Generasi Z dan Fenomena Burnout Sebelum 25 Tahun -->

Header Menu

Generasi Z dan Fenomena Burnout Sebelum 25 Tahun

Jurnalkitaplus
07/02/26

Fenomena burnout di kalangan Generasi Z (Gen Z) bukan sekadar keluhan "kurang istirahat". Jika generasi sebelumnya sering mengalami krisis paruh baya (mid-life crisis) di usia 40-an, Gen Z justru mencuri start dengan mengalami kelelahan mental hebat sebelum menyentuh usia 25 tahun.

mengapa generasi kita begitu cepat lelah?

Secara sosiologis dan psikologis, ada pergeseran beban yang sangat kontras antara Gen Z dengan generasi milenial atau X di usia yang sama.

hyper-connectivity dan kelelahan digital : Gen Z adalah digital natives pertama. Kehidupan mereka terintegrasi penuh dengan algoritma. Masalahnya, algoritma media sosial menciptakan standar hidup yang tidak realistis secara terus-menerus.

  1. FOMO (Fear of Missing Out): Keinginan untuk selalu relevan membuat otak tetap dalam kondisi siaga tinggi.

  2. Perbandingan Sosial: Melihat pencapaian orang lain di usia 20 tahun (seperti "Self-made Billionaire" atau "Influencer") menciptakan tekanan internal bahwa mereka sudah terlambat sebelum memulai.

tekanan ekonomi gig dan ketidakpastian kerja: Berbeda dengan era kakek-nenek kita yang memiliki jalur karier linear, Gen Z masuk ke pasar kerja yang sangat volatil.

  1. Hustle Culture: Budaya mengagungkan kerja keras berlebihan hingga mengabaikan kesehatan fisik.

  2. Prekaritas Kerja: Banyaknya kontrak jangka pendek (freelance/outsourcing) membuat rasa aman terhadap masa depan menjadi rendah.

krisis polikrisis dari segi lingkungan, politik, dan ekonomi: Gen Z memikul beban pikiran global. Isu perubahan iklim, inflasi yang tidak sebanding dengan gaji, hingga ketidakstabilan politik global masuk ke beranda ponsel mereka setiap detik. Ini disebut dengan eco-anxietyatau kecemasan eksistensial.

gejala burnout yang sering terabaikan

Banyak anak muda tidak menyadari mereka sedang burnout karena gejalanya sering dianggap sebagai "malas" atau "kurang disiplin":

  1. Sinisme terhadap Pekerjaan/Kuliah: Merasa apa yang dilakukan tidak ada gunanya.

  2. Kelelahan Emosional: Merasa kosong bahkan setelah tidur 8-10 jam.

  3. Penurunan Efikasi Diri: Merasa tidak kompeten meskipun memiliki prestasi yang cukup.

Solusi melawan arus dengan slow living dan batasan digital 

Untuk mengatasi ini, pendekatan konvensional seperti "ambil cuti seminggu" sering kali tidak cukup. Diperlukan perubahan struktural dalam gaya hidup:

  1. Digital Detox Terjadwal: Mematikan notifikasi setelah jam 7 malam untuk memutus siklus perbandingan sosial.

  2. Re-definisi Kesuksesan: Menyadari bahwa hidup bukan perlombaan lari cepat (sprint), melainkan maraton. Kesuksesan tidak harus dicapai sebelum usia 25.

  3. Mencari Bantuan Profesional: Menghilangkan stigma bahwa pergi ke psikolog hanya untuk "orang sakit".

Burnout sebelum usia 25 tahun pada Gen Z adalah alarm bagi sistem kerja dan pola komunikasi kita saat ini. Kita sedang menghadapi generasi yang paling terinformasi dalam sejarah, namun juga yang paling rentan terhadap tekanan mental akibat informasi tersebut.

FAI-32 

sumber referensi 

Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey

American Psychological Association (APA) - "Stress in America"

World Health Organization (WHO)

Journal of Adolescent Health