Selama puluhan tahun, istilah "sudah nasib" atau "memang watak keluarga" sering menjadi tameng untuk menormalisasi perilaku toksik di rumah. Namun, di tangan Generasi Z (Gen Z), narasi ini mulai runtuh. Mereka tidak lagi melihat trauma sebagai warisan yang harus diterima, melainkan sebagai rantai yang harus diputus.
warisan yang tak terlihat adanya trauma intergenerasi
Sebelum kita membahas peran Gen Z, kita perlu memahami apa yang mereka lawan. Trauma Intergenerasi adalah pola perilaku, kecemasan, dan mekanisme koping maladaptif yang diwariskan dari orang tua ke anak.
Pola Klasik: Orang tua yang dididik dengan kekerasan cenderung menganggap kekerasan adalah bentuk disiplin yang sah.
Dampaknya: Anak tumbuh dengan rasa tidak aman (insecure), kesulitan regulasi emosi, atau justru menjadi pelaku baru di masa depan.
generasi z sebagai generasi pemutus rantai
Gen Z memiliki karakteristik unik yang membuat mereka mampu mengambil peran sebagai penyembuh keluarga:
Literasi Kesehatan Mental yang Tinggi: Berkat akses informasi di media sosial, istilah seperti gaslighting, boundaries, dan inner child bukan lagi bahasa asing. Mereka mampu mengidentifikasi masalah yang dulu dianggap "normal".
Keterbukaan Emosional: Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjunjung tinggi tabu, Gen Z lebih berani membicarakan perasaan dan mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater).
Nilai Empati di Atas Otoritas: Mereka cenderung mempertanyakan hierarki keluarga yang kaku jika itu merusak kesehatan mental.
langkah nyata generasi z dalam memutus rantai trauma
edukasi orangtua: mengenalkan konsep kesehatan mental kepada orang tua secara perlahan, meski sering terjadi benturan nilai.
menetapkan batasan : berani mengatakan 'tidak' pada tuntunan keluarga yang tidak sehat
reparenting self: proses menyembuhkan diri sendiri dengan memberikan kasih sayang pada 'anak kecil' dalam diri sendiri mereka yang dulu terluka.
memilih pola asuh baru: bagi generasi z yang mulai berkeluarga, mereka secara sadar memilih metode gentle parenting untuk memastikan trauma tidak berlanjut ke generasi Alpha.
tantangan menjadi domba hitam
Peran ini tidak mudah. Seringkali, Gen Z yang mencoba membawa perubahan justru dianggap sebagai anak yang membangkang atau "terlalu sensitif". Menjadi cycle breaker berarti siap menjadi sosok yang berbeda di tengah keluarga yang belum siap untuk berubah. "Memutus rantai trauma bukan berarti membenci orang tua, melainkan memilih untuk tidak meneruskan rasa sakit yang mereka berikan kepada kita."
Generasi Z bukan sekadar generasi yang vokal di media sosial. Mereka adalah pionir yang sedang melakukan eksperimen sosial besar-besaran: bisakah sebuah keluarga sembuh dari luka masa lalu? Dengan keberanian untuk menghadapi trauma, mereka sedang membangun fondasi bagi generasi mendatang agar tumbuh di lingkungan yang lebih aman dan penuh kasih.
FAI-32
sumber referensi :
American Psychological Association (APA)
Journal of Child and Family Studies
Pew Research Center
Teori Attachment (John Bowlby)
