Bagi generasi sebelumnya, istilah self-love atau cinta diri mungkin sering dianggap sebagai bentuk narsisme atau sekadar memanjakan diri dengan pergi ke spa. Namun, di tangan generasi z, konsep ini mengalami pergeseran makna yang sangat radikal.
Cinta diri bukan lagi tentang "apa yang saya beli untuk merasa senang," melainkan "bagaimana saya menetapkan batasan agar tetap sehat secara mental."
Dari estetika menuju otentisitas
Dahulu, media sosial dipenuhi dengan standar kecantikan yang tidak realistis. Gen Z melakukan perlawanan terhadap hal ini melalui gerakan Body Neutrality (Netralitas Tubuh).
Berbeda dengan body positivity yang memaksa kita untuk selalu merasa "cantik," netralitas tubuh mengajarkan bahwa tubuh kita adalah kendaraan untuk menjalani hidup, bukan sekadar objek untuk dipandang. Fokusnya bergeser dari penampilan luar ke fungsi dan kesehatan internal.
Batasan sebagai bentuk tertinggi cinta diri
Salah satu kontribusi terbesar Gen Z adalah normalisasi kata "Tidak". Dalam pandangan baru ini, mencintai diri sendiri berarti:
Memutus hubungan toksik: Baik itu dengan teman, pasangan, atau bahkan anggota keluarga.
Work-Life Balance: Menolak budaya hustle (gila kerja) yang membanggakan kelelahan sebagai prestasi.
Perlindungan Energi: Memahami bahwa energi mental adalah sumber daya yang terbatas.
Digital minimalism dan kesehatan mental
Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh besar dengan algoritma. Mereka menyadari bahwa cinta diri di era digital berarti berani melakukan Digital Detox. Menghapus aplikasi yang memicu kecemasan atau melakukan unfollow pada akun yang membuat mereka merasa "kurang" adalah tindakan nyata dari self-love.
Menghapus stigma kesehatan mental
Bagi Gen Z, pergi ke psikolog atau berbicara terbuka tentang kecemasan bukan lagi hal yang memalukan. Mereka melihat perawatan kesehatan mental setara dengan pergi ke gym untuk kesehatan fisik. Mengakui kerentanan (vulnerability) dianggap sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Mengapa pandangan ini berbeda?
fokus utama : Pandangan lama (pemuasan materi atau hiburan) pandangan baru (kesehatan mental dan emosional)
Citra diri: Pandangan lama (berusaha memenuhi standar sosial) pandangan baru (merangkul keunikan dan kekurangan)
Kerja: Pandangan lama (kerja keras sampai lelah adalah mulia) pandangan baru (kesehatan mental di atas karir)
Hubungan: Pandangan lama (mempertahankan hubungan demi harmoni) Pandangan baru (menetapkan batasan demi ketenangan)
Generasi Z telah mengubah wajah self-love dari sekadar tren gaya hidup menjadi sebuah alat bertahan hidup di dunia yang semakin bising. Cinta diri versi mereka adalah tentang kejujuran pada diri sendiri, keberanian untuk menetapkan batas, dan pengakuan bahwa kita berharga tanpa harus membuktikan apa pun kepada dunia.
FAI-32
sumber referensi :
Deloitte Consumer Insight (2025)
Pew Research Center
Journal of Adolescent Health
American Psychological Association (APA)
