin global baru.
Di sisi lain, Jepang menganut budaya Omotenashi dan kerendahhatian. Mereka lebih fokus pada pemecahan masalah sosial, seperti teknologi untuk membantu lansia atau robotika industri yang bekerja di dalam pabrik, jauh dari pandangan publik. Jepang lebih suka menguasai rantai pasok global (seperti sensor kamera dan komponen mesin) daripada harus memamerkan merek ponsel di baliho raksasa.
Hambatan Digital dan Generasi
Namun, ada satu faktor yang tak bisa dipungkiri: demografi. Dengan populasi yang menua, Jepang cenderung konservatif terhadap perubahan digital yang drastis. Masyarakat Jepang lebih menghargai sistem lama yang stabil (seperti stempel fisik atau faks) daripada aplikasi digital yang belum teruji keamanannya. Sebaliknya, China memiliki populasi muda yang sangat adaptif, membuat adopsi teknologi gaya hidup menjadi sangat cepat dan terlihat "mewah".
Jepang Raksasa Yang Tak Butuh Pujian Visual
Jepang tetaplah raksasa teknologi, namun mereka adalah raksasa yang tidak butuh pujian visual. Kemewahan China adalah simbol pertumbuhan yang meledak, sementara "kesederhanaan" Jepang adalah simbol kemapanan yang mengutamakan fungsi di atas gengsi. Pada akhirnya, China memberikan kita masa depan yang terlihat, sementara Jepang menyediakan komponen yang membuat masa depan itu bekerja secara stabil. (FG12)

